#Day20: Lepuh Subuh

Tuhan itu egois
Dia memberi masalah agar kita mendekap pada-Nya
Agar kita tak melekat pada dunia
Manusia haruslah merdeka, tak terikat oleh perasaan dan pikiran
Hening, tenang dan mengenali diri-Nya

Pada lepuh subuh
Ada yang meneteskan airmatanya bermalam-malam pada jam yang sama, mengajukan permohonan yang juga sama

Pada lepuh subuh
Ada yang seolah lupa dengan dirinya
Dengan piring pecah yang berderai di rumah, dengan suara tangis yang belum juga reda

Dadaku bergetar dan terkoyak karena pikiran-pikiran buruk yang melintas, pada perasaan yang dirundung cemas

Aku harus tegas dan bergegas
Mengubur bekas bekas
Sebelum bayi merah itu bangun
Sebelum ia terkena racun

Langkah kakinya berat, terseret seret
Memutar kunci dan terbelalak kaget
Sudah berapa malam kau di atas sajadah ini?
Ia mengguncang-guncang tubuh berbalut mukena putih
Menelusuri jejak basah pada setiap benang kainnya
Menemukan airmata itu telah mengering

Tuhan mengabulkan permohonan di lepuh subuh
Permohonan yang sama di setiap malamnya
Ia yang didoakan mengingat kembali tentang dirinya
Pada piring pecah yang tak lagi ada
Pada tangis yang kini tiada

Pada lepuh subuh
Hening Bergeming

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s