Descriptive Class

“Good afternoon, class!”
Mr. Jones greeted

“Good afternoon, Sir!”
Students replied.

“Today we’re going to talk about places at our school. Let’s make five group of students.”

Then, Mr. Jones let the leader of each group chose one piece of paper that written places at school, such as library, canteen, mosque, teachers room, students toilet, laboratory, etc.

“Okay. Every group had been chosen their lucky paper. Group one, what is yours?” Asked Mr. Jones.

“Laboratory, Sir!” Tony answered.

“The second?”

“Canteen!” They yelled happily.

“Students’ Toilet” yuck!

“Library”

“Teachers’ room” answer the last group.

“Very well. Then what you have to do is make a descriptive text about the places.”

“A descriptive text?”

“Yes, a text that describe about something. Which is a thing that you know it so well. Such as your classroom, your bag, your pet, even your mother”

“Could you tell us how to write the text?” Ben asked

“Sure. First of all, you have to introduce the object which you want to describe. For example, ‘Hello, friends! I would like to tell you about my favorite place at school. It is my classroom, class Seven One’ and then you can write the description or characteristic or the condition about the object. ‘Is it large or small? Clean or dirty? and etc’” Mr. Jones explained.

“Hmm.. So, it means that before we write a descriptive text at least we can do a small observation to make it more detail. Is that true, Sir?”

“Yes. You can also do that while you write the text, Lana”

“So, can we go to the canteen now, Sir?” The giant student asked and then laugh.

“Oh, my big boy. You must be so hungry now but I only give you and your group a permission to observe, sit, discuss, and write the text there. Not to taste the foods. I’m sorry” Mr. Jones giggled.

“Now, I’ll give you fifteen minutes to observe the places, take some notes about the place, and then you can back in your class and start to write your descriptive text. You got it guys?”

“Yes, Captain!” The students replied and run to their own object.

Mr. Jones visited each group about 3 to 5 minutes. Take noted about the students’ group working and then waited in the class to prepare some papers and pictures about places at school. When the groups came back to the class, they had a paper and a picture to make their text more adorable.

“So, now please write your text in this paper, stick on the picture on it to make it more attractive. Are you ready?”

“Yes, Sir!”

“30 minutes from now!”

The students looked so busy, some of them write the text easily, the others keep looking at the dictionary, another cheated the other groups but everybody was happy.

“Time’s up class! It’s time to show off your project. Who wants to be volunteer?”

“Sir! Canteen, Sir!”

“Yes, ladies and gentelmen please welcome the Canteen group!”

“Ehm, Hi! Hello! Ehm, friends! We are from canteen and we would like to tell you about our favorite place at school. It is canteen. Our canteen is wide and tidy. We can see many students bla… bla… bla… That’s all. Thankyou”

“Yeah! Every student give applause to Canteen group. Next, how about toilet?”

“Mr. Jones! It’s disgusting. Eat and then flush? But that’s okay!”

Each group told to their friends about their favorite place at school.

Then, they put on the text on the white board. They gave comments and compliments about their friends text…

“Well, today we had learn about descriptive text. Who can tell me what kind of text is it? Yes, Zaza?”

“A text that used to describe something, like familiar place, animal, thing, person…”

“Very nice, Zaza… and who can tell me the generic structure of a descriptive text?”

“It must have an introduction and description, Sir?” Mike answered uncertainly.

“Wow! That’s true Mike!”

“What about the language features? The tenses?”

“A simple present tense, Sir!”

“What a wonderful answer, Tom! Okay, write the conclusion on your note book and see you tomorrow everybody!”

“See you later, Sir! Thank you!”

Advertisements

Handphone Pertamaku

“Ma.. Dedek mau handphone..”
“Iya, sayang. Nanti ya?”
“Kapan, Ma?”
“Nanti. Mama belum ada uangnya sekarang”
“Tapi nanti belinya yang paling mahal ya, ma?”
“Iya…”

Aku tersenyum senang mendengar janji mama. Mama pasti menepati janjinya dan itu artinya tak lama lagi aku punya handphone sendiri. Cihuy! Aku bisa pamerin ke Cindy, Lala, Mona, Poo… Membayangkannya membuatku sampai senyum-senyum sendiri.

***

“Ma?”
“Ya?”
“Besok tanggal satu kan?”
“Iya…”
“Papa gajian kan?”
“Hmm… Terus?”
“Terus, papa kasih mama uang belanja kan?”
“Iya…”
“Artinya besok mama punya uang, dong!”
“So?”
“So, mama beliin aku handphonenya jadi kan?”
“Beres…”
“Yes!”

***

Aku tak sabar menunggu mama pulang dari belanja. Deg-degan handphone seperti apa yang dibelikan mama. Apakah sebagus punya Lala? Ataukah warnanya secantik milik Cindy?

