#Day23: Pulang

Aku terseok-seok di antara rumpun liar yang bunganya menempel, menarik untuk tetap tinggal
Sedangkan mataku melekat pada keangkuhan bangunan tinggi yang menatap menyalang
Lengan lenganku terpasung sedemikian kuat pada dasi yang tak pernah ada, pada parfum yang tak wangi
Lidahku terjulur menetes tetes liur, membanjiri hingga semata kaki
Lambungku penuh dengan makanan lezat, ulat, belatung, tulang belulang, dan serangga kecil lainnya
Puluhan lalat, anjing, tikus pun enggan mendekat
Aku layaknya binatang yang lebih menjijikan dari lalat, yang lebih kotor dari anjing kurap, yang lebih rakus dari tikus kurus
Napasku tersengal-sengal mencoba lari dari dekapan sekapan
Hari pukul tiga pagi
Setapak itu kulihat benderang
Warnanya hijau kekuning-kuningan
Telapak itu surga yang telah lama aku tinggal
Kaki-kakinya adalah harapan
Aku lupa kapan terakhir kali berdoa dan menyebut surga
Suaranya adalah nyanyian bidadari yang menerbangkanku dari lubang tua berbau kecut
Aku hampir semaput ketika tangannya adalah sulur terpanjang yang pernah aku gapai
Matanya membimbing mataku melihat dunia selain bangunan sombong
Seolah lenganku dengan sukarela mengikuti tuntunan senyumnya
Sekali lagi kakiku terseok-seok melangkah
Kali ini melewati rimbun rumpun yang bunganya berganti embun
Pulang.

#Day20: Lepuh Subuh

Tuhan itu egois
Dia memberi masalah agar kita mendekap pada-Nya
Agar kita tak melekat pada dunia
Manusia haruslah merdeka, tak terikat oleh perasaan dan pikiran
Hening, tenang dan mengenali diri-Nya

Pada lepuh subuh
Ada yang meneteskan airmatanya bermalam-malam pada jam yang sama, mengajukan permohonan yang juga sama

Pada lepuh subuh
Ada yang seolah lupa dengan dirinya
Dengan piring pecah yang berderai di rumah, dengan suara tangis yang belum juga reda

Dadaku bergetar dan terkoyak karena pikiran-pikiran buruk yang melintas, pada perasaan yang dirundung cemas

Aku harus tegas dan bergegas
Mengubur bekas bekas
Sebelum bayi merah itu bangun
Sebelum ia terkena racun

Langkah kakinya berat, terseret seret
Memutar kunci dan terbelalak kaget
Sudah berapa malam kau di atas sajadah ini?
Ia mengguncang-guncang tubuh berbalut mukena putih
Menelusuri jejak basah pada setiap benang kainnya
Menemukan airmata itu telah mengering

Tuhan mengabulkan permohonan di lepuh subuh
Permohonan yang sama di setiap malamnya
Ia yang didoakan mengingat kembali tentang dirinya
Pada piring pecah yang tak lagi ada
Pada tangis yang kini tiada

Pada lepuh subuh
Hening Bergeming

#Day18: Tanpa Judul

Aku jatuh cinta pada puisi
Pada kata kata yang berirama sama
Pada airmata yang bercampur suka
Aku jatuh cinta pada denting piano
Pada not balok yang ber-fa-so-la-si-do
Pada suara hati yang kadang seperti suara radio
Mengulang-ulang kata tapi tak kunjung bosan
Memutar lagu-lagu meski tak ada yang mendengarkan

Aku jatuh cinta pada rinaian hujan
Tempat di mana aku menari dan melompat di bawahnya
Mencoba lupakan sesuatu yang kusebut kenangan
Meskipun sampai sekarang aku masih saja mengingatnya, memutar kembali rekaman-rekaman yang tersimpan

Kau tahu? Jatuh cinta terkadang sangat menyakitkan, menyedihkan
Bahkan seringkai kita hanya berpura-pura membalutnya dengan nama kebahagiaan
Tapi aku tak ingin berhenti jatuh cinta
Aku ingin mengenangnya sekali lagi merasakan perihnya berkali-kali
Lalu menyakitinya tanpa henti.
Mati.

#Day17: Kematian yang Kunanti

Hari ini aku mendekap malam
Mengaburkan ingatan-ingatan temtang kamu
Mengubur pahitnya rindu dalam diam

Mataku basah adalah hal biasa
Bahkan aku hidup bersamanya bertahun-tahun lamanya
Tanpa ada seorangpun yang bertanya, mengapa?

