Syukur Ala Jono

Jono menggeliat di kasur. Masih pukul tiga sore, artinya masih tiga jam lagi buka puasa.

“Ngabuburit aja kali yah?” Pikirnya sambil membolak-balik badan di kasur.

Nasib anak kostan seperti dirinya adalah tidak ada yang peduli apakah tadi pagi dia sahur, hari ini puasa, atau punya cukup tajil untuk berbuka puasa.

Terbayang di benak Jono, saat emak berkata “Bersyukur, Jon… Bersyukur!” Ah, emak. Jono jadi rindu dengan nasihat emak dan tentu saja masakan emak yang tiada dua lezatnya.

Glek! Jono menelan ludah, teringat dengan es durian yang dihidangkan emak di sore itu. Astagfirullah, Jono! Ia men-self-toyor kepalanya sendiri. ‘Berkurang pahala puasa gue’ gumamnya. Tapi dalam hati tetap bersyukur, sisa pahala puasanya masih banyak.

Jono melangkah ringan keluar dari kamar kostannya, berburu tajil. Ada cendol, gorengan, kolak…

Memang bersyukur itu indah! Bisiknya dalam hati, bahagia.

***

“Allahuakbar, allahuakbar!”
Sayup-sayup terdengar suara azan berkumandang. Jono mengucek matanya. Membesarkan bola mata untuk mengecek jam dinding di sudut kamar. Ah, buka puasa!

Girang, dibukanya tudung saji di atas meja, tak sabar melahap tajil yang tadi dibelinya. Senyumnya habis seketika. Tak ada satupun makanan di sana. Kolak, gorengan, cendol ternyata hanya di mimpi!

“Emaaakkkk!!!” Teriaknya histeris.

“Bersyukur Jono, bersyukur!” Kembali terngiang kata-kata emak.

Dengan mata berkaca-kaca, di hati ia menggerutu, ‘Syukurin lu Jono! Syukuriiiinnn!’

Advertisements