Cut!

“Kau yakin mau melakukannya?”

“Hanya bila kaupun mau menikah denganku Lana, aku takkan menyerah.” Ucapku.

Tanganku merengkuh pundaknya, ia terlelap di pelukku.
‘Akankah ini yang terakhir?’
***

“Kau tahu? Belum pernah aku merasa sebebas ini.” Ucapnya.

“Itu karena kau menjadi dirimu sendiri, Lana.”

Ia mengangguk seraya berkata, “Tante Indri… Ia yang banyak membantuku.”

Aku mengangguk setuju, istri Om Damri itu sungguh berjasa. Kalau tidak manalah mungkin kami berdua bisa menikah?

Istriku, Lana mengelus perutnya yang mulai membesar. Aku memeluknya erat, memberikan segenap cinta padanya.
***

“CUT!”

Suara sutradara bergema di telinga kami. Para crew bertepuk tangan riuh.

Syuting selesai, Lana mengeluarkan buntelan dari balik bajunya memeluk erat kekasihnya, Damri.

Aku, kembali menjadi pemuda tampan berstatus single.

Semoga hari ini Indri mau kuajak kencan. 😉

Advertisements

Tunggu di Situ, Aku sedang Menujumu!

‘Terlalu cepatkah kukatakan itu semua?’

Lana bahkan tak mampu menjawab. Ia diam beribu bahasa, sampai aku pamit pulang dan berkata, “Aku menunggu jawabmu, Lana.”

***

“Tunggu di situ, aku menujumu!” Pintaku pada Lana.

Aku menemukan rumahnya kosong, ternyata ia di terminal menuju kembali ke desanya. Entah apa yang ia cari, restukah?

***

Aku mendapatinya duduk di kursi ruang tunggu penumpang.

“Mengapa kau pergi, Lana?” Tanyaku.

“Aku tak tahu, Bi. Aku ingin menerima lamaranmu, tapi…”

“Orangtuamu tak setuju?” tebakku.

“Aku akan menikah dengan Om Damri!”

“Kau akan jadi isteri kedua?”

“Ya, Bi. Besok lamarannya.”

“Lana, tolong! Pilihan hatimu kah?”

“Aku sudah janji dengan istri Om Damri. Penyakitnya semakin parah, ia tak mampu berperan sebagai istri lagi.” Lana tersedu.

Pikiranku kacau, masih bisakah ia kupertahankan?

Jangan ke Mana-mana, di Hatiku Saja

Untung belum terlambat! Aku dan Fito akhirnya bisa duduk nyaman di bangku penumpang.

Aku membayangkan mimpiku semalam,

‘Melamar Lana?’ Napasku terasa berat.
‘Mimpi itu seolah petunjuk untukku, haruskah aku segera melamarnya?’
***

Seolah De Javu bagiku saat bertemu Lana. Urutan peristiwa yang terjadi hampir semua sama kecuali bagian sebelum Lana memintaku melamarnya.

“Bi, kenapa?”

“Oh, eh kau suka parfum dan batiknya?”

“Suka.” Lana tersenyum memikat.

Ia bergeming di tempat duduknya.

“Kau, jangan ke mana-mana Lana.” Ucapku.

Ia mengerenyitkan keningnya tak mengerti.

“Maksudmu?”

“Iya, jangan ke mana-mana, di hatiku saja…” Bisikku nyaris tak terdengar.

“Kau masih juga gombal! Ku kira gombalmu sudah hanyut karena banjir Jakarta!” Ia terbahak dengan muka memerah.

“Bukan gombal, Lana. Will you marry me?”

Kali ini Lana yang tertegun lama…

Bangunkan Aku Pukul Tujuh

Aku tercenung.
Melamar Lana? Belum terpikir sama sekali olehku.

“Kau takut berkomitmen?” Tantangnya.

“Eh, bukan takut tapi… Lamaran harus dengan persiapan yang matang Lana, tak bisa sekali jadi.” Jawabku sambil memikirkan betapa ribetnya.

Apalagi kemarin aku sempat membaca di salah satu akun twitter mengenai impian lamaran para gadis. Ruwet!

