#Day23: Pulang

Aku terseok-seok di antara rumpun liar yang bunganya menempel, menarik untuk tetap tinggal
Sedangkan mataku melekat pada keangkuhan bangunan tinggi yang menatap menyalang
Lengan lenganku terpasung sedemikian kuat pada dasi yang tak pernah ada, pada parfum yang tak wangi
Lidahku terjulur menetes tetes liur, membanjiri hingga semata kaki
Lambungku penuh dengan makanan lezat, ulat, belatung, tulang belulang, dan serangga kecil lainnya
Puluhan lalat, anjing, tikus pun enggan mendekat
Aku layaknya binatang yang lebih menjijikan dari lalat, yang lebih kotor dari anjing kurap, yang lebih rakus dari tikus kurus
Napasku tersengal-sengal mencoba lari dari dekapan sekapan
Hari pukul tiga pagi
Setapak itu kulihat benderang
Warnanya hijau kekuning-kuningan
Telapak itu surga yang telah lama aku tinggal
Kaki-kakinya adalah harapan
Aku lupa kapan terakhir kali berdoa dan menyebut surga
Suaranya adalah nyanyian bidadari yang menerbangkanku dari lubang tua berbau kecut
Aku hampir semaput ketika tangannya adalah sulur terpanjang yang pernah aku gapai
Matanya membimbing mataku melihat dunia selain bangunan sombong
Seolah lenganku dengan sukarela mengikuti tuntunan senyumnya
Sekali lagi kakiku terseok-seok melangkah
Kali ini melewati rimbun rumpun yang bunganya berganti embun
Pulang.

#Day21: Notes Facebook

Hmm.. setelah bertahun-tahun akhirnya saya memutuskan memindahkan catatan galau saya di Facebok ke blog. nanti bakal di-posting beberapa kali ya. Terimakasih sudah membaca 🙂

Love You (11 Februari 2009)

Ini untuk hatiku..
Ini juga untuk jiwaku..
Ini untuk semangat hidupku..
Untuk malam-malam yang terlewatkan.
Ini untuk rasaku, kata-kata yang tak mampu diucapkan.
Ini adalah aku saat rindu..
Dan aku saat jatuh hati.
Ini untuk mimpi-mimpi indah yang masih bermain bersama bintang, pun untuk harapan yang selalu melekat erat.
Ini untuk sesuatu yang tak pernah dibatasi ruang dan tak lekang oleh waktu.

tapi setelah dibaca-baca lagi, kok ya mendingan tulisan-tulisan itu tetap di sana. Ga jadi ah dipindahin semua di sini. Hahahahaha

#Day20: Lepuh Subuh

Tuhan itu egois
Dia memberi masalah agar kita mendekap pada-Nya
Agar kita tak melekat pada dunia
Manusia haruslah merdeka, tak terikat oleh perasaan dan pikiran
Hening, tenang dan mengenali diri-Nya

Pada lepuh subuh
Ada yang meneteskan airmatanya bermalam-malam pada jam yang sama, mengajukan permohonan yang juga sama

Pada lepuh subuh
Ada yang seolah lupa dengan dirinya
Dengan piring pecah yang berderai di rumah, dengan suara tangis yang belum juga reda

Dadaku bergetar dan terkoyak karena pikiran-pikiran buruk yang melintas, pada perasaan yang dirundung cemas

Aku harus tegas dan bergegas
Mengubur bekas bekas
Sebelum bayi merah itu bangun
Sebelum ia terkena racun

Langkah kakinya berat, terseret seret
Memutar kunci dan terbelalak kaget
Sudah berapa malam kau di atas sajadah ini?
Ia mengguncang-guncang tubuh berbalut mukena putih
Menelusuri jejak basah pada setiap benang kainnya
Menemukan airmata itu telah mengering

Tuhan mengabulkan permohonan di lepuh subuh
Permohonan yang sama di setiap malamnya
Ia yang didoakan mengingat kembali tentang dirinya
Pada piring pecah yang tak lagi ada
Pada tangis yang kini tiada

Pada lepuh subuh
Hening Bergeming

#Day18: Tanpa Judul

Aku jatuh cinta pada puisi
Pada kata kata yang berirama sama
Pada airmata yang bercampur suka
Aku jatuh cinta pada denting piano
Pada not balok yang ber-fa-so-la-si-do
Pada suara hati yang kadang seperti suara radio
Mengulang-ulang kata tapi tak kunjung bosan
Memutar lagu-lagu meski tak ada yang mendengarkan