Senyumku adalah hal terakhir yang kutahu tak bisa berhasil tanpamu
Meski hujanpun sebenarnya adalah hal terakhir yang kulihat kala itu

Aku menantikan kematian
Teman yang selama ini kuabaikan
Simpan saja surga dan nerakamu Tuhan
Aku ingin kembali padaMu, keabadian.

#Day16: Bukan Puisi Angin

Ini bukan puisi
Ini hanyalah bisikan angin yang kudengar tadi sore
Tentang seorang sahabat yang berjuang di negeri seberang
Tentang seorang teman yang berjuang di ruang perawatan

Angin sempat menitikkan air mata ketika menceritakannya
Sementara aku terdiam dalam pedih yang memejam

Lalu angin kembali bercerita tentang seorang kawan yang berjalan di antara bebatuan gunung, menyebrangi sungai kecil yang bermuara di lautan lepas
Yang sibuk mengatur napas mengalahkan cemas

Sementara aku terkenang pada pendakian pertama ketika masih berseragam SMA

Angin menepuk pipiku perlahan, menyadarkan dari lamunan
“Kau tahu tidak? Barusan kudengar ada yang bernyanyi bahagia. Dia bahagia merayakan kebersamaannya”
Rasanya aku mau bilang ‘Bodo amat, Ngin!’ Tapi kutepis jauh-jauh. Melipat tanganku dan mendoakan kebahagiaan

Angin tertawa sebelum melanjutkan celotehnya, katanya ia baru saja melewati barisan gigi yang rumpang dan mengibaskan rambut yang panjang mayang
Aku terbahak membayangkannya, lalu tersedak karena kopi hitam, sial!

Lantas angin terdiam, katanya ia punya sebuah rahasia tentang seorang teman yang belum ia kenal
Yang dia sendiri tak mampu melewatinya, bergeming di antara rambut hitamnya yang gelombang
Aku tersenyum mendengarkan, lantas berbisik padanya “Namanya Arby!”

Angin tertawa riang
Keluar masuk dari ruang
Kadang bau, kadang meriang
Ternyata angin sedang kasmaran

The end

. This is for my friends in TemanAnji. Thankyou Mas Arby for the challenge. This is your windy day

#Day8: Cinta Sembunyi yang Terhuni

Hari ini coba kau lihat ada berapa kupu yang mendekatimu?
Lalu kau mulai menghitung dengan cepat,
satu, dua, tiga, empat…

Sementara aku memandangi rupa polosmu yang terlihat terburu menjawab pertanyaanku

Hari ini coba kau lihat ada berapa banyak batu yang tumbuh di taman?
Lalu kau mulai berlari di antaranya menabrak ujung kakiku dan tertawa-tawa

Sementara aku mulai jatuh cinta pada pipimu yang kemerahan, pada anak rambut yang tergerai, dan pada tawa yang berderai

Coba kau lihat ada berapa rembulan?
Lalu kau tengadah menatap cahaya tak mengerti apa bedanya

Sedangkan aku jatuh cinta padamu seperti seorang pelayan yang jatuh cinta pada sang puan, mengusik takdirmu dengan kenyataan

Coba kau hitung sudah berapa uban yang kupunya? Lantas kau mulai membelainya helai demi helai, membauinya sampai kau terlelap kenang

Sedangkan aku makin jatuh cinta padamu seperti pertanyaan yang selalu kau lontarkan setiap hari, bertubi-tubi
Setiap pagi di bawah selimut tipis yang mulai usang tentang siapa yang orang-orang sebut dengan binatang jalang

Lalu suatu hari kita bermain lagi di taman batu, dan kau mulai bertanya ini dan itu
Apa ini? Tanyamu kala itu,
Menunjuk satu tempat yang selama ini selalu kita kunjungi, menunjuk ke kupu yang sama, menunjuk pada rembulan yang satu

Aku menghela napas, mengubahnya menjadi bentuk yang entah?
Maaf, sayang kali ini aku tak punya jawaban untukmu

Kau bertanya berkali-kali tentang hal yang sama
Berhari-hari, berganti musim, sampai kau berhenti bicara lantas bergeming

Aku terpekur menatapmu kala itu, tanpa tangis tanpa suara
Seharusnya tak perlu kau tanya tentang cinta, karena ia pasti tumbuh dengan takdirnya

Cinta tersembunyi di antara letupan letupan api dan di bawah bebatuan sungai yang mengalir air di bawahnya

