#Day14: Our Last Day in Guru Pembelajar

Hari ke sepuluh pelatihan!
Guru Pembelajar? Selalu belajar! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Selesai akhirnya 🙂 dan dari pengumuman Kelas B LULUS SEMUA! Yeay!

Pulang dari sini punya tanggung jawab yang berat alias menantang yaitu membantu rekan-rekan guru lainnya supaya nilai UKG-nya (Uji Kompetensi Guru) meningkat. Kalau tahun 2015 kemarin pemerintah hanya menetapkan nilai UKG minimal 5,5 di tahun ini diharapkan bisa meningkat jadi 65.

Saya sih grogi sebenarnya kalau harus ngajarin senior senior di pelatihan, secara mereka lebih banyak ilmu. Entah itu ilmu pedagogik ataupun profesional pastilah lebih banyak tahu. Sedangkan saya kebenaran aja dapat anugerah luar biasa bisa ikut pelatihan instruktur karena nilai UKG mencukupi syarat. Padahal ketika datang ke TKP bengong bin bingung, “ini pelatihan apa sih Guru Pembelajar?” Soalnya dari sekian banyak pelatihan biasanya ga jauh jauh dari kurtilas (Kurikulum 13). 😀

Semoga saja ya nanti dimampukan oleh-Nya, biar kegiatan pelatihannya di Bengkulu lancar jaya. Sekarang sih belum ada jadwal pelatihannya, jadi masih fokus ama anak di rumah dan di sekolah. Pokoknya sebagai guru harus banyak belajar lagi, lagi, lagi dan lagi! Banyak cara meningkatkan kompetensi guru, ga cuma di nilai UKG aja. Bisa bikin karya tulis, penelitian ilmiah, inovasi pembelajaran, nulis blog curcol kayak saya , media pembelajaran, ikutan Olimpiade Guru Nasional (OGN), ikut kelas TOEFL dan Bahasa Inggris gratisan (hehehe) dan lain-lain…

Satu lagi, maaf ini seharusnya diposting di hari ke sepuluh pelatihan (tanggal 24 Juli) akan tetapi karena waktu dan tenaga yang terbatas jadilah di-publish hari ini. Selain itu seharusnya proyek 30 Hari Nulis Random udah selesai ya karena udah lewat dari tanggal 18 Juli, tapi berhubung saya yang punya proyek ya dilanjutkan ajalah biar tetap semangat nulis. 🙂

Oya, terus kabarnya Mas Menteri Pendidikan kena reshuffle? Nah, bakalan ada cerita apalagi ya di dunia pendidikan Indonesia?Just wait and do the best. Merdeka!

Advertisements

#Day13: Guru Pembelajar

Hola!
Sudah baca post hari ke-duabelas? Tentang saya yang galau karena mau pelatihan? Kalau belum baca dulu boleh lah ya…
Hari ini ceritanya tentang pelatihan Guru Pembelajar aja deh. Sekalian review kegiatan hari ini. Tadi kita belajar tentang Guru Pembelajar, yaitu guru yang selalu belajar. Di Juknisnya ada sih penjelasan rinci, tapi cukup itu aja ya yang ditulis di sini soalnya ga hapal :p
Artinya, sebagai guru kami diharapkan dapat selalu belajar untuk meningkatkan kompetensi kemampuan agar menjadi makin baik sesuai dengan standar yang diharapkan pemerintah.

Pelatihan ini sendiri tujuannya melatih para guru yang telah terpilih untuk menjadi instruktur guru pembelajar dimana nanti apabila sudah kembali ke daerah asalnya dapat menularkan ilmu yang didapat kepada teman-teman guru lainnya.

Adapun beberapa materi tentang Guru Pembelajar yang sudah dipelajari selama dua hari pelatihan ini adalah,
1. Guru Pembelajar Moda Tatap Muka (Luring: Luar Jaringan)
Yaitu fasilitator (instruktur) bertatap muka langsung dengan peserta (guru). Jenis GP moda tatap muka terbagi lagi menjadi,
a. Tatap Muka Penuh
Artinya fasilitator melakukan pelatihan GP selama 60JP (untuk guru mapel, dll) atau 100JP (untuk kejuruan) dengan peserta menggunakan moda tatap muka sesuai jadwal secara terbimbing. (Face to face)
b. Tata Muka IN-ON-IN (tidak penuh)
Yaitu moda tatap muka yang dilakukan dengan kombinasi antara tatap muka langsung (IN) dan tugas mandiri (ON)
c. Tatap Muka dalam kegiatan kolektif guru
Kegiatan pelatihan GP dapat dilakukan pada forum MGMP, KKG atau kelompok pengembangan kompetensi guru lainnya.