Aku jatuh cinta pada rinaian hujan
Tempat di mana aku menari dan melompat di bawahnya
Mencoba lupakan sesuatu yang kusebut kenangan
Meskipun sampai sekarang aku masih saja mengingatnya, memutar kembali rekaman-rekaman yang tersimpan

Kau tahu? Jatuh cinta terkadang sangat menyakitkan, menyedihkan
Bahkan seringkai kita hanya berpura-pura membalutnya dengan nama kebahagiaan
Tapi aku tak ingin berhenti jatuh cinta
Aku ingin mengenangnya sekali lagi merasakan perihnya berkali-kali
Lalu menyakitinya tanpa henti.
Mati.

#Day17: Kematian yang Kunanti

Hari ini aku mendekap malam
Mengaburkan ingatan-ingatan temtang kamu
Mengubur pahitnya rindu dalam diam

Mataku basah adalah hal biasa
Bahkan aku hidup bersamanya bertahun-tahun lamanya
Tanpa ada seorangpun yang bertanya, mengapa?

Senyumku adalah hal terakhir yang kutahu tak bisa berhasil tanpamu
Meski hujanpun sebenarnya adalah hal terakhir yang kulihat kala itu

Aku menantikan kematian
Teman yang selama ini kuabaikan
Simpan saja surga dan nerakamu Tuhan
Aku ingin kembali padaMu, keabadian.

#Day16: Bukan Puisi Angin

Ini bukan puisi
Ini hanyalah bisikan angin yang kudengar tadi sore
Tentang seorang sahabat yang berjuang di negeri seberang
Tentang seorang teman yang berjuang di ruang perawatan

Angin sempat menitikkan air mata ketika menceritakannya
Sementara aku terdiam dalam pedih yang memejam

Lalu angin kembali bercerita tentang seorang kawan yang berjalan di antara bebatuan gunung, menyebrangi sungai kecil yang bermuara di lautan lepas
Yang sibuk mengatur napas mengalahkan cemas

Sementara aku terkenang pada pendakian pertama ketika masih berseragam SMA

Angin menepuk pipiku perlahan, menyadarkan dari lamunan
“Kau tahu tidak? Barusan kudengar ada yang bernyanyi bahagia. Dia bahagia merayakan kebersamaannya”
Rasanya aku mau bilang ‘Bodo amat, Ngin!’ Tapi kutepis jauh-jauh. Melipat tanganku dan mendoakan kebahagiaan

Angin tertawa sebelum melanjutkan celotehnya, katanya ia baru saja melewati barisan gigi yang rumpang dan mengibaskan rambut yang panjang mayang
Aku terbahak membayangkannya, lalu tersedak karena kopi hitam, sial!

Lantas angin terdiam, katanya ia punya sebuah rahasia tentang seorang teman yang belum ia kenal
Yang dia sendiri tak mampu melewatinya, bergeming di antara rambut hitamnya yang gelombang
Aku tersenyum mendengarkan, lantas berbisik padanya “Namanya Arby!”

Angin tertawa riang
Keluar masuk dari ruang
Kadang bau, kadang meriang
Ternyata angin sedang kasmaran

The end

. This is for my friends in TemanAnji. Thankyou Mas Arby for the challenge. This is your windy day

#Day15: A.N.G.I.N Random

Niatnya nulis puisi. Eh, nulis puisi ga bisa dipaksakan ya ternyata. Sudah bermalam-malam mikir sambil tidur, ga juga kelar tuh puisi. Padahal judulnya sederhana, cuma lima huruf, A.N.G.I.N. Sama kayak C.I.N.T.A yang juga hanya lima huruf. Keduanya sama-sama punya huruf A, N, dan, I. Kok ya sulit nulisnya?

