Nasi Tim Daging Cincang

Selamat pagi! Kali ini saya belajar masak lagi sama mama mertua. Menu kali ini buat si kecil Andara yang sudah 9 bulan, nama masakannya Nasi Tim Daging Cincang.

Jadi, ceritanya nih waktu bikin rendang kemarin, dagingnya saya ambil sepotong untuk dicincang halus. Nah, pagi ini daging cincangnya saya olah buat nasi tim. Selain daging, bahan lain yang diperlukan antara lain wortel dan buncis, boleh juga ditambah jagung manis yang dicincang halus supaya cepat matang. Bahan utamanya tentu saja beras sekitar tiga sendok makan. Jangan lupa semua bahan dicuci terlebih dahulu, ya? Iya. 🙂

Cara pengolahannya cukup mudah, masukan daging cincang, beras, dan tambahkan air yang perbandingannya 1:4. Tadi saya isi airnya kira-kira 3/4 panci kecil yang saya gunakan untuk memasak nasi tim.

Tutup pancinya dan tunggu sampai mendidih. Kalau sudah mendidih, masukan sayuran yang sudah dicincang tadi dan aduk sesekali agar nasinya tidak mutung/berkerak. Masak sampai nasinya lembut dan mengental. Jadinya mirip-mirip bubur ayam gitu deh… Jangan lupa tambahkan sedikit garam biar gurih. Hidangkan setelah nasinya dingin atau udah bisa dimakan sama si kecil.

Menu ini bisa buat satu hari, alias tiga kali makan si kecil. Maklum, sebagai ibu yang bekerja kantoran agak repot kalau setiap kali baby mau makan harus masak dulu. Kalau makannya banyak, berarti porsi masaknya boleh ditambah. Hehhehe..

Masa peralihan dari makan bubur ke nasi tim ini kadang juga bikin si kecil susah nelan makanannya. Jadi, terkadang nasi timnya Andara dihalusin lagi deh pake sendok biar ga tersedak saat makan. Dan Andara suka banget dengan menu ini. Oya, dagingnya boleh diganti dengan telur ayam kampung, ikan, atau ayam. Variasiin aja biar si kecil tidak bosan. Selamat mencoba! 😀

Advertisements

Resep Rendang via Telepon ala Saya dibimbing Mama Mertua

Haloo! Jumpa lagi dengan Saya, ibu satu anak yang baru belajar memasak. Kali ini saya memasak rendang. Makanan khas Sumatera Barat ini sangat terkenal. Menggunakan daging sapi, kelapa goreng, rempah-rempah dan santan. Berikut langkah-langkah yang saya tempuh hingga rendang saya matang (?)

Pertama, beli dulu daging sapinya sekitar satu kilogram. Lalu dipotong-potong. Jangan terlalu tebal karena lama matangnya (it’s happen to me) atau minta potong langsung sama tukang jagal saat membeli daging. Lalu, karena saya ga ngerti cara memasak rendang akhirnya saya putuskan menelepon mama mertua yang sedang di kantor. Loh, kok bukan mama sendiri? Iya, mama saya sedang sibuk juga. Ga masalah kan?

Nah, kata mama mertua saya nih.. Yang perlu disiapkan adalah bumbu rendang dan kelapa goreng (sangrai) -bisa beli jadi tuh di pasar. Kalau saya ambil di kulkas mertua. Hehehehe.. Oya, kelapa parut sekitar tiga ribu rupiah untuk diambil santannya. Peras sekitar empat kali deh…

Iris-iris juga dua siung bawang putih dan merah, lalu tumis dengan dua sendok cabe merah halus. Setelah itu masukan bumbu rendang, kelapa goreng, empat lembar daun salam dan dagingnya. Aduk hingga merata. Kecilkan api dan tutup sampai kaldu dagingnya keluar dan masak sampai kaldunya mengering sambil sesekali diaduk. Orang bilang ini kayak bagar gitu…

Kalau airnya sudah kering, baru tuang santan sampai dagingnya kelelep minta tolong. Nah, aduk dah tuh santan dengan gaya ditimba-timba. Pura-puranya mau nyelamatin daging yang tenggelam padahal cuma PHP doang! Istilahnya nih ya, jangan sampai ‘pecah kuah’ atau kalau enggak rendangnya masuk dalam kategori gagal.