“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam, mama” jawabku sembari membukakan pintu. Mataku menatap kantong-kantong belanjaan itu mencari sesuatu.

Mama membongkar isi belanjaannya, dimulai dari sabun, pasta gigi, shampoo, sayuran, daging segar, buah import…
“Mana handphone dedek, ma?” Tanyaku tak sabar.
“Ah, iya”
Mama mengeluarkan bungkusan lain dari dalam tasnya.
“Ini. Baguskan?”
“Bagus sekali!” Teriakku bersemangat. “Terimakasih, Ma…” Ucapku sambil mengecup pipinya.

Kutekan tombol-tombolnya, dari speaker di belakang handphone-ku itu terdengar lagu Happy Birthday, Marry had a little lamb, Entertainer…
AKU SENANG!

***

FF ini diikutsertakan dalam GA-nya Emak Isti’adzah Rohyati

Semut Pembual

Pagi yang sangat cerah, matahari sudah menyapa seisi alam. Terlihat Toto seekor semut pekerja sedang bersantai di bawah rindangnya dedaunan ketika teman-temannya yang lain giat bekerja.

“Hei, kau tak ikut dalam kelompokmu?” Tegur Lili si kupu-kupu saat melihat Toto.

“Kenapa aku harus ikut?” Tanyanya balik.

“Ya, setidaknya kau harus membantu teman-temanmu mengumpulkan makanan.” Jawab Lili.

Toto tersenyum seraya berkata, “Aku ini semut bangsawan, ratu semutpun sudah memberiku izin untuk bersantai.” tukas Toto.

Lili hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan Toto. Lalu terbang menghinggapi bunga-bunga yang bermekaran untuk diambil sarinya.

“Masih pagi kau sudah santai, Toto?” Kali ini suara Kaka si belalang terdengar.

“Aku bukannya sedang bersantai, tapi sedang ditugaskan oleh ratu menghitung jumlah daun yang jatuh.” Jawab Toto membual.

“Tugas dari ratu?” Kaka merasa heran.
“Iya, itu tugas yang lebih penting dari sekadar mencari makanan di hutan. Saat daun terakhir nanti jatuh, itu tandanya musim hujan akan tiba. Lalu aku akan memberitahukannya pada ratu” Jelas Toto.

Kaka memandang ke atas pohon, dedaunan masih demikian lebatnya. Belum lagi tunas-tunas baru yang terus tumbuh.

“Jadi, menurutmu berapa lama lagi dedaunan itu akan jatuh semua?” Kaka mencoba menghitung-hitungnya.

“Wah, mungkin masih berhari-hari. Kau tunggu saja beritanya.” Jawab Toto mulai jengkel.

Kaka berlalu, menuju ladang padi.

Tak hanya Lili si kupu-kupu dan Kaka si belalang, semakin hari semakin banyak yang membicarakan perangai Toto yang suka membual dan mengarang cerita. Hingga sampailah berita itu ke telinga sang ratu semut. Ia sungguh terkejut mendengarnya.

Ratu segera menyusun strategi untuk menegur Toto yang mulai keterlaluan karena selalu membawa-bawa nama ratu dalam bualannya.

***

“Hai, apakah engkau yang bernama Toto? Semut bangsawan yang diberi tugas khusus oleh ratu?” Tanya seekor semut pada suatu pagi.

“Ya, itu aku!” Ujarnya bangga.

“Wah, kebetulan sekali. Aku butuh bantuanmu.” Ucap semut asing itu.

“Bukannya aku tak mau membantumu tetapi aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.” Bual Toto sambil merebahkan tubuhnya kembali.

“Benarkah? Lantas apa pekerjaan khususmu itu? Kulihat kau hanya bersantai saja di sini”

“Aku menghitung jumlah daun yang jatuh hingga nanti tersisa satu daun saja. Itu berarti musim hujan segera tiba. Lalu aku akan memberitahukannya pada sang ratu”

“Sungguh pekerjaan yang berat!” Tukas semut asing itu.

“Tentu saja. Ngomong-ngomong kamu siapa?” Toto mulai jengah karena kelihatannya semut asing itu tak jua akan beranjak dari tempatnya.

“Aku? Aku ditugaskan ratu untuk menanyaimu, sudah berapa jumlah daun yang jatuh. Sebab ratu khawatir, engkau lupa atau tertidur saat bertugas.”

Toto terperanjat. Utusan ratu? Diperhatikannya semut di hadapannya itu dengan seksama. Kelihatannya ia memang semut bangsawan. Toto mulai cemas, karena selama ini sebenarnya ia hanya berbohong.

“Jadi, Toto, sudah berapa jumlah daun yang jatuh?” Semut utusan itu mengeluarkan buku catatan berstempel kerajaan. Siap untuk menulis.