Lagi pengin curcol (lah biasanya juga curcol). Kok ya ga tau mau nulis apa ini? Mungkin faktor belum gajian. Ahahaha… Jadi otak ga encer karena kurang asupan. Random banget ini tulisan ya.. 😀

Emmm… sore ini panas. Terik. Lagi di rumah neknangnya Adis. Liatin Adis teriak teriak, lari lari, merengek rengek sama neknangnya. Barusan dibeliin permen kaki sama neknangnya. Adis mah seneng banget makan permen. Malah kalau ikut ke sekolah tujuannya cuma mau beli permen yupi. Iya, kami termasuk jarang beliin dia permen, es, cokelat, dan lain-lain. Soalnya ngaruh banget ke pola makan dia. Ujung-ujungnya malah ga mau makan nasi sama sekali. Pusing kan emaknya?

Ahahaha… tulisan ini ga nyambung ama judulnya. Biarinlah, lagi random. Lelah dedek, bang! 🙂

Nemenin Adis liatin temen-temennya main balon. Balonnya Adis udah dua yang pecah. Untung ga pake nangis. Jadi dia bediri aja liatin orang mainan balon. :p Diajak pulang ga mau. Digangguin orang nangis. Mau main di rumah neknangnya aja ga ada yang ngajakin main. Cuma ada neknang sama nenek. Neknang sibuk sendiri, neneknya tidur. Aunty dua-duanya lagi hangout hari mingguan. Aduh, aduh… tau gini tadi mending istirahat di rumah. #eehhh…
Atau ke pantai lagi, main air.

Nah, ngomongin main air di pantai. Baru jumat kemarin itu dia berani nyentuh ombak. Dulu dulu waktu diajak ke pantai, sempat trauma dianya. Hanya karena auntynya cemas. Jadi dia ikutan takut. Sampai jumat kemarin dia ngajakin ke pantai dan liat anak yang lebih kecil dari dia berani main ombak di pinggir pantai. Awalnya, diajakin turun dia ga mau. Eh, lama lama minta turun sendiri ke pinggir pantai dan ga mau pulang. Mukanya senang banget ketika air laut menyapu kakinya. Emaknya juga senang karena dia ga takut lagi. Meskipun saat air laut datang dia pegangannya kuat banget. Hihihihi…

Huah.. selamat hari minggu deh. Selamat ujung bulan. Besok gajian. Bakal ada angin sepoi sepoi. Selamat istirahat. Selamat random!

#Day14: Our Last Day in Guru Pembelajar

Hari ke sepuluh pelatihan!
Guru Pembelajar? Selalu belajar! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Selesai akhirnya 🙂 dan dari pengumuman Kelas B LULUS SEMUA! Yeay!

Pulang dari sini punya tanggung jawab yang berat alias menantang yaitu membantu rekan-rekan guru lainnya supaya nilai UKG-nya (Uji Kompetensi Guru) meningkat. Kalau tahun 2015 kemarin pemerintah hanya menetapkan nilai UKG minimal 5,5 di tahun ini diharapkan bisa meningkat jadi 65.

Saya sih grogi sebenarnya kalau harus ngajarin senior senior di pelatihan, secara mereka lebih banyak ilmu. Entah itu ilmu pedagogik ataupun profesional pastilah lebih banyak tahu. Sedangkan saya kebenaran aja dapat anugerah luar biasa bisa ikut pelatihan instruktur karena nilai UKG mencukupi syarat. Padahal ketika datang ke TKP bengong bin bingung, “ini pelatihan apa sih Guru Pembelajar?” Soalnya dari sekian banyak pelatihan biasanya ga jauh jauh dari kurtilas (Kurikulum 13). 😀

Semoga saja ya nanti dimampukan oleh-Nya, biar kegiatan pelatihannya di Bengkulu lancar jaya. Sekarang sih belum ada jadwal pelatihannya, jadi masih fokus ama anak di rumah dan di sekolah. Pokoknya sebagai guru harus banyak belajar lagi, lagi, lagi dan lagi! Banyak cara meningkatkan kompetensi guru, ga cuma di nilai UKG aja. Bisa bikin karya tulis, penelitian ilmiah, inovasi pembelajaran, nulis blog curcol kayak saya , media pembelajaran, ikutan Olimpiade Guru Nasional (OGN), ikut kelas TOEFL dan Bahasa Inggris gratisan (hehehe) dan lain-lain…

Satu lagi, maaf ini seharusnya diposting di hari ke sepuluh pelatihan (tanggal 24 Juli) akan tetapi karena waktu dan tenaga yang terbatas jadilah di-publish hari ini. Selain itu seharusnya proyek 30 Hari Nulis Random udah selesai ya karena udah lewat dari tanggal 18 Juli, tapi berhubung saya yang punya proyek ya dilanjutkan ajalah biar tetap semangat nulis. 🙂

Oya, terus kabarnya Mas Menteri Pendidikan kena reshuffle? Nah, bakalan ada cerita apalagi ya di dunia pendidikan Indonesia?Just wait and do the best. Merdeka!

