Yang Terdalam

Sudahlah Toyib, percuma kau kembali
Aku sudah begitu terluka
Dulu mungkin cinta itu buta, masih bersabar menunggu
Tapi kini membatu.

Aku sudah lupakan, sudah maafkan
Maka pergilah

Kau tak akan mampu menyelam ke palung terdalam
Riak ombak sudah terlalu menggembirakanmu

Toyib, saat ini kau hanya cerita fiksi
Fiksimini mungkin
Sejak kau kembali dan biarkan jendela itu memerah lagi

Dari aku yang menunggumu
Hanya untuk kehilangan nyawaku.

Terinspirasi dari Judul lagu Peterpan “Yang Terdalam” dan Fiksimini buatan sendiri saat #fmidol6

Si Buta dan Si Bisu

Si buta dan si bisu
Duduk berdekatan
Saling menunggu

Ah, indahnya rindu
Tanpa perlu dilihat
Ataupun diucap

Indahnya cinta
Tanpa bertatap
Dan mengungkap

Penuh hati oleh rasa
Cinta sungguh maha dahsyatnya
Ruang rindu tempat bertemu
Antara si buta dan si bisu

Terinspirasi dari salah satu Fiksimini favorit saya karya Ade Yusuf – @sibangor
RUANG RINDU – Si buta dan si bisu duduk berdekatan. Saling menunggu.

Kalam dan Kata

Tuhan, lahirkan aku pada suatu bumi di mana di sana banyak bahagia
Di mana aku dinanti oleh satu keluarga tanpa duka atau cela

Lalu aku menetas dari sebuah telur yang terletak di atas jerami hangat dengan paruh kecil yang siap menyuapi makanan

Aku mencicit dan terbang,
Meraung-raung
Ini tak seperti yang kuinginkan
Aku ingin lebih sempurna meski tanpa sayap

Lalu Tuhan menjadikanku pohon apel yang menaungi sebuah rumah
Di mana kulihat ibu dan ayah menanti anak-anak mereka
“Tuhan berikanlah kami keturunan” mereka berdoa

Lihat! Lihat Tuhan!
Mereka menginginkanku,
Jadikan saja aku putra mereka
Dengar Tuhan! Kabulkan!

Pecahlah tangis anak manusia
Di suatu malam pekat tanpa cela
Disambut oleh suka cita
Serta cinta dari satu keluarga

Tuhan, Tuhan!
Mengapa kau lahirkan aku tanpa kedua tangan?
Di keluarga miskin dan kekurangan gizi?
Kubilang tanpa duka dan cela, Tuhan!

Ia tersenyum, lalu berkalam
“Sebaik-baiknya makhluk, adalah manusia. Sempurna jiwanya, sempurna akalnya.”

Can’t You See?

I’m a girl, staying in a castle
Surrounded by the pillar
Wrapped by the naked skin

The commoners call me lady
But I felt nobody

Can’t you see?
My soul needs to get free
But my body imprisons me

How poor you are
Who think that beauty is the only
Diamonds are the purely

Can’t you see?
Happiness is so simply
As long as you can full fill your stomach with some spicy
And your life with the lovely

Oh, Lord
I wanna break free
Like a bird from the broken birdcage
Leave all my bored life and find the new tree

Can’t you see?
I’m an angel without the wing
Miss the grass and the spring
Feel the wind and then breathing

But this life like only crook
Such a bed or the red carpet
Give the pain and the damned lust
And cursed me as the prettiest slut

Hari Ini di Keranjang Belanja

Hari ini di keranjang belanja,
Kita temukan jengkol, petai dan udang
Dua yang pertama kesukaanmu,
Sedang yang terakhir favoritku

Seperti kita yang terkadang saling rajuk karena situasi yang tak sesuai,
Aku mabuk oleh bau pesing,
Engkau alergi dengan si udang

Lalu munculah mangga, durian dan alpukat

Dua yang pertama hanya ada ketika musimnya
Sedang yang terakhir seperti selamanya

Buah mangga yang kuidamkan, ternyata sulit ditemukan
Juga durian yang kau larang, ternyata pernah kau makan sendiri diam-diam

Lalu si alpukat adalah penengah yang baik untuk kita sayang…
Tanpa perlu diidam-idamkan dan sembunyi diam-diam

Begitulah kehidupan,
Kadang seperti jengkol dan petai
Tak kusuka tetapi tetap kuhidangkan

Kadang juga seperti udang,
Membuatmu gatal tetapi sedikit-sedikit tetap kau santap

Kehidupan juga sering seperti mangga,
Diidamkan tetapi sulit dicapai,

Lain waktu kehidupan berubah seperti durian,
Kita sukai tetapi hanya kau yang menikmati

Atau menjadi seperti alpukat,
Kita nikmati bersama, dengan bayi kita, yang bernama bahagia.

Jengkol, petai, udang, mangga, durian dan alpukat
Mana yang akan kita pilih?

Hari ini di keranjang belanja,
Kita memilih masing-masing kesukaan, tanpa perlu kehilangan rasa.

LDR

Tertawa geli menatap muka di cermin
Mematut-matut bibir merah dengan gigi kuning
Hanya gara-gara dering telepon sepagi ini
Kakiku berjingkrak-jingkrak tak mau henti

Di ujung telepon kau berkata “Aku akan tiba satu jam lagi”

Kupilih gaun terbaik yang baru kubeli
Memoles bedak dan perona pipi
Lalu maskara tanpa bulu mata
Katamu aku lebih cantik bila sederhana

Bunyi ketukan pintu membuatku menghambur
Melayang anggun menuruni tangga
Kutarik napas sedalam-dalamnya
Membuka daun pintu lebar dan berlembar-lembar

Tuntas juga rinduku yang menggebu
Engkau sudah berdiri di hadapanku
Kutunggu ciuman yang memburu
Entah mengapa kau malah ambil langkah seribu

Tertawa geli menatap muka kusut di cermin
Mematut-matut bibir merah dengan gigi kuning
Hanya gara-gara dering telepon sepagi ini
Kakiku berjingkrak-jingkrak tak mau henti

Di ujung telepon kau berkata “Jangan lupa mandi pagi”