[FF CINTA PERTAMA] Cinta Pertama Audrey

“Jadi kamu punya pacar sekarang?”
Aku tersenyum kecil menganggukan kepala. “Namanya Soni, Tante”
Bibir tante Gina membentuk huruf ‘O’ bulat sempurna.

***

Aku kembali asik dengan smart phone-ku

‘Kamu lagi ngapain, sayang?’
‘Lagi santai aja nih. Kamu?’
‘Merokok’
‘Kok jawabnya pendek sih?’
‘Harus panjang-panjang ya?’
‘Iya. Harus’
‘Oooohhhhhh… Iyaaa deeehhh’
‘Ih, Kak Soni ini!’
‘Kenapa sayang?’
‘Kakak tuh nyebelin. Jawabannya ga nyambung!’
‘Ketemuan yuk? Masa pacarannya lewat chatting melulu?’
‘Tuh, kan.. Ga nyambung!’
‘Mau ga?’
‘Di mana?’
‘Danau Dendam Tak Sudah’
‘Ngapain?’
‘Asik loh sore-sore di sini. Sambil makan jagung bakar dan minum es kelapa muda. Liatin orang mancing…’
‘Kapan?’
‘Sekarang. Aku tunggu ya!’

Bergegas kukendarai roda duaku. Letaknya tak begitu jauh, hanya sekali belokan di ujung jalan.

***

Dua sejoli duduk di pondok kayu tepi danau, asap jagung bakar masih mengepul. Air kelapa muda baru diseruput dua teguk saja.
“Om Soni ga takut dimarahin tante?”
“Loh, kok takut?”
“Iya. Om kan suaminya tante Gina. Emangnya tante ga cemburu?”
Lelaki itu tertawa mendengar pertanyaanku.

“Sudah dong sayang… Aku capek role play pulang yuk?”
Aku mengangguk cepat.

“Aku mencintaimu, Gina…”
“Aku juga Soni… Besok kita jadi Cinderella dan Pangeran ya…”
Seperti biasanya ia tersenyum manis sekali.

Kami berdua bergandengan tangan. Meninggalkan kisah cinta pertama Audrey di dasar Danau, yang sebenarnya tak pernah ada.

***

Andai Dia Tahu

Rasanya seperti diguncang gempa 7 skala richter! Hatiku tak karuan dibuatnya. Wajahnya, senyumnya, alis mata bagai semut berbaris, bibir yang merah merekah… Ya! Aku sepertinya jatuh cinta…

***

“Diandra… Ibu Diandra…”
Suara seorang perempuan memanggil. Ah, sudah saatnya. Perlahan kulangkahkan kaki memasuki sebuah ruangan bernuansa hijau. Seorang pria paruh baya menyambutku dengan senyuman yang ramah.

***

“Tidak ada kontraksi sama sekali? Gerakannya?”

***

Lagi-lagi rasanya seperti diguncang gempa, tapi kali ini 10 skala richter! Hatiku makin tak karuan dibuatnya. Wajahnya, senyumnya, alis mata bagai semut berbaris, bibir yang merah merekah… Ya! Aku benar-benar jatuh cinta…

***

“Ia cantik sekali” Bisik suamiku lekat di telinga. Aku mengangguk, setuju. Masih terbayang saat dokter memperlihatkan wajah mungilnya ketika ia berhasil keluar dari rahimku.

***

“Bayinya sudah terlalu banyak meminum air ketuban!”

Samar kudengar orang-orang itu berkata. ‘Bayiku?’

***

Suara tangis seketika pecah. Sedu sedan bergema di setiap sudut ruang.
Aku menangis sejadi-jadinya.
‘Belum sempat aku berbuat baik padamu, menghujanimu dengn ciuman penuh cinta. Aku sungguh akan selalu menyayangimu, Ibu…’