Penghujung Ramadhan

“ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUUM…”
Suara azan subuh berkumandang, Ramadhan bergegas menuju masjid, berwudhu dan berdiri tepat di belakang imam masjid. Seperti biasa, di hari terakhir bulan puasa masjid semakin sepi penghuninya. Kata orang-orang, jemaah masjid berbondong-bondong hijrah ke pusat perbelanjaan. Entahlah, Ramadhan tidak tahu.

“Pak, apakah arti idul fitri?”
Ramadhan menanyakan hal yang sama setiap tahunnya.
“Idul fitri artinya hari kemenangan setelah sebulan penuh kita berpuasa. Hari kita bersuka cita. Hari di mana kita diharapkan kembali suci seperti baru lahir.” Jawaban yang kira-kira sama ia terima setiap tahunnya. Ramadhan tersenyum, berterimakasih lantas kembali ke petak kamarnya.

“Ini zakat fitrah, nak. Buat kamu”
“Apa arti zakat fitrah, Pak?”
“Zakat yang wajib dikeluarkan umat Islam baik laki-laki, perempuan, besar atau kecil, merdeka atau budak, tua dan muda, pada awal bulan ramadhan sampai menjelang idul fitri. Zakat fitrah dikeluarkan berupa makanan pokok  yang dibayarkan sebanyak 3,2 liter, atau 2,5 kg. Tujuan zakat fitrah adalah untuk membersihkan jiwa atau menyucikan diri dari dosa-dosanya dan memberikan makan bagi fakir miskin.” Terang sang Bapak. Ramadhan mengucapkan terima kasih, menutup pintu petak kamarnya.

“Ah, Tuhan. Besok semua kembali seperti dulu. Sebelas bulan yang tak sama seperti bulan ini. Masjid yang sepi, semakin sepi. Aku masih ingat setiap hari di bulan puasa, orang-orang bertarawih, membawa makanan untuk berbagi saat buka puasa, memuja-Mu lebih dari biasa, orang-orang kaya menyumbangkan uang mereka tanpa diminta, sungguh aku bahagia melihatnya. Tapi, bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan fakir miskin lainnya? Yang puasa dua belas bulan lamanya? Kelaparan, kekurangan harta benda, yang tak bisa memberikan zakat fitrah untuk menyucikan dirinya?” Ramadhan meneteskan airmata. Menggarisi jejak airmata yang jatuh di buku hariannya.

Dibukanya kembali halaman awal di buku hariannya, sebuah tulisan tertoreh di sana,
“Ramadhan dan Lailatul Qadar, nama yang bagus sekali buat kalian, Nak. Kalian lahir tepat di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Hari di mana kata orang-orang Lailatul Qadar turun. Itu mengapa kami memberi namamu dan saudara kembarmu, Ramadhan dan Lailatul Qadar.”

Ramadhan sejenak berhenti membaca, menarik nafas panjang dan melanjutkan bacaannya,

“Hari ini, tepat idul fitri, Nak. Kami tidak punya baju baru dari toko. Hanya pemberian orang-orang yang kasihan melihat kalian. Tak apa ya? Tahun depan pasti kami punya cukup uang untuk membeli baju baru”

“Hari ini Lailatul Qadar demamnya semakin tinggi. Sejak kemarin. Kami sangat khawatir. Ramadhan yang sehat ya, Nak. Semoga adikmu cepat sembuh.”

“Rasanya kami tak ingin menulis kembali di buku harian ini. Setelah hari itu, Lailatul Qadar anak kesayangan kami kembali pada-Nya. Ramadhan, jangan tinggalkan kami juga, Nak. Berhentilah menangis, masih ada kami temanmu bermain nanti. Seandainya kami punya cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit, tentu adikmu masih bersama kita. Maafkan kami, Nak”

Ramadhan menangis tersedu, rasanya ia ingin protes pada Tuhan. Tulisan itu berhenti di sana. Tak pernah disambung lagi. Entah ke mana ayah, ibu? Ada yang bilang mereka berpisah. Ada yang berkisah mereka meninggal dunia karena sakit yang sama dengan yang diderita oleh Lailatul Qadar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s