Our First Trip

Hari ini 17 Februari 2014.
Berdua dengan anak gadis yang berusia 4 bulan 23 hari, menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Berangkat dari rumah Neknang menuju rumah Datuk.

Setelah berbagai persiapan yang dimulai dari packing pakaian, peralatan mandi, susu, ayunan, bouncer, perlak, kelambu, baju kerja ibu, sepatu, dan lain-lain. Kami siap berangkat. Diiringi lambaian tangan Bapak yang sengaja izin pulang kantor selama 15 menit, kamipun berangkat.

Gadis kecil duduk di atas car seat-nya. Menatap senang pada mainan karet berwarna hijau berbentuk domba yang bila digoyang, bola di dalamnya akan menyala warna warni. Sambil sesekali melirik keluar jendela mobil. Sementara ibu bekerja ekstra, antara mengendarai mobil dan mengajak si kecil mengobrol.

Ini perjalanan kami yang pertama. Biasanya selalu pergi ke mana-mana bertiga dengan Bapak. Kami harus melewati DELAPAN lampu lalu lintas untuk sampai ke rumah datuk. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam lampu lalu lintas terlewati… Perjalanan masih terasa lancar.

Namun, tanda-tanda gadis mulai tak betah duduk di car seat sudah terlihat ketika melewati lampu yang ke-enam. Ia mulai merengek dan menangis! Jadilah ibu bingung dan panik. Perjalanan tak jauh lagi, tangis gadis makin pecah. Ibu memberikan susu botol, namun ia tetap menangis. Mungkin ia merasa panas, haus dan mengantuk. Maklum saat itu sudah pukul dua belas siang!

Hingga tibalah kami di rumah datuk. Mobil diparkirkan di tepi jalan. Ibu turun dari mobil dan segera menggendong sang gadis kecil yang masih terisak. Kasihan sekali :'((

Setelah ditenangkan gadis kecil mulai tersenyum. Benar adanya, ia mengantuk dan lapar. Setelah diberi ASI, iapun terlelap. Ibu meletakkan ia di ayunan, namun ia hanya tertidur sebentar. Matanya kembali terbuka dan mengajak orang-orang di sekitarnya bermain. Ayo kita main!

Sudah waktunya Ibu harus berangkat kerja, mengajar anak kelas sore di SMP. Akan tetapi si kecil belum mau ditinggal. Jadilah ibu memberi kabar ke sekolah, agar anak kelas 7. K diberi tugas dahulu karena ibu akan datang terlambat. Oke, satu urusan untuk sementara dianggap kelar. Si kecil akhirnya digendong nenek dengan kain panjang sambil diberi susu. Ia terlihat senang. Maka, ibupun segera bertukar pakaian dan berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, langsung masuk kelas dan mengajar. Meski pikiran masih tertinggal pada anak gadis di rumah datuk. Menangiskah ia? Rewel ga ya? Aduh…
Satu kelas selesai. Istirahat dulu. Masih ada sekelas lagi. Kebenaran ada mahasiswi praktik mengajar, jadi ibu tinggal mengawasi sebentar memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan baik. Lalu, berangkat pulang, menemui kembali si gadis kecil.

Ah, leganya melihat ia tertidur lelap di ayunan. Kata nenek tadi dia menangis karena pup. Padahal sebelumnya ia tertawa senang saat duduk main di bouncer. Oke, hal yang wajar. ๐Ÿ™‚
Sambil menunggu gadis kecil terjaga dari tidurnya, ibu berganti pakaian dan menyiapkan keperluan mandi si kecil. Tak lama semua beres dan si kecilpun bangun. Kami bermain sebentar, minum susu, kemudian bersiap untuk mandi.

Pakaian gadis kecil sudah dilepaskan, tinggal dimandikan. Perlahan namun pasti ibu meletakannya perlahan di dalam baskom mandi. Awalnya ia berkespresi biasa, baru saja disiram seluruh badannya ia mulai menangis lagi. Ibupun mengangkatnya keluar dari baskom dan memberinya susu. Setelah itu mencoba untuk yang kedua kalinya. Oke, gadis kecilpun mandi dengan riang.

Udara panas mungkin salah satu penyebab anak kecil menangis. Saat sesi memakai baju, iapun mulai merengek lagi. Ibupun kembali panik karena sang anak mulai menjerit.

“Aaaa… Huaaaa…”

Secepat kilat baju dipakaikan pada si kecil. Lalu digendong, disusuin dan tidur dengan sukses! *fiuh*

Hari sudah menjelang magrib. Gadis kecil masih dipeluk erat, tidur dengan nyenyaknya. Pastilah Bapaknya khwatir di rumah. Kabar buruknya, ponsel sudah mati kehabisan daya. Kabar baiknya, ibu hapal nomor ponsel bapak dan bisa pakai telepon rumah datuk.

“Iya. Ini pulangnya abis magrib aja ya, Pak. Gadis masih tidur!”

“Oke. Ditidurin aja di car seat, kalau mau pulang nanti” saran bapak.

Klik telepon ditutup dan mata si gadis kecil terbuka selebar-lebarnya.

Magrib berlalu, gadis kecil sudah duduk manis di carseatnya. Kamipun pamit pulang. Dua lampu merah sudah terlewati. Si kecil mulai gelisah dan kembali rewel. Untuk kesekian kalinya ibu panik. Akhirnya dengan keahlian yang luar biasa dikaruniakan oleh Tuhan, ibupun segera memberi susu botol untuk gadis kecil menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanan tetap memegang kemudi. Kaki kanan dan kiri bergantian menginjak gas, rem, dan kopling!

Duh! Gimana cara oper gigi? Sementara kalau botol susu dilepas, otomatis gadis kecil menangis. Satu-satunya cara, pakai tangan kanan. Berhasil! Satu masalah terpecahkan lagi. Masalah lainnya, si gadis kembali rewel dan… Ibu baru ingat, mungkin gadis kecil ingin dinyanyikan sebuah lagu yang diciptakan dan diaransemen sendiri oleh ibu.

“Aku gadis cantik tak suka nangis. Aku gadis pintar tak suka nakal…”
Berkumandanglah lagu itu sepanjang perjalanan pulang. Ajaib! Si gadis tampak tenang, ia menghisap kembali susu dari botolnya, sementara ibu bekerja keras agar selamat menyetir mobil sampai di rumah neknang.

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Ibu dan anak pulang tanpa kurang suatu apapun dan ibu menobatkan dirinya sendiri sebagai pengendara mobil profesional.

Demikian perjalanan pertama antara ibu dan anak. Sangat berkesan ya? ๐Ÿ˜€

Advertisements

2 thoughts on “Our First Trip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s