#Day13: Guru Pembelajar

Hola!
Sudah baca post hari ke-duabelas? Tentang saya yang galau karena mau pelatihan? Kalau belum baca dulu boleh lah ya…
Hari ini ceritanya tentang pelatihan Guru Pembelajar aja deh. Sekalian review kegiatan hari ini. Tadi kita belajar tentang Guru Pembelajar, yaitu guru yang selalu belajar. Di Juknisnya ada sih penjelasan rinci, tapi cukup itu aja ya yang ditulis di sini soalnya ga hapal :p
Artinya, sebagai guru kami diharapkan dapat selalu belajar untuk meningkatkan kompetensi kemampuan agar menjadi makin baik sesuai dengan standar yang diharapkan pemerintah.

Pelatihan ini sendiri tujuannya melatih para guru yang telah terpilih untuk menjadi instruktur guru pembelajar dimana nanti apabila sudah kembali ke daerah asalnya dapat menularkan ilmu yang didapat kepada teman-teman guru lainnya.

Adapun beberapa materi tentang Guru Pembelajar yang sudah dipelajari selama dua hari pelatihan ini adalah,
1. Guru Pembelajar Moda Tatap Muka (Luring: Luar Jaringan)
Yaitu fasilitator (instruktur) bertatap muka langsung dengan peserta (guru). Jenis GP moda tatap muka terbagi lagi menjadi,
a. Tatap Muka Penuh
Artinya fasilitator melakukan pelatihan GP selama 60JP (untuk guru mapel, dll) atau 100JP (untuk kejuruan) dengan peserta menggunakan moda tatap muka sesuai jadwal secara terbimbing. (Face to face)
b. Tata Muka IN-ON-IN (tidak penuh)
Yaitu moda tatap muka yang dilakukan dengan kombinasi antara tatap muka langsung (IN) dan tugas mandiri (ON)
c. Tatap Muka dalam kegiatan kolektif guru
Kegiatan pelatihan GP dapat dilakukan pada forum MGMP, KKG atau kelompok pengembangan kompetensi guru lainnya.

2. Guru Pembelajar Moda Daring (Dalam Jaringan)
Yaitu fasilitator (instruktur) berinteraksi dengan peserta (guru) secara online (dalam jangan). GP moda daring ini juga terdiri dari,
a. Moda Daring Penuh
– Moda daring 1 (interaksi hanya pada pengampu dan peserta)
– Moda daring 2 (interaksi daring antara pengampu, fasilitator dan peserta
b. Moda Daring Kombinasi (terdapat dua moda sekaligus, tatap muka 12 JP dan daring 48 JP)

Selain dua moda pembelajaran tersebut di atas (tatap muka dan daring) hari berikutnya kami juga mempelajari tentang karakteristik belajar orang dewasa atau disebut dengan andragogi, bahwa pada dasarnya karakter belajar orang dewasa itu biasanya gampang lupa, lamban, tidak mau disalahkan, ingin dihargai, dan lain-lain. Hal ini penting untuk kami pelajari sebab nantinya kami akan berinteraksi kepada peserta yang merupakan seorang guru.

Setelah mempelajari tentang Andragogi, di pertemuan berikutnya kami mempelajari tentang literasi TIK. Mengenal tentang software yang dapat digunakan dalam pembelajaran serta sedikit mengenal tentang fitur-fitur yang terdapat pada web Guru Pembelajar.