Pokoknya ditimba terus sampai tangan pegel dan santan mendidih. Kalau sudah mendidih ga perlu terus diaduk, sesekali aja ngaduknya jangan sampai kelapanya jadi kerak ga jelas di dasar wajan. Masak deh sampai dagingnya empuk dan santannya mengering. Kudu sabar eaaa…

Kalau sudah matang tinggal disajikan. Hmmm.. Resep rendang via telepon ala saya dibimbing mama mertua siap disajikan. (Semoga enak 0:))

Prompt #53: Ice Cream and Teddy Bear: A Thief

sumber gambar

Malam semakin larut, sementara hujan dari tadi sore masih menyisakan rintiknya. Aku masih terjaga di kamar tidurku. Membayangkan suasana yang tercipta tadi siang ketika pipiku merona merah saat bertemu dengannya, si lelaki ice cream. Yes, he’s so cool! Cocok dengan hobinya mengonsumsi es dengan cone itu. Rasanya aku masih bisa menikmati vanila yang tercecer di tepi bibirnya.

Krosak!
Telingaku menangkap suara berisik dari arah ruang makan. Bahkan terdengar sangat jelas sebab kamarku memang berada paling dekat dengan ruangan itu. Bunyinya seperti ketika ibu mengeluarkan belanjaannya dari kantung plastik. Bulu kudukku meremang. Ayah dan ibu sedang di luar kota. Malam ini artinya aku hanya berdua dengan Mbak Nia yang sedang tertidur pulas di sebelahku.

Jleg!
Kali ini aku yakin, itu bunyi pintu kulkas yang ditutup. Pencuri! Batinku cemas. Tapi, apa yang dilakukan pencuri itu dengan membuka-tutup pintu kulkas? Mencuri makanan? Aneh… Lagi pula seingatku di kulkas hanya ada sayuran dan daging mentah.

Jleg!
Bunyi itu berulang lagi, beberapa kali. Aku benar-benar penasaran. Siapa atau apa itu? Kugoyangkan tubuh Mbak Nia, mencoba membangunkannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia bergeming. Huh, percuma! Ia selalu saja tidur seperti mayat. Kuputuskan untuk menyelidikinya sendirian.

Jlag! Jleg! Jlag! Jleg!
Bunyi itu berirama semakin sering. Jantungku rasanya memompa lebih cepat. Berjingkat kudekati ruang makan, jaraknya hanya sekitar tujuh langkah dari pintu kamar. Kuintip dari balik dinding, satu sosok sedang mencari sesuatu di dalam freezer lalu berpindah ke kulkas bagian bawahnya. Mataku terbelalak kaget melihat sosok itu, “Ka.. Ka.. Kala!” Aku terpekik tertahan. Sosok teddy bear bernama Kala itu membalasku dengan sorotan mata tajam dan wajah menyeringai yang penuh ice cream.

***

Handphone Pertamaku

“Ma.. Dedek mau handphone..”
“Iya, sayang. Nanti ya?”
“Kapan, Ma?”
“Nanti. Mama belum ada uangnya sekarang”
“Tapi nanti belinya yang paling mahal ya, ma?”
“Iya…”

Aku tersenyum senang mendengar janji mama. Mama pasti menepati janjinya dan itu artinya tak lama lagi aku punya handphone sendiri. Cihuy! Aku bisa pamerin ke Cindy, Lala, Mona, Poo… Membayangkannya membuatku sampai senyum-senyum sendiri.

***

“Ma?”
“Ya?”
“Besok tanggal satu kan?”
“Iya…”
“Papa gajian kan?”
“Hmm… Terus?”
“Terus, papa kasih mama uang belanja kan?”
“Iya…”
“Artinya besok mama punya uang, dong!”
“So?”
“So, mama beliin aku handphonenya jadi kan?”
“Beres…”
“Yes!”

***

Aku tak sabar menunggu mama pulang dari belanja. Deg-degan handphone seperti apa yang dibelikan mama. Apakah sebagus punya Lala? Ataukah warnanya secantik milik Cindy?

“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam, mama” jawabku sembari membukakan pintu. Mataku menatap kantong-kantong belanjaan itu mencari sesuatu.

