Kisah Kibi Sang Kepiting Raksasa

Dulu, di pantai yang berpasir putih hiduplah seekor kepiting raksasa yang sombong bernama Kibi. Ia adalah nenek moyang dari kepiting di zaman ini. Kibi sangat membanggakan dirinya karena memiliki badan yang besar dan kuat, capit yang tajam dan berlari sangat cepat. Bahkan ia mampu menyelam ke lautan selama berjam-jam tanpa lelah.

Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Kibi selalu berolahraga setiap pagi. Otot-otot dari sepuluh kakinya terlihat sangat kokoh, tubuhnya yang besarpun terlihat menakutkan bagi hewan yang lain. Sudah banyak hewan lain yang menantangnya karena tak tahan dengan kesombongan Kibi. Tetapi tak satupun dari mereka berhasil mengalahkannya.

Bahkan Kara, si kura-kura berpunggung tebal sudah dikalahkannya dalam berbagai pertandingan duel. Mulai dari berenang, adu kekuatan dan yang terakhir berlari. Tentu saja Kara kalah telak. Badannya yang besar tak cukup kuat melawan Kibil si raksasa berotot. Belum lagi Kara tak bisa berjalan cepat apalagi berlari menyusul Kara yang sangat gesit.

Lain waktu, gerombolan ikan yang menantang Kibi. Si ikan memang menang saat lomba menyelam, tetapi tak mampu mengikuti kepandaian Kibi yang mampu berlari cepat dan berbadan kuat. Bahkan ada seekor ikan yang mencoba menantang berlari, akibatnya ia hampir mati karena tak berada di dalam air.

Sehingga sejak itu tak satupun hewan laut yang berani menantang Kibi. Sebab mereka tahu, kekuatan dan kecepatan berlari Kibi tak ada yang bisa menandingi. Mereka juga sadar bahwa mereka tak bisa hidup di darat seperti Kibi.

Hari demi hari sifat sombong Kibi makin menjadi. Ia mulai bertingkah bak seorang raja. Segala sesuatunya minta dilayani. Ikan-ikan kecil di lautan ketakutan karena Kibi selalu mengincar mereka sebagai makanan. Kura-kura pun diperlakukan layaknya budak, punggungnya kerap kali dijadikan meja untuk meletakan berbagai hidangan untuk Kibi.

Akhirnya karena tak tahan para penghuni pantai dan laut menemui burung camar yang bijak. Mereka menceritakan tingkah Kibi yang keterlaluan.
“Sekuat apa dia? Sebesar apa badannya? Secepat apa larinya?” Tanya si Camar.
“Dia kuat bagai batu karang, tubuhnya besar seperti kambing, larinya cepat seperti singa dan dia mampu jauh menyelam ke dasar samudra” jawab para hewan laut.
Camar mengangguk-angguk tanda mengerti. Tentu tak mungkin harus mencari bala bantuan di hutan yang jauh untuk memberi pelajaran pada Kibi. Sementara persoalan ini harus segera dituntaskan.

“Baiklah, aku sendiri yang akan menantangnya besok” jawab Camar.

Keesokan harinya, camar sudah berhadapan dengan Kibi. Disaksikan penghuni laut dan pantai, mereka bertanding.

Diawali dengan adu kekuatan. Kibi tertawa terbahak-bahak melihat camar yang bertubuh kecil. “Kau serang aku duluan” tantang Kibi. Tanpa basa-basi Camar langsung mematuk mata Kibi hingga terluka. Kibi berteriak kesakitan, ia kesulitan melihat. Hingga waktu usai ia tak kunjung bisa memukul Camar dengan capitnya. Masih dengan sakit yang luar biasa, Kibi menantang camar menyelam. Apa yang terjadi? Mata Kibi yang terluka sangat perih terkena air laut yang asin. Ia tak bisa melanjutkan perlombaan menyelam.
“Satu perlombaan lagi, lari!” Tukas Kibi. “Kau sudah kalah di dua pertandingan Kibi. Apa hukumannya untuk yang kalah?” Tantang Camar. “Kau boleh menghukum apa saja, tapi jika diperlombaan ini aku menang, kau harus menyediakan makanan untukku setiap hari” balas Kibi. Camar menyanggupi.
Kibi mulai berlari, larinya sangat cepat meski matanya masih perih. Camar tak mau kalah, ia terbang serendah mungkin dari pasir sehingga terlihat berlari. Tentu saja Camar berhasil memenangkan pertandingan.

Kibi tertunduk malu. Ia mengakui kekalahannya. “Sekarang apa hukuman untukku?” Tanya Kibi. “Kau harus tinggal di lubang pasir selamanya untuk bersemedi meminta ampun atas kesalahanmu” jawab Camar. Kibi pasrah ia menggali lubangnya sendiri, berdiam di sana selama bertahun-tahun. Makin lama badannya makin mengecil karena tak makan dan tak pernah berolahraga. Hingga menyusut seperti ukuran telapak tangan. Kibi sadar akan kesalahannya selama ini. Dia tak ingin kembali menjadi kepiting raksasa yang sombong.

Sejak saat itu, semua keluarga kepiting berukuran kecil dan tinggal di lubang-lubang pinggiran pantai. Mereka selalu berlari dan sembunyi ketika melihat burung camar, karena malu atas tingkah nenek moyangnya dulu yang terlalu angkuh dan sombong.