Toto merasakan tubuhnya berkeringat deras. “Se.. Sembilan ratus tiga puluh tiga..” Jawab Toto asal menebak.

“Jangan berbohong! Menurut catatan dari kerajaan jumlah daun di pohon inii seluruhnya hanya tujuh ratus delapan puluh sembilan lembar.”

“Tidak. Aku menghitungnya. Bukankah juga ada tunas yang terus tumbuh?” Kilah Toto.

“Ya, kau benar. Mungkin catatan ini yang salah. Baiklah, kalau begitu aku akan melaporkannya pada ratu.” Semut itu beranjak pergi menuju istana.

Toto tersenyum licik. Merasa menang.

***

Esoknya, semut utusan itu datang kembali dan ia masih mendapati Toto di bawah rindang dedaunan, sedang tertidur pulas.

“Ehm.. Ehm..” Semut utusan itu berdehem beberapa kali.

Toto memicingkan matanya, melompat kaget melihat semut utusan ratu sudah berada di hadapannya.

“Kau tertidur saat bertugas?” Semut itu mulai menginterogasi Toto.

“Tidak! Aku hanya sedang mengingat jumlah daun yang sudah kuhitung. Kau tahu kan, dengan memejamkan mata kita lebih cepat mengingat sesuatu?” Elak Toto, sigap.

“Oh, benarkah? Apakah itu menjamin kau akan benar-benar tak akan melewatkan selembar daunpun?”

“Tentu. Aku ini semut terlatih. Kau ataupun ratu tak perlu khawatir akan hal itu.”

“Baiklah. Kalau begitu sesuai perintah ratu, akupun akan duduk menemanimu mencatat daun yang jatuh! Oya, ratu juga berpesan agar tiap ada daun jatuh kau berteriak sekeras-kerasnya. Sebab, ratu ingin mendengar jumlahnya langsung darimu.” Ucap semut utusan itu panjang lebar sambil mengeluarkan buku catatannya.

Toto benar-benar terkejut mendengarnya. Keringatnya mengalir deras. Mau mengelak sudah tak mungkin.

“Hei! Kenapa diam? Itu ada daun yang jatuh!” Tegur semut utusan.

“Oh, baiklah. Seribu satu!” Teriak Toto sembarang dan lantang.

***

“Seribu seratus tiga belas!” Toto masih berusaha berteriak sekuat tenaga. Padahal tubuhnya sudah begitu lemah. Seharian tanpa istirahat dan harus terjaga.

“Se.. Se.. Semut utusan… Aku sudah letih. Bisakah kita berhenti sebentar?” Rengek Toto.

“Apa kau bilang? Aku tak mau ratu naik pitam gara-gara kau salah menghitungnya!” Tukas semut utusan itu marah.

Totopun terpaksa melanjutkan hitungannya hingga akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri karena kelelahan.

***

“Se.. Se.. Seribu tiga ratus…”
Toto mengigau. Lantas tersentak bangun.

Koloni semut serentak menertawakannya. “Hahahahahaha…”

Toto melihat sekelilingnya. Semua temannya ada di sana, Sisi, Lulu, Robo, Baba, semut utusan dan… Ratu!

Toto memberikan hormatnya pada ratu. Ia tak berani mengangkat kepalanya.

“Nah, Toto. Sekarang ceritakan padaku semuanya.” Ucap ratu.

“Maafkan saya, Ratu. Saya sudah berbohong kalau saya adalah semut bangsawan dan mendapat tugas khusus dari ratu, menghitung daun yang jatuh.”

Ratu semut mengangguk, seraya tersenyum ia berkata, “Aku senang kau mau mengakui kesalahanmu. Kau berjanji tak akan membual lagi?”

“Tentu, Ratu. Saya berjanji. Tolong ampuni saya.” Mohon Toto, memelas.

“Baiklah, karena kamu sudah mengakui kesalahan dan berjanji tak berbohong, aku maafkan kesalahanmu. Namun, kau tetap harus mendapatkan hukuman. Mulai besok kau harus membantu semut lainnya mencari makanan dan menghitung berapa banyak makanan yang terkumpul pada hari itu.” Titah Ratu.

“Baik, Ratu. Saya akan laksanakan.” Patuh Toto menyanggupi.

“Oya, putriku akan mengawasi pekerjaanmu.” Lanjut ratu seraya menunjuk sang semut utusan.

Toto terperanjat, jadi semut utusan itu adalah Putri Semut? Ia merasa malu sekali. Ternyata selama ini, kebohongannya sudah lama terbongkar.

“Kau siap bertugas besok, Toto?” Tanya Putri semut dengan wajah ramah.

“Siap, Putri!” Jawab Toto bersungguh-sungguh.

***

Sejak hari itu, Toto menjadi semut yang rajin. Berkat ketekunannya, ia juga dipercaya ratu menjadi kepala gudang makanan. Hingga musim penghujan tiba, tak satupun koloni semut yang kelaparan. Semua mendapatkan makanan. Koloni semut hidup makmur dan sejahtera.