“Aku tak memintamu melamar besok, Bi. Aku juga tak meminta gaya lamaran yang romantis.” Tukasnya lagi.

Aku seperti disudutkan. Bagai dihujam ribuan anak panah yang memaksaku segera berbuat sesuatu.

“Oke, besok bangunkan aku pukul tujuh.” Pintaku.

“Tentu. Apa kau akan menjawabnya besok?” Desaknya.

“Aku perlu bertemu orangtuaku, Lana.”

Ia tersenyum, mengangguk.
***

Pukul Tujuh Pagi

“Bi! Robi!” Tubuhku diguncang-guncang seseorang.

“Fito! Mana Lana?”

“Lana? Kau mimpi! Cepat bangun, pesawat kita take off pukul delapan!”

Menanti Lamaran

Hari ini Robi pulang, Lana pun sengaja izin dari kerja.

“Bi, kangen…” Songsong Lana.

“Aku juga,” Robi memberikan oleh-olehnya yang pertama.

“Berapa banyak aku berhutang kecupan rindu untukmu?” Tanya Robi. Lana menggeleng entah, seolah tak ingin menghitungnya.

“Oia, ini oleh-oleh kedua dan ketiga untukmu.” Robi memberikan beberapa bungkusan.

“Kau dapatkan semuanya, Bi?”
Mata Lana terbelalak.

“Kau suka aroma parfum dan batiknya?” Tanya Robi lagi.

“Biar ku coba.” Lana melesat ke kamar.
***
Mata Robi tak lepas dari Lana, bergetar tangannya menyentuh dan mencium harum tubuh gadis itu.
“Lana, kau tak keberatan kalau aku…” Robi menghentikan kata-katanya.

“Bi, kalau kau inginkanku lamar aku.” Bisik Lana.

Robi terkesiap, otaknya seolah berhenti bekerja.

“Aku serius.”

“Aku…”

“Aku tunggu lamaranmu, Bi. Jangan paksa aku berbuat terlalu jauh.”

Untuk Kamu Apa sih yang Enggak Boleh?

“Tapi banyakan nyebelinnya dari pada ngangenin”

“Boleh juga deh, yang penting kangen. Apa sih yang engga boleh buat kamu?” Robi cengengesan.

Lana mendengus masih kesal. Meski dalam hati ia mengakui kalau ia merindukan Robi.

“Bi, pulang kapan? Nanti beliin sepaket The Body Shop buat Na, ya?”

“Sekalian seperangkat alat sholat juga boleh, Na..”

“Bi, serius!”

“Iya, oke…”

Lana tersenyum senang, kesalnya perlahan mencair.

“Nanti kalau aku pulang, masakin makanan enak ya?”

“Kalau gitu oleh-olehnya nambah. Beliin batik juga.”

“Aduhhh… Dikasih hati minta semuanya.” Keluh Robi pura-pura.

“Ga rela ga usah, Bi.” Rajuk Lana.

“Aku usahain cari semuanya ya, Sayang.” Bujuk Robi.

“Ehm…”
Robi menoleh ke belakang. Ruangan meeting sudah penuh dengan orang-orang.

“Pak Robi, rapat segera dimulai!”

Di seberang sana, Lana tertawa terbahak.

Cintaku Mentok di Kamu

“Fito! Gue tau, handphonegue ketinggalan di ruang meeting! Robi mengguncang tubuh temannya yang sedang pulas itu.

“Lu yakin?”

“Yakin! Buruan kita berangkat meeting hari ini!”

“Lu mandi dulu deh kaya’nya. Gue mau lanjut tidur.” Fito menarik selimut, Robi ngacir mandi.
***
Lana membasuh tubuhnya dengan air. Segar sekali. Lumayan mengurangi kekesalan di hari kemarin. ‘Mungkin dia udah hanyut terbawa banjir!’ Rutuk Lana. Lantas mandi berlama-lama.
***
“Aaaahhh… Teleponnya ga diangkat-angkat! Pasti deh ngambeg! Duhhh…” Robi geregetan.
***
Lana melirik ke ponselnya yang di-silent, Robi!
“Halo? Lana! Sorry henpon gue.. Bla.. Bla..” Robi menjelaskan panjang lebar.

