#Day15: A.N.G.I.N Random

Niatnya nulis puisi. Eh, nulis puisi ga bisa dipaksakan ya ternyata. Sudah bermalam-malam mikir sambil tidur, ga juga kelar tuh puisi. Padahal judulnya sederhana, cuma lima huruf, A.N.G.I.N. Sama kayak C.I.N.T.A yang juga hanya lima huruf. Keduanya sama-sama punya huruf A, N, dan, I. Kok ya sulit nulisnya?

Lagi pengin curcol (lah biasanya juga curcol). Kok ya ga tau mau nulis apa ini? Mungkin faktor belum gajian. Ahahaha… Jadi otak ga encer karena kurang asupan. Random banget ini tulisan ya.. 😀

Emmm… sore ini panas. Terik. Lagi di rumah neknangnya Adis. Liatin Adis teriak teriak, lari lari, merengek rengek sama neknangnya. Barusan dibeliin permen kaki sama neknangnya. Adis mah seneng banget makan permen. Malah kalau ikut ke sekolah tujuannya cuma mau beli permen yupi. Iya, kami termasuk jarang beliin dia permen, es, cokelat, dan lain-lain. Soalnya ngaruh banget ke pola makan dia. Ujung-ujungnya malah ga mau makan nasi sama sekali. Pusing kan emaknya?

Ahahaha… tulisan ini ga nyambung ama judulnya. Biarinlah, lagi random. Lelah dedek, bang! 🙂

Nemenin Adis liatin temen-temennya main balon. Balonnya Adis udah dua yang pecah. Untung ga pake nangis. Jadi dia bediri aja liatin orang mainan balon. :p Diajak pulang ga mau. Digangguin orang nangis. Mau main di rumah neknangnya aja ga ada yang ngajakin main. Cuma ada neknang sama nenek. Neknang sibuk sendiri, neneknya tidur. Aunty dua-duanya lagi hangout hari mingguan. Aduh, aduh… tau gini tadi mending istirahat di rumah. #eehhh…
Atau ke pantai lagi, main air.

Nah, ngomongin main air di pantai. Baru jumat kemarin itu dia berani nyentuh ombak. Dulu dulu waktu diajak ke pantai, sempat trauma dianya. Hanya karena auntynya cemas. Jadi dia ikutan takut. Sampai jumat kemarin dia ngajakin ke pantai dan liat anak yang lebih kecil dari dia berani main ombak di pinggir pantai. Awalnya, diajakin turun dia ga mau. Eh, lama lama minta turun sendiri ke pinggir pantai dan ga mau pulang. Mukanya senang banget ketika air laut menyapu kakinya. Emaknya juga senang karena dia ga takut lagi. Meskipun saat air laut datang dia pegangannya kuat banget. Hihihihi…

Huah.. selamat hari minggu deh. Selamat ujung bulan. Besok gajian. Bakal ada angin sepoi sepoi. Selamat istirahat. Selamat random!

#Day14: Our Last Day in Guru Pembelajar

Hari ke sepuluh pelatihan!
Guru Pembelajar? Selalu belajar! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Yes! Selesai akhirnya 🙂 dan dari pengumuman Kelas B LULUS SEMUA! Yeay!

Pulang dari sini punya tanggung jawab yang berat alias menantang yaitu membantu rekan-rekan guru lainnya supaya nilai UKG-nya (Uji Kompetensi Guru) meningkat. Kalau tahun 2015 kemarin pemerintah hanya menetapkan nilai UKG minimal 5,5 di tahun ini diharapkan bisa meningkat jadi 65.

Saya sih grogi sebenarnya kalau harus ngajarin senior senior di pelatihan, secara mereka lebih banyak ilmu. Entah itu ilmu pedagogik ataupun profesional pastilah lebih banyak tahu. Sedangkan saya kebenaran aja dapat anugerah luar biasa bisa ikut pelatihan instruktur karena nilai UKG mencukupi syarat. Padahal ketika datang ke TKP bengong bin bingung, “ini pelatihan apa sih Guru Pembelajar?” Soalnya dari sekian banyak pelatihan biasanya ga jauh jauh dari kurtilas (Kurikulum 13). 😀

Semoga saja ya nanti dimampukan oleh-Nya, biar kegiatan pelatihannya di Bengkulu lancar jaya. Sekarang sih belum ada jadwal pelatihannya, jadi masih fokus ama anak di rumah dan di sekolah. Pokoknya sebagai guru harus banyak belajar lagi, lagi, lagi dan lagi! Banyak cara meningkatkan kompetensi guru, ga cuma di nilai UKG aja. Bisa bikin karya tulis, penelitian ilmiah, inovasi pembelajaran, nulis blog curcol kayak saya , media pembelajaran, ikutan Olimpiade Guru Nasional (OGN), ikut kelas TOEFL dan Bahasa Inggris gratisan (hehehe) dan lain-lain…

Satu lagi, maaf ini seharusnya diposting di hari ke sepuluh pelatihan (tanggal 24 Juli) akan tetapi karena waktu dan tenaga yang terbatas jadilah di-publish hari ini. Selain itu seharusnya proyek 30 Hari Nulis Random udah selesai ya karena udah lewat dari tanggal 18 Juli, tapi berhubung saya yang punya proyek ya dilanjutkan ajalah biar tetap semangat nulis. 🙂

Oya, terus kabarnya Mas Menteri Pendidikan kena reshuffle? Nah, bakalan ada cerita apalagi ya di dunia pendidikan Indonesia?Just wait and do the best. Merdeka!