Di antara genggaman tangan yang disebut kita

Di sanalah engkau tinggal, di antara yang tak berjarak, di antara yang bercahaya

Aku menyesal tak mampu menjawab pertanyaanmu, tak melakukan apa-apa sampai kau pergi

Harusnya kujawab saja saat itu, itu aku dengan segenap rasaku

Untukmu bidadari kecilku
Berbaringlah di sebelahnya
Di sebelah dia yang juga kucinta
Di sebelah pusara ibumu yang dulu pernah kau tanya

Day4: Di Suatu Hari

Di suatu hari di ruangan ini, ada gelak tawa yang kita buat bersama-sama dan akan jadi kenangan kita di masa tua

Di suatu hari di ruangan ini, ada teriakan keras yang kita sendiri sebenarnya tak ingin mengucapkannya dan tak pula mendengarnya

Di suatu hari di ruangan ini, ada remah-remah roti yang sengaja engkau tabur dan semut semut kecil yang menggelitiki kaki kita

Di suatu hari di ruangan ini,
tak ada lagi gelak tawa yang kita buat,
tak ada lagi teriakan yang tak ingin kita dengar,
dan tak ada lagi remah roti yang kau tabur

Yang ada hanyalah semut semut kecil yang membawa potongan-potongan ini ke dalam ingatan,
mencabik-cabiknya menjadi serpihan kenangan

Lalu kita larut dalam tawa yang bertaut mendung,
dalam tangisan yang mungkin tak berujung,
dalam kenangan yang tak ingin dilupakan.

Di suatu hari nanti…

Kita Belajar

Kita belajar dari kesedihan, kalau ia tak perlu kau rawat dan kau pupuk dengan berbagai rupa

Kita belajar dari kebahagiaan, kalau ia tak perlu kau siram dan kau hiasi dengan berbagai cara

Kesedihan dan kebahagiaan adalah neraka dan surga yang selama ini kita perbincangkan di beranda rumah

Neraka seperti amarah yang meluap
Sedangkan,
Surga selayaknya bayi yang tersenyum

Jangan tanya Tuhanmu tentang mengapa kamu? Sebab Ia telah memilihmu atau kau ingin Ia menjawab “Why not?” Sedangkan kau tak tahu artinya apa.

Lalu kau menuduh Tuhanmu tak adil dengan segala perbuatanNya

Hari Ini Tuhan Mengajakku Bermain

Hari ini Tuhan mengajakku bermain
Satu dadu di dalam wadah
Kalau menang aku dapat hadiah
Kalah, aku tak tahu apa…

Mata dadu dikocok,
Mata uang berjatuhan dari langit
Rupanya aku menang
Senang!

Mata dadu dikocok,
Mataku seperti dicolok
Basah, tumpah air mata
Rupanya aku kalah

Satu..
Dua..
Tiga..
Empat..
Lima..
Enam..

Dadu terus berputar
Mataku menatap nanar
Bertanya harap di dalam hati
Akan bagaimana hari ini?

Hari ini Tuhan mengajakku bermain
Satu dadu di dalam wadah
Menang kalah apa artinya
Bila hanya senda gurau belaka

Kota Tempat Kisahku Bermula

Bersamaan dengan mekarnya kelopak Rafflesia yang entah ke berapa?
Aku menangis terisak di dekapan ibu dan ayah
Sembari memuja Tuhan yang Maha Esa

Menghirup udara di luar rahim ibunda
Menemui matahari untuk pertama kalinya

Tumbuhlah gadis kecil pemalu
Berambut panjang diekor kuda
Tertatih-tatih didera nasib
Terbata-bata mengeja kata

Gadis manis teraneh ujar teman-temannya
Gadis kecil yang terlalu takut untuk melangkah apalagi berlari mengejar mimpinya

Hingga beranjak dewasa
Jiwa muda bergejolak
Membantah kata orangtua
Bertindak angkuh semaunya
“Aku bukan hidup di penjara! Aku manusia merdeka!” Teriaknya pekakkan telinga

Bak kisah Siti Nurbaya
Tetapi jodoh katanya bukanlah di tangan orangtua
Siti Nurbaya kini telah berubah

Berlarilah sang gadis bercumbu dengan si pemuda
Mengatasnamakan cinta dan kata merdeka
Ingin menikah tetapi malah didera
Sungguh kasihan wahai engkau gadis belia

Ingatlah Tuhan di kala bahagia dan susah
DinikahkanNya dua insan saling cinta
Secara sederhana di negeri langit
Tanpa takut kemiskinan menghimpit

Bahagialah kami di sini
Dijamin Tuhan yang memiliki segala
DicintaiNya tanpa melihat siapa