Mama membongkar isi belanjaannya, dimulai dari sabun, pasta gigi, shampoo, sayuran, daging segar, buah import…
“Mana handphone dedek, ma?” Tanyaku tak sabar.
“Ah, iya”
Mama mengeluarkan bungkusan lain dari dalam tasnya.
“Ini. Baguskan?”
“Bagus sekali!” Teriakku bersemangat. “Terimakasih, Ma…” Ucapku sambil mengecup pipinya.

Kutekan tombol-tombolnya, dari speaker di belakang handphone-ku itu terdengar lagu Happy Birthday, Marry had a little lamb, Entertainer…
AKU SENANG!

***

FF ini diikutsertakan dalam GA-nya Emak Isti’adzah Rohyati

Lorong

Aku berdiri di sini, di dalam sebuah benteng tua peninggalan penjajah. Menanti seseorang, sosok tegap dengan dada bidangnya. Mataku tak lepas dari pintu masuk benteng yang tampak kokoh, terbuat dari baja bercat hitam dan usianya sudah ratusan tahun. Tingginya sekitar tiga meter dan sebelum memasukinya kau harus melewati jembatan kayu besar berpalang besi dengan parit yang menganga lebar di bawahnya.

“Aaaaa… Setan!” Teriakku. Tangan besar itu mencengkram kedua pundakku, kencang. Sakit rasanya.

“Sssttt… Ini aku, sayang” bisiknya sambil membalikan badanku menghadapnya. Belum habis rasa terkejutku, ia begitu saja mengambil satu, oh tidak! Dua, dua kecupan di bibirku.

“Sam! Kau ini lancang!” Makiku. Marah sekaligus malu. Khawatir jangan-jangan ada pengunjung benteng lainnya yang melihat kejadian barusan. Sam, lelaki yang sedari tadi kutunggu hanya terkekeh, mungkin merasa puas atas keberhasilannya tadi. Iya, ia berhasil begitu saja mengecup bibirku tanpa permisi, tanpa komisi!

Hei! Jangan kalian pikir aku ini perempuan nakal yang sedang menunggu pelanggan. Aku perempuan biasa, mahasiswi yang rajin kuliah dan wajar bila jatuh cinta. Entah Samsul ini pacarku yang keberapa. Aku lupa, malas menghitungnya. Prinsipku, lelaki yang jadi pacarku haruslah memenuhi kebutuhanku. Tak ada yang gratis.

“Kita makan siang dulu, yuk?” Ajaknya. Aku mengangguk setuju. Kami keluar dari benteng tua itu, menyeberangi jembatan dan sampailah di tepi jalan raya. Di seberang sana ada pasar tradisional, penuh dengan kios-kios penjual makanan. Bila kau masuk lebih jauh ke dalam pasar, ada banyak pertokoan lama namun tetap ramai dikunjungi pelanggan karena barang-barang yang ditawarkan lebih murah dengan kualitas dan merek yang sama dibandingkan dengan harga mall. Kami memilih kios makanan yang terkenal dengan ayam bakar dan es telernya. Lidahku tak henti berdecap menanti keduanya dihidangkan.

***

“Sam…”
“Hmm?”
“Bangun, Sam. Senja hampir tenggelam. Kita harus pulang, sekarang!”
“Nanti, sayang. Aku masih mengantuk. Lagi pula kau janji kan menemaniku seharian?”
Ia menjawabku sambil berusaha mendekap tubuhku lebih erat.
“Tapi, Sam…”
“Ssshhh…” Ia melakukannya lagi. Mengunci protesku dengan bibirnya yang pahit karena nikotin.

***
BRAAAAKKK!

“Jadi ini kelakuan kamu di belakang aku?”

Dua pasang mata itu membelalak mencoba menutupi bagian tubuh yang tak seharusnya terlihat.

“Dasar brengsek! Kelakuan lu ga juga berubah! Gue udah hamil Sam!”

Sam tersenyum sinis.
“Gue selalu bayar tiap make elu!”

“BANGSAT! ANJING LU!”

***

Hujan membasahi bumi.
Aku tak ingin melihat Sam lagi. Kukira ia jatuh cinta sepertiku, ternyata cuma hayalan indahku saja.
Sam tak lebih dari lelaki yang hanya menganggap perempuan rendah, bisa dibeli dengan mudah.
“Selamat tinggal, Sam…” Bisikku sebelum membuang pisau berlumuran darah itu.