#Day13: Guru Pembelajar

Hola!
Sudah baca post hari ke-duabelas? Tentang saya yang galau karena mau pelatihan? Kalau belum baca dulu boleh lah ya…
Hari ini ceritanya tentang pelatihan Guru Pembelajar aja deh. Sekalian review kegiatan hari ini. Tadi kita belajar tentang Guru Pembelajar, yaitu guru yang selalu belajar. Di Juknisnya ada sih penjelasan rinci, tapi cukup itu aja ya yang ditulis di sini soalnya ga hapal :p
Artinya, sebagai guru kami diharapkan dapat selalu belajar untuk meningkatkan kompetensi kemampuan agar menjadi makin baik sesuai dengan standar yang diharapkan pemerintah.

Pelatihan ini sendiri tujuannya melatih para guru yang telah terpilih untuk menjadi instruktur guru pembelajar dimana nanti apabila sudah kembali ke daerah asalnya dapat menularkan ilmu yang didapat kepada teman-teman guru lainnya.

Adapun beberapa materi tentang Guru Pembelajar yang sudah dipelajari selama dua hari pelatihan ini adalah,
1. Guru Pembelajar Moda Tatap Muka (Luring: Luar Jaringan)
Yaitu fasilitator (instruktur) bertatap muka langsung dengan peserta (guru). Jenis GP moda tatap muka terbagi lagi menjadi,
a. Tatap Muka Penuh
Artinya fasilitator melakukan pelatihan GP selama 60JP (untuk guru mapel, dll) atau 100JP (untuk kejuruan) dengan peserta menggunakan moda tatap muka sesuai jadwal secara terbimbing. (Face to face)
b. Tata Muka IN-ON-IN (tidak penuh)
Yaitu moda tatap muka yang dilakukan dengan kombinasi antara tatap muka langsung (IN) dan tugas mandiri (ON)
c. Tatap Muka dalam kegiatan kolektif guru
Kegiatan pelatihan GP dapat dilakukan pada forum MGMP, KKG atau kelompok pengembangan kompetensi guru lainnya.

2. Guru Pembelajar Moda Daring (Dalam Jaringan)
Yaitu fasilitator (instruktur) berinteraksi dengan peserta (guru) secara online (dalam jangan). GP moda daring ini juga terdiri dari,
a. Moda Daring Penuh
– Moda daring 1 (interaksi hanya pada pengampu dan peserta)
– Moda daring 2 (interaksi daring antara pengampu, fasilitator dan peserta
b. Moda Daring Kombinasi (terdapat dua moda sekaligus, tatap muka 12 JP dan daring 48 JP)

Selain dua moda pembelajaran tersebut di atas (tatap muka dan daring) hari berikutnya kami juga mempelajari tentang karakteristik belajar orang dewasa atau disebut dengan andragogi, bahwa pada dasarnya karakter belajar orang dewasa itu biasanya gampang lupa, lamban, tidak mau disalahkan, ingin dihargai, dan lain-lain. Hal ini penting untuk kami pelajari sebab nantinya kami akan berinteraksi kepada peserta yang merupakan seorang guru.

Setelah mempelajari tentang Andragogi, di pertemuan berikutnya kami mempelajari tentang literasi TIK. Mengenal tentang software yang dapat digunakan dalam pembelajaran serta sedikit mengenal tentang fitur-fitur yang terdapat pada web Guru Pembelajar.

Nah, hari senin 18 Juli, kami mulai masuk ke pembahasan modul (kelompok kompetensi). Ada sepuluh kelompok kompetensi (KK), yaitu KKA s.d. KKJ. Setiap KK terdiri dari dua modul tentang pedagogik dan profesional. Pedagogik menjelaskan tentang pembelajaran, penilaian, dll sedangkan profesional berisi tentang materi mata pelajaran yang diampu. Tugasnya cukup berat, karena setelah beberapa hari berada dalam kelompok besar (10 orang/kelompok) kami dibagi menjadi kelompok kecil (4 orang) dan membahas mengenai kesepuluh kelompok kompetensi. Setiap KK memiliki banyak materi dan submateri yang harus kami presentasikan setelah kami diskusikan bersama. Alhamdulillah pada hari ini selasa 19 Juli presentasi semua kelompok selesai dan presentasi kelompok saya berjalan sukses. Horray!

Besok, kami bakalan berkenalan dengan modul moda daring. Semoga ga makin tepar sebab nantinya tiap kelompok akan mendapatkan dua modul. Sehat terus dan semangat! Guru Pembelajar, selalu belajar! Yes, yes, yes, yes, yes!