2. Guru Pembelajar Moda Daring (Dalam Jaringan)
Yaitu fasilitator (instruktur) berinteraksi dengan peserta (guru) secara online (dalam jangan). GP moda daring ini juga terdiri dari,
a. Moda Daring Penuh
– Moda daring 1 (interaksi hanya pada pengampu dan peserta)
– Moda daring 2 (interaksi daring antara pengampu, fasilitator dan peserta
b. Moda Daring Kombinasi (terdapat dua moda sekaligus, tatap muka 12 JP dan daring 48 JP)

Selain dua moda pembelajaran tersebut di atas (tatap muka dan daring) hari berikutnya kami juga mempelajari tentang karakteristik belajar orang dewasa atau disebut dengan andragogi, bahwa pada dasarnya karakter belajar orang dewasa itu biasanya gampang lupa, lamban, tidak mau disalahkan, ingin dihargai, dan lain-lain. Hal ini penting untuk kami pelajari sebab nantinya kami akan berinteraksi kepada peserta yang merupakan seorang guru.

Setelah mempelajari tentang Andragogi, di pertemuan berikutnya kami mempelajari tentang literasi TIK. Mengenal tentang software yang dapat digunakan dalam pembelajaran serta sedikit mengenal tentang fitur-fitur yang terdapat pada web Guru Pembelajar.

Nah, hari senin 18 Juli, kami mulai masuk ke pembahasan modul (kelompok kompetensi). Ada sepuluh kelompok kompetensi (KK), yaitu KKA s.d. KKJ. Setiap KK terdiri dari dua modul tentang pedagogik dan profesional. Pedagogik menjelaskan tentang pembelajaran, penilaian, dll sedangkan profesional berisi tentang materi mata pelajaran yang diampu. Tugasnya cukup berat, karena setelah beberapa hari berada dalam kelompok besar (10 orang/kelompok) kami dibagi menjadi kelompok kecil (4 orang) dan membahas mengenai kesepuluh kelompok kompetensi. Setiap KK memiliki banyak materi dan submateri yang harus kami presentasikan setelah kami diskusikan bersama. Alhamdulillah pada hari ini selasa 19 Juli presentasi semua kelompok selesai dan presentasi kelompok saya berjalan sukses. Horray!

Besok, kami bakalan berkenalan dengan modul moda daring. Semoga ga makin tepar sebab nantinya tiap kelompok akan mendapatkan dua modul. Sehat terus dan semangat! Guru Pembelajar, selalu belajar! Yes, yes, yes, yes, yes!

#Day12: Tolong, Nak! Ibumu Galau…

Saya sama Andara sejak dalam kandungan ke mana-mana selalu bareng, sampai DIA lahirpun Andara selalu dibawa kemanapun pergi. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu seperti pelatihan guru yang memang tidak memungkinkan membawa anak serta. Padahal ke sekolahpun kadang Andara di bawa :D. Biasanya, sih pelatihan hanya dalam kota Bengkulu aja dan Andara pasti saya titipkan di tempat yang paling dekat dengan tempat pelatihan. Untungnya tempat pelatihan guru selama ini biasanya di LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pembelajaran) yang lokasinya dekat dengan rumah mama saya, kira-kira sepuluh menit sampai. Jadi, setiap kali pelatihan di jam istirahat bisa pulang sekadar untuk ngasih ASI atau MPASI. Capek dikit ga apa-apalah yang penting dua-duanya bisa jalan. Pun, ketika Andara sudah dua tahun, sudah bisa disapih. Saya tetap menyempatkan pulang liat dia, nyuapin makan atau sekedar peluk-peluk lepas kangen. Rasanya kok kalau pisah lama kangennya kebangetan? Hehehe…