I Love Ayah

Dara menarik napas panjang. Lagi-lagi hari ini ia menemukan cotton buds bekas pakai alias alat untuk membersihkan kuping berbentuk seperti korek api dengan gumpalan kapas di ujung-ujungnya.

Setiap hari Dara mengumpulkannya, lalu membuangnya ke keranjang sampah. Padahal apa susahnya setelah membersihkan telinga, cotton buds-nya langsung dibuang ke tempat sampah?

Nah, itu pelakunya! Tengah tidur-tiduran sambil mengorek kuping di sofa. Tak lama lengan itu melempar benda yang baru saja tadi Dara pungut.

Mau marah tapi takut. Dibiarkan saja ini sudah berlarut-larut setiap hari.

Dara perlahan mengayunkan sapunya, membersihkan butiran-butiran debu. Berhenti sebentar untuk memungut benda kecil menjijikan itu.

Dilihatnya sang pelaku kali ini memejamkan matanya dengan sebelah tangan di atas kepala.

***

“Dara…”

Teriakan ibu seperti biasa membangunkannya untuk mandi sore.

“Ya, Bu!”

“Ke sini!” Panggil ibu.

“Itu kamu yang bikin?” Tanya ibu segera setelah Dara datang menghampiri.

Dara mengangguk.

Ibu tersenyum geli.

“Sssttt… Nanti kalau ayah bangun biar dia lihat sendiri.” Ujar ibu.

Mereka berjingkat-jingkat menuju dapur. Meninggalkan tulisan: I LOVE AYAH dari cotton buds bekas pakai…

English Class

“Okay, you can make your own shopping list for mother’s day celebration now!” Asked Mrs. Jane.
The students start to write, although some of them look confused.
“Mrs! I can write anything, right?” Asked Billy, suddenly.
“Sure. Anything you want to buy for your mother”
“How about Softex?”
“Huh? Oh, Billy! Come on… You can choose another precious gift”
“Well, a car?”
“That’s perfect!”
Billy then continue his shopping list.
“Mam! I’ve finished!” Tiara yelled.
“Let me check it” answer Mrs. Jane.
Tiara gives her book.
“Good. Wait for your friends” Mrs. Jane returns Tiara’s book.
Almost half of the class finished.
Don, the laziest student start to rush.
“How many thing you have wrote?” “Ten”
“Twelve”
“I’m twenty!”
Don takes Clara’s. He copies some of things on her shopping list. Then he takes Billy’s, Karen’s, Mike’s…
“Yes! I got thirty!” He screamed.
“Mrs! Don is cheating!” Told Tiara.
Mrs. Jane only smile.
Then, she writes some questions on the white board and asks the class to answer them. Every student is busying answer the question, except Don. He’s just waiting for the others then copying their answers.
“Time’s up. Harry, please help me collect the books!”
Harry, the chairman does the order quickly.

Two days later, on the next english lesson. Mrs. Jane bring a box to the class.
The students feel curious.
“What is that?”
“A gift for me?”
“Open it, Mam!”
Mrs. Jane smiled.
“Keep calm, class!”
“I have two presents in this box and I’ll give them to Don and Clara! Give applause!”
Both of them accept the gift happily.
“But, Mrs! Don cheated!” Billy protested. Mrs. Jane only smile at him. Then, she explain “I only score the answers of those five questions not the items in your shopping list. Why?”
“Because by checking the answers you will know either the students cheated or not.” Clara replied.
“That’s true! So the gifts actually for the best and the worst”

Don looks so sad. He got two in english assignment.
“Now, it’s time to discuss the best answer class! Look at your own shopping list.”
Every student pay attention to their book.

“Okay, the first question is ‘What kind of text is it?”
“Shopping list!” The students answered together.
“Correct!”

“Number two, ‘What is the most expensive thing in your shopping list?’ Err… What is your answer Billy?”
“An airplane, Mam!” Billy replied.
“Wow! Fantastic! How about you Nana?”
“The most expensive thing is a gold necklace”
“Very nice!”
“Mam, mam!” Koko raise his hand.
Mrs. Jane let him to answer.
“I will give my mom a house with a pool and a garden inside.”
“Marvelous!”

The third, fourth and last question had been already answered. Don knew now, why Mrs. Jane gave him bad score.
“I’m sorry for being cheated, Mam. I promise you, I won’t do that again”
“I’m happy finally you realize that cheating is not good for you and also for the others” Mrs. Jane look at the students.
“So, this is a gift for you, I hope you will study harder, dear”
Don receive then open it.
“A pocket dictionary! Wow! Thanks Mam!” Don looks so happy. Start from now he will do the task and homework by himself.

created by @ara_damiril