#Day12: Tolong, Nak! Ibumu Galau…

Saya sama Andara sejak dalam kandungan ke mana-mana selalu bareng, sampai DIA lahirpun Andara selalu dibawa kemanapun pergi. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu seperti pelatihan guru yang memang tidak memungkinkan membawa anak serta. Padahal ke sekolahpun kadang Andara di bawa :D. Biasanya, sih pelatihan hanya dalam kota Bengkulu aja dan Andara pasti saya titipkan di tempat yang paling dekat dengan tempat pelatihan. Untungnya tempat pelatihan guru selama ini biasanya di LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pembelajaran) yang lokasinya dekat dengan rumah mama saya, kira-kira sepuluh menit sampai. Jadi, setiap kali pelatihan di jam istirahat bisa pulang sekadar untuk ngasih ASI atau MPASI. Capek dikit ga apa-apalah yang penting dua-duanya bisa jalan. Pun, ketika Andara sudah dua tahun, sudah bisa disapih. Saya tetap menyempatkan pulang liat dia, nyuapin makan atau sekedar peluk-peluk lepas kangen. Rasanya kok kalau pisah lama kangennya kebangetan? Hehehe…

Nah, cerita galaunya ketika di bulan puasa barusan saya mendapatkan informasi dari DisDikBud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) Kota Bengkulu kalau nama saya tercantum sebagai salah satu peserta pelatihan guru di ibukota. Lamanya pun lumayan bikin galau, sepuluh hari! Duh, rasanya langsung campur aduk, senang sekaligus khawatir. Gimana kalau suami ga ngizinin? Terus kalau suami ngizinin, gimana dengan Andara? Masa ditinggal? Awalnya, saya dan suami sepakat kalau Andara tetap saya ajak ke Jakarta, dengan catatan dia dititipkan di rumah kakak. Kakak sama istrinya sih ga keberatan dititipin, tapi yang ditakutin kalau Andara nangis nyari ibunya dan di rumah hanya ada istri kakak dan anaknya yang masih setahun enam bulan. Ditambah lagi istrinya sedang hamil muda, tentu ga bisa terlalu capek. Akhirnya kami diskusi lagi dengan membandingkan beberapa alternatif pilihan, yang pertama Andarw di ajak ke Jakarta dengan satu orang pengasuh menginap di hotel atau rumah penduduk di sekitar hotel. Kedua, Andara di ajak ke Jakarta dengan satu orang pengasuh dan menginap di rumah kakak. Ketiga, Andara tidak dibawa ke Jakarta. Masalahnya lagi untuk dibawa atau tidaknya Andara tetap saja dibutuhkan pengasuh. Sedangkan kami sudah tidak menggunakan pengasuh lagi sejak Andara usia satu tahun alias ketika ia sudah bisa jalan. Ditinggalkan saja berdua sama bapaknya ya ga mungkin karena bapaknya harus kerja, bahkan kadang lembur. Mau dititipkan ke rumah datuknya (papa saya) tempat dia biasa main kalau saya sekolah juga ga mungkin karena bertepatan dengan tanggal pelatihan tersebut datuk dan neneknya bulan madu ke-lima belas di Merauke. Tiket pun sudah dibeli dan jadwalnya sudah tidak bisa digeser lagi. Akhirnya alternatif terakhir dititipkan di rumah Neknangnya (papa mertua). Tetapi, keduanya pun masih bekerja kantoran sehinggga tidak mungkin setiap hari merhatiin Andara. Saya coba hubungi adik ipar yang bungsu, teman mainnya Andara (mereka kompak banget). Eh, dianya mau PKL ke luar kota di tanggal yang sama pula. Padahal, awalanya saya berinisiatif membawa mereka berdua ke Jakarta. Ah, jalan buntu lagi. Dipikir-pikir, akhirnya ada titik terang. Ada adik ipar satu lagi yang kebetulan sedang mudik dari kuliahnya di Jogja. Saya konfirmasi dong tanggal kepulangan dia ke Jogja. Alhamdulillah dia balik ke Jogja sekitar awal bulan agustus. Pas, dengan jadwal pelatihan yang hanya dari tanggal 15-24 Juli 2016. Hmm… galaunya lagi nih mau bawa mereka berdua ke Jakarta. Sedangkan di tanggal segitu arus balik dari mudik lebaran sedang tinggi. Pastilah harga tiketnya selangit. Mikir banget biaya tiket untuk dua orang PP pastilah sangat menguras tabungan yang ga seberapa. Belum lagi mikirin penginapan mereka, mau dibawa ke hotel ga kuat bayarnya sampai sepuluh hari, cari perumahan warga di sekitar hotel juga bukan perkara mudah, mau diinapkan di rumah kakakpun percuma kalau saya juga ga bisa PP dari rumahnya ke hotel. Bisa habis waktu di jalan. Antara Jakarta Barat dan Tangerang butuh waktu yang lumayan kalau ditempuh bolak balik.