Nah, hari senin 18 Juli, kami mulai masuk ke pembahasan modul (kelompok kompetensi). Ada sepuluh kelompok kompetensi (KK), yaitu KKA s.d. KKJ. Setiap KK terdiri dari dua modul tentang pedagogik dan profesional. Pedagogik menjelaskan tentang pembelajaran, penilaian, dll sedangkan profesional berisi tentang materi mata pelajaran yang diampu. Tugasnya cukup berat, karena setelah beberapa hari berada dalam kelompok besar (10 orang/kelompok) kami dibagi menjadi kelompok kecil (4 orang) dan membahas mengenai kesepuluh kelompok kompetensi. Setiap KK memiliki banyak materi dan submateri yang harus kami presentasikan setelah kami diskusikan bersama. Alhamdulillah pada hari ini selasa 19 Juli presentasi semua kelompok selesai dan presentasi kelompok saya berjalan sukses. Horray!

Besok, kami bakalan berkenalan dengan modul moda daring. Semoga ga makin tepar sebab nantinya tiap kelompok akan mendapatkan dua modul. Sehat terus dan semangat! Guru Pembelajar, selalu belajar! Yes, yes, yes, yes, yes!

#Day12: Tolong, Nak! Ibumu Galau…

Saya sama Andara sejak dalam kandungan ke mana-mana selalu bareng, sampai DIA lahirpun Andara selalu dibawa kemanapun pergi. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu seperti pelatihan guru yang memang tidak memungkinkan membawa anak serta. Padahal ke sekolahpun kadang Andara di bawa :D. Biasanya, sih pelatihan hanya dalam kota Bengkulu aja dan Andara pasti saya titipkan di tempat yang paling dekat dengan tempat pelatihan. Untungnya tempat pelatihan guru selama ini biasanya di LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pembelajaran) yang lokasinya dekat dengan rumah mama saya, kira-kira sepuluh menit sampai. Jadi, setiap kali pelatihan di jam istirahat bisa pulang sekadar untuk ngasih ASI atau MPASI. Capek dikit ga apa-apalah yang penting dua-duanya bisa jalan. Pun, ketika Andara sudah dua tahun, sudah bisa disapih. Saya tetap menyempatkan pulang liat dia, nyuapin makan atau sekedar peluk-peluk lepas kangen. Rasanya kok kalau pisah lama kangennya kebangetan? Hehehe…

Nah, cerita galaunya ketika di bulan puasa barusan saya mendapatkan informasi dari DisDikBud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) Kota Bengkulu kalau nama saya tercantum sebagai salah satu peserta pelatihan guru di ibukota. Lamanya pun lumayan bikin galau, sepuluh hari! Duh, rasanya langsung campur aduk, senang sekaligus khawatir. Gimana kalau suami ga ngizinin? Terus kalau suami ngizinin, gimana dengan Andara? Masa ditinggal? Awalnya, saya dan suami sepakat kalau Andara tetap saya ajak ke Jakarta, dengan catatan dia dititipkan di rumah kakak. Kakak sama istrinya sih ga keberatan dititipin, tapi yang ditakutin kalau Andara nangis nyari ibunya dan di rumah hanya ada istri kakak dan anaknya yang masih setahun enam bulan. Ditambah lagi istrinya sedang hamil muda, tentu ga bisa terlalu capek. Akhirnya kami diskusi lagi dengan membandingkan beberapa alternatif pilihan, yang pertama Andarw di ajak ke Jakarta dengan satu orang pengasuh menginap di hotel atau rumah penduduk di sekitar hotel. Kedua, Andara di ajak ke Jakarta dengan satu orang pengasuh dan menginap di rumah kakak. Ketiga, Andara tidak dibawa ke Jakarta. Masalahnya lagi untuk dibawa atau tidaknya Andara tetap saja dibutuhkan pengasuh. Sedangkan kami sudah tidak menggunakan pengasuh lagi sejak Andara usia satu tahun alias ketika ia sudah bisa jalan. Ditinggalkan saja berdua sama bapaknya ya ga mungkin karena bapaknya harus kerja, bahkan kadang lembur. Mau dititipkan ke rumah datuknya (papa saya) tempat dia biasa main kalau saya sekolah juga ga mungkin karena bertepatan dengan tanggal pelatihan tersebut datuk dan neneknya bulan madu ke-lima belas di Merauke. Tiket pun sudah dibeli dan jadwalnya sudah tidak bisa digeser lagi. Akhirnya alternatif terakhir dititipkan di rumah Neknangnya (papa mertua). Tetapi, keduanya pun masih bekerja kantoran sehinggga tidak mungkin setiap hari merhatiin Andara. Saya coba hubungi adik ipar yang bungsu, teman mainnya Andara (mereka kompak banget). Eh, dianya mau PKL ke luar kota di tanggal yang sama pula. Padahal, awalanya saya berinisiatif membawa mereka berdua ke Jakarta. Ah, jalan buntu lagi. Dipikir-pikir, akhirnya ada titik terang. Ada adik ipar satu lagi yang kebetulan sedang mudik dari kuliahnya di Jogja. Saya konfirmasi dong tanggal kepulangan dia ke Jogja. Alhamdulillah dia balik ke Jogja sekitar awal bulan agustus. Pas, dengan jadwal pelatihan yang hanya dari tanggal 15-24 Juli 2016. Hmm… galaunya lagi nih mau bawa mereka berdua ke Jakarta. Sedangkan di tanggal segitu arus balik dari mudik lebaran sedang tinggi. Pastilah harga tiketnya selangit. Mikir banget biaya tiket untuk dua orang PP pastilah sangat menguras tabungan yang ga seberapa. Belum lagi mikirin penginapan mereka, mau dibawa ke hotel ga kuat bayarnya sampai sepuluh hari, cari perumahan warga di sekitar hotel juga bukan perkara mudah, mau diinapkan di rumah kakakpun percuma kalau saya juga ga bisa PP dari rumahnya ke hotel. Bisa habis waktu di jalan. Antara Jakarta Barat dan Tangerang butuh waktu yang lumayan kalau ditempuh bolak balik.