Nah, cerita galaunya ketika di bulan puasa barusan saya mendapatkan informasi dari DisDikBud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) Kota Bengkulu kalau nama saya tercantum sebagai salah satu peserta pelatihan guru di ibukota. Lamanya pun lumayan bikin galau, sepuluh hari! Duh, rasanya langsung campur aduk, senang sekaligus khawatir. Gimana kalau suami ga ngizinin? Terus kalau suami ngizinin, gimana dengan Andara? Masa ditinggal? Awalnya, saya dan suami sepakat kalau Andara tetap saya ajak ke Jakarta, dengan catatan dia dititipkan di rumah kakak. Kakak sama istrinya sih ga keberatan dititipin, tapi yang ditakutin kalau Andara nangis nyari ibunya dan di rumah hanya ada istri kakak dan anaknya yang masih setahun enam bulan. Ditambah lagi istrinya sedang hamil muda, tentu ga bisa terlalu capek. Akhirnya kami diskusi lagi dengan membandingkan beberapa alternatif pilihan, yang pertama Andarw di ajak ke Jakarta dengan satu orang pengasuh menginap di hotel atau rumah penduduk di sekitar hotel. Kedua, Andara di ajak ke Jakarta dengan satu orang pengasuh dan menginap di rumah kakak. Ketiga, Andara tidak dibawa ke Jakarta. Masalahnya lagi untuk dibawa atau tidaknya Andara tetap saja dibutuhkan pengasuh. Sedangkan kami sudah tidak menggunakan pengasuh lagi sejak Andara usia satu tahun alias ketika ia sudah bisa jalan. Ditinggalkan saja berdua sama bapaknya ya ga mungkin karena bapaknya harus kerja, bahkan kadang lembur. Mau dititipkan ke rumah datuknya (papa saya) tempat dia biasa main kalau saya sekolah juga ga mungkin karena bertepatan dengan tanggal pelatihan tersebut datuk dan neneknya bulan madu ke-lima belas di Merauke. Tiket pun sudah dibeli dan jadwalnya sudah tidak bisa digeser lagi. Akhirnya alternatif terakhir dititipkan di rumah Neknangnya (papa mertua). Tetapi, keduanya pun masih bekerja kantoran sehinggga tidak mungkin setiap hari merhatiin Andara. Saya coba hubungi adik ipar yang bungsu, teman mainnya Andara (mereka kompak banget). Eh, dianya mau PKL ke luar kota di tanggal yang sama pula. Padahal, awalanya saya berinisiatif membawa mereka berdua ke Jakarta. Ah, jalan buntu lagi. Dipikir-pikir, akhirnya ada titik terang. Ada adik ipar satu lagi yang kebetulan sedang mudik dari kuliahnya di Jogja. Saya konfirmasi dong tanggal kepulangan dia ke Jogja. Alhamdulillah dia balik ke Jogja sekitar awal bulan agustus. Pas, dengan jadwal pelatihan yang hanya dari tanggal 15-24 Juli 2016. Hmm… galaunya lagi nih mau bawa mereka berdua ke Jakarta. Sedangkan di tanggal segitu arus balik dari mudik lebaran sedang tinggi. Pastilah harga tiketnya selangit. Mikir banget biaya tiket untuk dua orang PP pastilah sangat menguras tabungan yang ga seberapa. Belum lagi mikirin penginapan mereka, mau dibawa ke hotel ga kuat bayarnya sampai sepuluh hari, cari perumahan warga di sekitar hotel juga bukan perkara mudah, mau diinapkan di rumah kakakpun percuma kalau saya juga ga bisa PP dari rumahnya ke hotel. Bisa habis waktu di jalan. Antara Jakarta Barat dan Tangerang butuh waktu yang lumayan kalau ditempuh bolak balik.

Huhuhu… Setelah pertimbangan yang matang dan diskusi yang panjang dengan suami dan keluarga lainnya, sepertinya saya emang harus pisah sementara sama Andara. Artinya, saya ke Jakarta bareng rombongan aja tanpa Andara. Padahal DIA kalau dengar kata ‘Jakarta dan pesawat’ pastilah mau ikut. Benar aja ketika saya ngobrol santai dengan DIA, ngomongin masalah ibu yang mau ke sekolah naik pesawat ke Jakarta. Dia langsung merengek mau ikut. Ibunya ga dibolehin pergi ke mana-mana dan dia jadi lebih rewel serta manja lebih dari biasanya. Butuh waktu sekitar setengah bulan untuk meyakinkan dia kalau saya berangkat ke Jakarta untuk sekolah (belajar) bukan mau jalan-jalan ke mall seperti biasanya. Hingga di beberapa hari menjelang keberangkatan DIA mulai mengerti dan bertanya-tanya kapan ibunya mau sekolah di Jakarta dan naik pesawat? Kok ibu ga sekolah sekolah? Hahaha rasanya kok malah jadi aneh, ibunya seperti diusir biar pergi. Tapi bersyukur juga sih, jadi tenang mau ninggalin dia sama aunty, neknang, nenekneknang, dan bapaknya. Dia siap kalau ibunya sekolah di Jakarta, dia mau salaman ketika ibunya pamit pergi ke bandara, bahkan dia ngomong kalau mau ikut nganterin ibunya ke bandara dan janji ga bakal nangis. Hanya saja bapak ibunya yang khawatir kalau dia bakal nangis ketika di bandara liat ibunya ‘diculik’ rombongan guru. Padahal sebenernya saya pengin banget diantar DIA, peluk peluk DIA di bandara, di say good bye dan dikasih kiss bye sama DIA seperti  ketika bapaknya yang harus dinas luar. Ah, pokoknya baper deh. Ya sudahlah, akhirnya saya pamitan sama dia di rumah neknangnya aja. Anaknya karena udah sering dikasih tau kalau ibunya mau sekolah di Jakarta juga asik asik aja. Malah nonton televisi, kartun Upin Ipin. Pake acara ngakak lagi…

Heu.. ibu sekolah dulu ya, nak. Jadi anak pintar, makannya yang banyak, giginya disikat, mainannya disusun lagi kalau udah main, dan satu lagi tolong jaga bapak ya? Hahahaha…
Doain ibumu ya, Nak? Biar lulus pelatihan guru pembelajarnya, jadi perjuangan ninggalin kamu sepuluh hari ga sia-sia. Semangat! Sayang kalian berdua :*

n.b. happy wedding anniversary buat kita, Kekasih Terhebat akuh… tepat tanggal 15 Juli, lima tahun yang lalu… love you more, dear!