“Oh? Kirain udah hanyut sama orangnya kebawa banjir.” Ketus Lana.

“Sekalipun hanyut kena banjir, rasa gue ini tetap untuk kamu, Lana!”

“Lu nyebelin, Bi!”

“Tapi kangen…”

Bales Kangenku Dong!

Lana uring-uringan!

Seharian ini tak satupun pesan ataupun telepon dari Robi. Jelas-jelas ia sudah berjanji untuk menghubungi tiga kali sehari.

‘Tuut.. tuut.. tuut..’
Tak diangkat! Lana mencoba untuk kelima kalinya. Cukup sudah!
***

Sementara Robi dan teman sekantornya Fito tengah panik mencari keberadaan ponsel Robi yang raib entah ke mana?

“Kau yakin membawanya?”

“Tentu, terakhir sebelum berangkat aku masih sempat menelepon Lana.”

Robi mengacak-acak ransel dan kopernya. Setiap sudut kamar sudah ditelusuri. Nihil!

“Sudahlah, nanti kita cari lagi. Kau kabari pakai ponselku saja.” Tawar Fito.

“Tapi, To..”

“Ga perlu sungkanlah, habis pulsanya tinggal kau isi. Gampangkan?”

“Gue ga hapal nomornya…” Terang Robi memelas.
***

Lana pulang ke kediamannya mendapati ponsel yang sengaja ia tinggalkan semalaman tak menunjukkan perubahan apa-apa kecuali baterai yang sekarat.

Sambungan Hati Jarak Jauh

“Jadi, dia Om kamu?”

“Iya. Pasti mikirnya macem-macem.” Tuduh Lana. Aku mengiyakan.

“So, mau lunch di mana?”

“Ngg… Rumah Makan Padang?” Tawarku.

“Hahaha.. Baiklah. Ayo!”
***

“Kesekian kalinya nge-date di sini. Pulangnya selalu kekenyangan.” Ucapku.

“Heheh.. Di sini juga kau menyatakan cinta, gombal!” Balasnya.

“Besok mungkin aku tak bisa mengantarmu pulang.” Ucapku serius..

“Sudah ketemu gadis baru atau dijodohin?” Seringainya.

“Kau cemburu? Besok bakalan berangkat ke Jakarta sama temen kantor.” Terangku.

Ia mengangkat bahu.
***

“Beri aku kabar tiga kali sehari.” Tukasnya.

“Oke. Nanti kau mau oleh-oleh apa?”

“Emas di puncak Monas, Mas.”

“Kau ini…” Gerutuku.

“Bawalah sesuatu yang aku pikirkan sekarang.”

“Apa?”

“Tebak dong!”

Aku bergeming di ujung telepon. Mencoba menyatukan keinginan dua hati.

“Ciuman rindu?” Godaku.

Ia mengecup pesawat telepon. Setuju!

Cuti Sakit Hati

Aku masih berdiri di depan pintu. Menahan sejuta kecewa yang memuncak.

Dua pasang mata itu menatap terkejut ke arahku.

“Robi? Ayo masuk.” Lana mempersilahkanku duduk.
Antara ingin dan tak ingin aku menginterupsi mereka.
“Oya, Robi ini Om Damri.”
Lelaki itu mengulurkan tangannya, ku sambut dengan setengah hati.
‘Ngapain juga gue dikenalin sama om-om?’ dengusku dalam hati.

“Makasih ya, Om bantuannya. Uang yang kemarin udah Lana pakai buat keperluan yang benar, kok.”
Ucap Lana manja, matanya melirik nakal ke arahku.
Aku terkesiap, apa maksudnya?

“Iya Lana, Om juga senang kalau kamu senang. Kalau perlu apa-apa jangan sungkan.”
Balas lelaki yang bernama Om Damri itu. Lana mengangguk.

“Okelah, Om pamit ya, kau dapat salam dari tantemu.”
“Iya Om, salam buat beliau.”
Tante? Jadi?
Mata Lana mengejek habis-habisan