Huhuhu… Setelah pertimbangan yang matang dan diskusi yang panjang dengan suami dan keluarga lainnya, sepertinya saya emang harus pisah sementara sama Andara. Artinya, saya ke Jakarta bareng rombongan aja tanpa Andara. Padahal DIA kalau dengar kata ‘Jakarta dan pesawat’ pastilah mau ikut. Benar aja ketika saya ngobrol santai dengan DIA, ngomongin masalah ibu yang mau ke sekolah naik pesawat ke Jakarta. Dia langsung merengek mau ikut. Ibunya ga dibolehin pergi ke mana-mana dan dia jadi lebih rewel serta manja lebih dari biasanya. Butuh waktu sekitar setengah bulan untuk meyakinkan dia kalau saya berangkat ke Jakarta untuk sekolah (belajar) bukan mau jalan-jalan ke mall seperti biasanya. Hingga di beberapa hari menjelang keberangkatan DIA mulai mengerti dan bertanya-tanya kapan ibunya mau sekolah di Jakarta dan naik pesawat? Kok ibu ga sekolah sekolah? Hahaha rasanya kok malah jadi aneh, ibunya seperti diusir biar pergi. Tapi bersyukur juga sih, jadi tenang mau ninggalin dia sama aunty, neknang, nenekneknang, dan bapaknya. Dia siap kalau ibunya sekolah di Jakarta, dia mau salaman ketika ibunya pamit pergi ke bandara, bahkan dia ngomong kalau mau ikut nganterin ibunya ke bandara dan janji ga bakal nangis. Hanya saja bapak ibunya yang khawatir kalau dia bakal nangis ketika di bandara liat ibunya ‘diculik’ rombongan guru. Padahal sebenernya saya pengin banget diantar DIA, peluk peluk DIA di bandara, di say good bye dan dikasih kiss bye sama DIA seperti  ketika bapaknya yang harus dinas luar. Ah, pokoknya baper deh. Ya sudahlah, akhirnya saya pamitan sama dia di rumah neknangnya aja. Anaknya karena udah sering dikasih tau kalau ibunya mau sekolah di Jakarta juga asik asik aja. Malah nonton televisi, kartun Upin Ipin. Pake acara ngakak lagi…

Heu.. ibu sekolah dulu ya, nak. Jadi anak pintar, makannya yang banyak, giginya disikat, mainannya disusun lagi kalau udah main, dan satu lagi tolong jaga bapak ya? Hahahaha…
Doain ibumu ya, Nak? Biar lulus pelatihan guru pembelajarnya, jadi perjuangan ninggalin kamu sepuluh hari ga sia-sia. Semangat! Sayang kalian berdua :*

n.b. happy wedding anniversary buat kita, Kekasih Terhebat akuh… tepat tanggal 15 Juli, lima tahun yang lalu… love you more, dear!