Huhuhu… Setelah pertimbangan yang matang dan diskusi yang panjang dengan suami dan keluarga lainnya, sepertinya saya emang harus pisah sementara sama Andara. Artinya, saya ke Jakarta bareng rombongan aja tanpa Andara. Padahal DIA kalau dengar kata ‘Jakarta dan pesawat’ pastilah mau ikut. Benar aja ketika saya ngobrol santai dengan DIA, ngomongin masalah ibu yang mau ke sekolah naik pesawat ke Jakarta. Dia langsung merengek mau ikut. Ibunya ga dibolehin pergi ke mana-mana dan dia jadi lebih rewel serta manja lebih dari biasanya. Butuh waktu sekitar setengah bulan untuk meyakinkan dia kalau saya berangkat ke Jakarta untuk sekolah (belajar) bukan mau jalan-jalan ke mall seperti biasanya. Hingga di beberapa hari menjelang keberangkatan DIA mulai mengerti dan bertanya-tanya kapan ibunya mau sekolah di Jakarta dan naik pesawat? Kok ibu ga sekolah sekolah? Hahaha rasanya kok malah jadi aneh, ibunya seperti diusir biar pergi. Tapi bersyukur juga sih, jadi tenang mau ninggalin dia sama aunty, neknang, nenekneknang, dan bapaknya. Dia siap kalau ibunya sekolah di Jakarta, dia mau salaman ketika ibunya pamit pergi ke bandara, bahkan dia ngomong kalau mau ikut nganterin ibunya ke bandara dan janji ga bakal nangis. Hanya saja bapak ibunya yang khawatir kalau dia bakal nangis ketika di bandara liat ibunya ‘diculik’ rombongan guru. Padahal sebenernya saya pengin banget diantar DIA, peluk peluk DIA di bandara, di say good bye dan dikasih kiss bye sama DIA seperti  ketika bapaknya yang harus dinas luar. Ah, pokoknya baper deh. Ya sudahlah, akhirnya saya pamitan sama dia di rumah neknangnya aja. Anaknya karena udah sering dikasih tau kalau ibunya mau sekolah di Jakarta juga asik asik aja. Malah nonton televisi, kartun Upin Ipin. Pake acara ngakak lagi…

Heu.. ibu sekolah dulu ya, nak. Jadi anak pintar, makannya yang banyak, giginya disikat, mainannya disusun lagi kalau udah main, dan satu lagi tolong jaga bapak ya? Hahahaha…
Doain ibumu ya, Nak? Biar lulus pelatihan guru pembelajarnya, jadi perjuangan ninggalin kamu sepuluh hari ga sia-sia. Semangat! Sayang kalian berdua :*

n.b. happy wedding anniversary buat kita, Kekasih Terhebat akuh… tepat tanggal 15 Juli, lima tahun yang lalu… love you more, dear!

#Day 11: Media Sosial dan Alasan-alasan Saya Tetap Menggunakannya dari Perawan Sampai Punya Momongan

Sekarang udah ga zaman lagi kalo ga punya akun di media sosial, sebut saja yang masih ‘hidup’ dari dulu sampai sekarang, Facebook, Twitter, Path dan Instagram. Meskipun sudah bermunculan media sosial lainnya keempat media sosial tersebut biasanya masih dipakai oleh para pengguna dunia maya. Termasuk saya.

Ada beberapa alasan mengapa saya masih aktif menggunakan keempat media sosial tersebut,
1. Facebook
Sebenarnya saya sempat tak lagi menggunakan media sosial yang satu ini sejak awal menikah. Mengapa? Alasannya sederhana, sih saya udah pindah hati ke Twitter. 🙂 Alasan lainnya di akun Facebook saya terlalu banyak kenangan indah. Terlalu banyak status dan notes facebook yang galau dan foto-foto saya di sini terlalu cantik. *tolong sadarkan saya dari mimpi!*
Selain itu, sejak mainan Twitter, saya merasa di facebook terlalu ramai, seperti tak punya privasi karena hampir semua teman sekolah, kerja, mahasiswa, murid-murid, tumplek berteman di sini. Pembahasannya pun tak jauh-jauh dari hal-hal masa lalu, reunilah, mantan pacar lah, mantan calon lah #ups makanya saya hengkang dari media sosial yang satu ini. Tapi, masih ngintip-ngintip juga, sih… hahaha… Pokoknya jarang banget update status lagi atau nulis random di Facebook. Sampai akhirnya saya kembali aktif di sini karena saya mau ikutan lomba menulis di blog, yang biasanya pihak penyelenggara mewajibkan like fanspage tertentu sebagai syarat utama untuk ikut berpartisipasi dalam lomba menulis. Alasan baik lainnya di Facebook ada beberapa grup yang tak bisa saya tinggalkan untuk terus membaca postingannya, seperti grup ITMI, MFF, NB, KEB, KBB, RM, DD, SI, de el el… dimana semuanya penting demi meng-update ilmu pengetahuan dan spiritual saya. Maka, kembalilah saya ke media sosial yang ini… *ciri orang sulit move on*

2. Twitter
Dulu, alasan saya bikin akun twitter adalah mau ikutan quiz. Itupun ga menang. Ya boro boro mau menang, ikutan quiznya aja batal. 😀
Maka, mulailah saya bergerilya mencari akun yang asik untuk diikuti, mengamati satu persatu kicauan para sesepuh dan bertemulah saya dengan akun para selebritis Indonesia. Follow follow aja lah ya daripada timeline sepi. Uhuy, kok ya lama-lama baca timeline kayak nonton gosip. Akhirnya saya berhenti mengikuti akun para selebritis, meninggalkan satu, tiga akun seleb saja yang konten tweetnya ga melulu tentang party dan gosip. Salah satunya akun @duniamanji. Sering lihat kalo yang punya akun senang bikin fiksimini (fiksi dalam 140 karakter yang biasanya punya twist yang berbeda), terus saya pun stalking akunnya @fiksimini dan lihat ada yang namanya #fmidol dan baca beberapa retweet-an fiksimini yang menurut saya keren banget! Nah, saya follow juga tuh akun-akun yang menelurkan banyak fiksimini keren, hampir semua sesepuh saya follow (yang ga di-follow mungkin kelewatan). Saya pelajari diam-diam cara mereka menyampaikan ide. Saya iseng ikutan #fmidol (tanpa daftar jadi peserta) dan saya diketawain mas @therendra (host #fmidol). Dulu, dia balesin kira-kira gini, “Hahaha masih jauh, dear. Ikutan fiksimini yang biasa aja dulu, ya?” Saya langsung cengar cengir. Malu sendiri. Tapi, malah makin semangat naklukin akun @fiksimini dan ketika pertama kali fiksimini saya di-retweet rasanya kok kayak abis dilamar pacar yang bertahun-tahun ga jelas maunya apa. Setelah itu saya makin senang belajar nulis. Selain fiksimini saya juga mulai belajar nge-blog, bikin flash fiction, curcol as usually, temenan sama sesepuh fiksimini, merambat ke KEB (Kumpulan Emak-emak Blogger), Nulis Buku, ketemu akun para penulis kece, semuanya pure orang-orang baru. Rasanya seperti punya dunia baru, ga mentok bahas masalah yang dulu-dulu. I’m moving on, yeay! Makanya sampai sekarang saya masih sering stalking timeline, meskipun nulis fiksimininya jarang-jarang.

3. Path
Hanya karena Blackberry hadiah ulang tahun dari adik tersayang mulai error dan ga mampu lagi menemani saya setelah dia di-opname, mau tak mau saya move on ke android dan mulai mengenal Path. Awalnya sih saya mikir kalau setelah punya android saya bakalan lebih produktif nulis. Kenyataannya malah NOL besar, saya lebih kecanduan dengan Path. Mulanya pakai nama saya, ujung-ujungnya saya ganti pakai nama anak, sebab dipikir-pikir kalau saya upload foto narsis saya kayaknya udah kedaluwarsa deh. Mending foto sama videonya Andara, lebih unyu, kekinian dan semua orang suka. Betul, betul, betul?

4. Instagram
Yah, bikin akun di IG biar kekinian aja, biar bisa ikut kuis ini itu. Isinya juga cuma foto dan video Andara. Teman-temannya juga seputaran teman di Path. Toh, dua media sosial tersebut fungsinya juga mirip-mirip kan? Saya juga belum banyak pakai IG buat tujuan lain, kayak online shop atau promosi produk. Malah kedua media sosial ini bikin minat nulis saya menurun drastis. Positifnya sih memperbaiki kemampuan memotret dan edit video. Hehehe..

Nah, segitu dulu deh alasan saya masih pindah ke akun sana sini. Semoga ga bikin saya makin terlena dengan smartphone dan melupakan tugas wajib saya. Sip ya? Off gadget dulu ah…

*abis itu lima menit kemudian muncul lagi

#Day10: Penghujung Ramadhan

“ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUUM…”
Suara azan subuh berkumandang, Ramadhan bergegas menuju masjid, berwudhu dan berdiri tepat di belakang imam masjid. Seperti biasa, di hari terakhir bulan puasa masjid semakin sepi penghuninya. Kata orang-orang, jemaah masjid berbondong-bondong hijrah ke pusat perbelanjaan. Entahlah, Ramadhan tidak tahu.

“Pak, apakah arti idul fitri?”
Ramadhan menanyakan hal yang sama setiap tahunnya.
“Idul fitri artinya hari kemenangan setelah sebulan penuh kita berpuasa. Hari kita bersuka cita. Hari di mana kita diharapkan kembali suci seperti baru lahir.” Jawaban yang kira-kira sama ia terima setiap tahunnya. Ramadhan tersenyum, berterimakasih lantas kembali ke petak kamarnya.

“Ini zakat fitrah, nak. Buat kamu”
“Apa arti zakat fitrah, Pak?”
“Zakat yang wajib dikeluarkan umat Islam baik laki-laki, perempuan, besar atau kecil, merdeka atau budak, tua dan muda, pada awal bulan ramadhan sampai menjelang idul fitri. Zakat fitrah dikeluarkan berupa makanan pokok  yang dibayarkan sebanyak 3,2 liter, atau 2,5 kg. Tujuan zakat fitrah adalah untuk membersihkan jiwa atau menyucikan diri dari dosa-dosanya dan memberikan makan bagi fakir miskin.” Terang sang Bapak. Ramadhan mengucapkan terima kasih, menutup pintu petak kamarnya.

“Ah, Tuhan. Besok semua kembali seperti dulu. Sebelas bulan yang tak sama seperti bulan ini. Masjid yang sepi, semakin sepi. Aku masih ingat setiap hari di bulan puasa, orang-orang bertarawih, membawa makanan untuk berbagi saat buka puasa, memuja-Mu lebih dari biasa, orang-orang kaya menyumbangkan uang mereka tanpa diminta, sungguh aku bahagia melihatnya. Tapi, bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan fakir miskin lainnya? Yang puasa dua belas bulan lamanya? Kelaparan, kekurangan harta benda, yang tak bisa memberikan zakat fitrah untuk menyucikan dirinya?” Ramadhan meneteskan airmata. Menggarisi jejak airmata yang jatuh di buku hariannya.

Dibukanya kembali halaman awal di buku hariannya, sebuah tulisan tertoreh di sana,
“Ramadhan dan Lailatul Qadar, nama yang bagus sekali buat kalian, Nak. Kalian lahir tepat di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Hari di mana kata orang-orang Lailatul Qadar turun. Itu mengapa kami memberi namamu dan saudara kembarmu, Ramadhan dan Lailatul Qadar.”

Ramadhan sejenak berhenti membaca, menarik nafas panjang dan melanjutkan bacaannya,

“Hari ini, tepat idul fitri, Nak. Kami tidak punya baju baru dari toko. Hanya pemberian orang-orang yang kasihan melihat kalian. Tak apa ya? Tahun depan pasti kami punya cukup uang untuk membeli baju baru”

“Hari ini Lailatul Qadar demamnya semakin tinggi. Sejak kemarin. Kami sangat khawatir. Ramadhan yang sehat ya, Nak. Semoga adikmu cepat sembuh.”

“Rasanya kami tak ingin menulis kembali di buku harian ini. Setelah hari itu, Lailatul Qadar anak kesayangan kami kembali pada-Nya. Ramadhan, jangan tinggalkan kami juga, Nak. Berhentilah menangis, masih ada kami temanmu bermain nanti. Seandainya kami punya cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit, tentu adikmu masih bersama kita. Maafkan kami, Nak”

Ramadhan menangis tersedu, rasanya ia ingin protes pada Tuhan. Tulisan itu berhenti di sana. Tak pernah disambung lagi. Entah ke mana ayah, ibu? Ada yang bilang mereka berpisah. Ada yang berkisah mereka meninggal dunia karena sakit yang sama dengan yang diderita oleh Lailatul Qadar.
Entahlah, Ramadhan tak pernah tahu.

“Tuhan, terimakasih atas kamar kecil di dekat ‘rumah-Mu’ ini. Maafkan aku yang terlalu bersedih dan takut tak mendapatkan rezeki dari-Mu. Terimakasih telah menyayangiku dengan cara-Mu.”

Ramadhan menutup buku hariannya, “Tuhan-Mu Maha Adil, Nak. Tuhan-Mu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.” Kata-kata itu terngiang di telinganya. Di penghujung bulan Ramadhan, sekali lagi ia belajar ikhlas dan bersyukur. Dia tak perlu baju putih yang baru, dia belum mampu membayar zakat bagi dirinya, dia akan sedikit lebih banyak berusaha untuk memperoleh rezekinya, dia mungkin tak berpikir seperti anak-anak seusianya, dia mungkin menjadi anak yang paling menyedihkan di hadapan manusia lainnya, tetapi mungkin dia lebih mengenal Tuhannya dibandingkan siapa saja…

“Ramadhan”
Sebuah suara terdengar dari balik pintu. Ia membukanya lebar-lebar, matanya berbinar-binar
“Ayo, kita shalat ied bersama.”
“Ayo, Kak Rama!” Tarik gadis kecil dengan mukena sedikit kebesaran, menarik-narik tangannya.
“Jangan kaku gitu, dong! Kamu kan sudah jadi anak papa sama mama. Mulai besok tinggal di rumah kita aja, ya.. Nanti sehabis silaturahmi kita bawa barang-barang kamu ke kamar kamu yang baru” Senyum perempuan itu tulus. Ramadhan tersenyum, matanya menatap satu persatu keluarga barunya. ‘Alhamdulillah’, bisiknya haru.

Penghujung Ramadhan

“ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUUM…”
Suara azan subuh berkumandang, Ramadhan bergegas menuju masjid, berwudhu dan berdiri tepat di belakang imam masjid. Seperti biasa, di hari terakhir bulan puasa masjid semakin sepi penghuninya. Kata orang-orang, jemaah masjid berbondong-bondong hijrah ke pusat perbelanjaan. Entahlah, Ramadhan tidak tahu.

“Pak, apakah arti idul fitri?”
Ramadhan menanyakan hal yang sama setiap tahunnya.
“Idul fitri artinya hari kemenangan setelah sebulan penuh kita berpuasa. Hari kita bersuka cita. Hari di mana kita diharapkan kembali suci seperti baru lahir.” Jawaban yang kira-kira sama ia terima setiap tahunnya. Ramadhan tersenyum, berterimakasih lantas kembali ke petak kamarnya.

“Ini zakat fitrah, nak. Buat kamu”
“Apa arti zakat fitrah, Pak?”
“Zakat yang wajib dikeluarkan umat Islam baik laki-laki, perempuan, besar atau kecil, merdeka atau budak, tua dan muda, pada awal bulan ramadhan sampai menjelang idul fitri. Zakat fitrah dikeluarkan berupa makanan pokok  yang dibayarkan sebanyak 3,2 liter, atau 2,5 kg. Tujuan zakat fitrah adalah untuk membersihkan jiwa atau menyucikan diri dari dosa-dosanya dan memberikan makan bagi fakir miskin.” Terang sang Bapak. Ramadhan mengucapkan terima kasih, menutup pintu petak kamarnya.

“Ah, Tuhan. Besok semua kembali seperti dulu. Sebelas bulan yang tak sama seperti bulan ini. Masjid yang sepi, semakin sepi. Aku masih ingat setiap hari di bulan puasa, orang-orang bertarawih, membawa makanan untuk berbagi saat buka puasa, memuja-Mu lebih dari biasa, orang-orang kaya menyumbangkan uang mereka tanpa diminta, sungguh aku bahagia melihatnya. Tapi, bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan fakir miskin lainnya? Yang puasa dua belas bulan lamanya? Kelaparan, kekurangan harta benda, yang tak bisa memberikan zakat fitrah untuk menyucikan dirinya?” Ramadhan meneteskan airmata. Menggarisi jejak airmata yang jatuh di buku hariannya.

Dibukanya kembali halaman awal di buku hariannya, sebuah tulisan tertoreh di sana,
“Ramadhan dan Lailatul Qadar, nama yang bagus sekali buat kalian, Nak. Kalian lahir tepat di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Hari di mana kata orang-orang Lailatul Qadar turun. Itu mengapa kami memberi namamu dan saudara kembarmu, Ramadhan dan Lailatul Qadar.”

Ramadhan sejenak berhenti membaca, menarik nafas panjang dan melanjutkan bacaannya,

“Hari ini, tepat idul fitri, Nak. Kami tidak punya baju baru dari toko. Hanya pemberian orang-orang yang kasihan melihat kalian. Tak apa ya? Tahun depan pasti kami punya cukup uang untuk membeli baju baru”

“Hari ini Lailatul Qadar demamnya semakin tinggi. Sejak kemarin. Kami sangat khawatir. Ramadhan yang sehat ya, Nak. Semoga adikmu cepat sembuh.”

“Rasanya kami tak ingin menulis kembali di buku harian ini. Setelah hari itu, Lailatul Qadar anak kesayangan kami kembali pada-Nya. Ramadhan, jangan tinggalkan kami juga, Nak. Berhentilah menangis, masih ada kami temanmu bermain nanti. Seandainya kami punya cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit, tentu adikmu masih bersama kita. Maafkan kami, Nak”

Ramadhan menangis tersedu, rasanya ia ingin protes pada Tuhan. Tulisan itu berhenti di sana. Tak pernah disambung lagi. Entah ke mana ayah, ibu? Ada yang bilang mereka berpisah. Ada yang berkisah mereka meninggal dunia karena sakit yang sama dengan yang diderita oleh Lailatul Qadar.

#Day9: Broken Vow, Book Review

image

Pertama kali buku ini berseliweran di timeline Stiletto Book (penerbit buku perempuan favorit saya), penasaran banget. Pasti bukunya bagus. Entah kenapa ketinggalan PO akhirnya malah beli belakangan (yang penting udah beli). Kebenaran suka dengan buku berbau adult romance, yang ceritanya biasanya seputar pra-wedding, before after married, yah pas aja sih buat yang udah nikah kaya saya.

Buku setebal 270 halaman ini dilahap habis dalam semalam. Selesai baca malah bikin baper dan ingat ama suami yang kebenaran waktu itu lagi dinas luar, kangen bro!

Ada tiga cerita dari tiga tokoh utama dalam buku ini, Nadya, Amara dan Irena.  Mereka bertiga dihadapkan pada permasalahan rumah tangga yang berbeda. Pada halaman awal buku, kamu akan bertemu dengan Nadya yang letih berkutat dengan pertanyaan “Kapan kawin?” You know lah ya rasanya menghadapi pertanyaan sejuta umat ini. Hingga akhirnya dia menikahi seorang pria yang sebenarnya tak pernah ia cintai.

Lalu Amara, sang Cinderella. Semua perempuan pasti sirik dengan kehidupannya, mau ini itu tinggal simsalabim langsung ada. Tapi cinta tak cukup sebatas harta karun kan? Dan Amara menyadarinya, ketika lelakinya masih saja terserang ‘penyakit yang sama’. Wabah terburuk bagi kehidupan rumah tangga dengan hadirnya orang dari masa lalu. Akankah Amara memaafkan sang pangeran?

Terakhir, Irena memiliki keluarga yang sepertinya menjadi dambaan semua wanita. Semua serba cukup dan bahagia. Hingga satu peristiwa mengubah seluruh rasa nyaman yang ada di keluarganya. Miris namun harus dihadapi.

Kisah tiga sahabat yang mengalir dan saling menyatu. Sahabat yang biasanya saling mengisi dan bahu membahu akhirnya kalah karena pikiran buruk masing-masing. Mereka memiliki masalah tersendiri yang sungguh menguras emosi. Penulis menceritakannya dengan porsi yang sesuai dan pemecahan masalah tidak tumpang tindih. Karakter ketiga tokoh juga bisa dituliskan dengan berbeda, hal yang cukup sulit biasanya bila berbicara tentang perempuan dan masalahnya dari tiga sisi yang berbeda.

Buku ini cukup memenuhi ekspektasi saya saat sebelum membelinya. Masalah yang disajikan sering kita saksikan dan alami di kehidupan sehari-hari. Cukup mengaduk emosi saya saat membacanya kala itu. Sebab beberapa masalah pasti pernah kita alami hanya dengan penyelesaian yang berbeda. Bagaimana kelanjutan kisah rumah tangga dari tiga sahabat di atas? Akankah keluarga mereka kembali harmonis atau sebaliknya? Bagaimana juga dengan persahabatan mereka bertiga yang sempat porak poranda? Baca sendiri ya… saya kasih tiga koma delapan bintang dari lima bintang buat buku ini.

Judul buku:  Broken Vow
Penulis: Yuris Afrizal
Penerbit: Stiletto Book

#Day8: Cinta Sembunyi yang Terhuni

Hari ini coba kau lihat ada berapa kupu yang mendekatimu?
Lalu kau mulai menghitung dengan cepat,
satu, dua, tiga, empat…

Sementara aku memandangi rupa polosmu yang terlihat terburu menjawab pertanyaanku

Hari ini coba kau lihat ada berapa banyak batu yang tumbuh di taman?
Lalu kau mulai berlari di antaranya menabrak ujung kakiku dan tertawa-tawa

Sementara aku mulai jatuh cinta pada pipimu yang kemerahan, pada anak rambut yang tergerai, dan pada tawa yang berderai

Coba kau lihat ada berapa rembulan?
Lalu kau tengadah menatap cahaya tak mengerti apa bedanya

Sedangkan aku jatuh cinta padamu seperti seorang pelayan yang jatuh cinta pada sang puan, mengusik takdirmu dengan kenyataan

Coba kau hitung sudah berapa uban yang kupunya? Lantas kau mulai membelainya helai demi helai, membauinya sampai kau terlelap kenang

Sedangkan aku makin jatuh cinta padamu seperti pertanyaan yang selalu kau lontarkan setiap hari, bertubi-tubi
Setiap pagi di bawah selimut tipis yang mulai usang tentang siapa yang orang-orang sebut dengan binatang jalang

Lalu suatu hari kita bermain lagi di taman batu, dan kau mulai bertanya ini dan itu
Apa ini? Tanyamu kala itu,
Menunjuk satu tempat yang selama ini selalu kita kunjungi, menunjuk ke kupu yang sama, menunjuk pada rembulan yang satu

Aku menghela napas, mengubahnya menjadi bentuk yang entah?
Maaf, sayang kali ini aku tak punya jawaban untukmu

Kau bertanya berkali-kali tentang hal yang sama
Berhari-hari, berganti musim, sampai kau berhenti bicara lantas bergeming

Aku terpekur menatapmu kala itu, tanpa tangis tanpa suara
Seharusnya tak perlu kau tanya tentang cinta, karena ia pasti tumbuh dengan takdirnya

Cinta tersembunyi di antara letupan letupan api dan di bawah bebatuan sungai yang mengalir air di bawahnya

Di antara genggaman tangan yang disebut kita

Di sanalah engkau tinggal, di antara yang tak berjarak, di antara yang bercahaya

Aku menyesal tak mampu menjawab pertanyaanmu, tak melakukan apa-apa sampai kau pergi

Harusnya kujawab saja saat itu, itu aku dengan segenap rasaku

Untukmu bidadari kecilku
Berbaringlah di sebelahnya
Di sebelah dia yang juga kucinta
Di sebelah pusara ibumu yang dulu pernah kau tanya