Semut Pembual

Pagi yang sangat cerah, matahari sudah menyapa seisi alam. Terlihat Toto seekor semut pekerja sedang bersantai di bawah rindangnya dedaunan ketika teman-temannya yang lain giat bekerja.

“Hei, kau tak ikut dalam kelompokmu?” Tegur Lili si kupu-kupu saat melihat Toto.

“Kenapa aku harus ikut?” Tanyanya balik.

“Ya, setidaknya kau harus membantu teman-temanmu mengumpulkan makanan.” Jawab Lili.

Toto tersenyum seraya berkata, “Aku ini semut bangsawan, ratu semutpun sudah memberiku izin untuk bersantai.” tukas Toto.

Lili hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan Toto. Lalu terbang menghinggapi bunga-bunga yang bermekaran untuk diambil sarinya.

“Masih pagi kau sudah santai, Toto?” Kali ini suara Kaka si belalang terdengar.

“Aku bukannya sedang bersantai, tapi sedang ditugaskan oleh ratu menghitung jumlah daun yang jatuh.” Jawab Toto membual.

“Tugas dari ratu?” Kaka merasa heran.
“Iya, itu tugas yang lebih penting dari sekadar mencari makanan di hutan. Saat daun terakhir nanti jatuh, itu tandanya musim hujan akan tiba. Lalu aku akan memberitahukannya pada ratu” Jelas Toto.

Kaka memandang ke atas pohon, dedaunan masih demikian lebatnya. Belum lagi tunas-tunas baru yang terus tumbuh.

“Jadi, menurutmu berapa lama lagi dedaunan itu akan jatuh semua?” Kaka mencoba menghitung-hitungnya.

“Wah, mungkin masih berhari-hari. Kau tunggu saja beritanya.” Jawab Toto mulai jengkel.

Kaka berlalu, menuju ladang padi.

Tak hanya Lili si kupu-kupu dan Kaka si belalang, semakin hari semakin banyak yang membicarakan perangai Toto yang suka membual dan mengarang cerita. Hingga sampailah berita itu ke telinga sang ratu semut. Ia sungguh terkejut mendengarnya.

Ratu segera menyusun strategi untuk menegur Toto yang mulai keterlaluan karena selalu membawa-bawa nama ratu dalam bualannya.

***

“Hai, apakah engkau yang bernama Toto? Semut bangsawan yang diberi tugas khusus oleh ratu?” Tanya seekor semut pada suatu pagi.

“Ya, itu aku!” Ujarnya bangga.

“Wah, kebetulan sekali. Aku butuh bantuanmu.” Ucap semut asing itu.

“Bukannya aku tak mau membantumu tetapi aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.” Bual Toto sambil merebahkan tubuhnya kembali.

“Benarkah? Lantas apa pekerjaan khususmu itu? Kulihat kau hanya bersantai saja di sini”

“Aku menghitung jumlah daun yang jatuh hingga nanti tersisa satu daun saja. Itu berarti musim hujan segera tiba. Lalu aku akan memberitahukannya pada sang ratu”

“Sungguh pekerjaan yang berat!” Tukas semut asing itu.

“Tentu saja. Ngomong-ngomong kamu siapa?” Toto mulai jengah karena kelihatannya semut asing itu tak jua akan beranjak dari tempatnya.

“Aku? Aku ditugaskan ratu untuk menanyaimu, sudah berapa jumlah daun yang jatuh. Sebab ratu khawatir, engkau lupa atau tertidur saat bertugas.”

Toto terperanjat. Utusan ratu? Diperhatikannya semut di hadapannya itu dengan seksama. Kelihatannya ia memang semut bangsawan. Toto mulai cemas, karena selama ini sebenarnya ia hanya berbohong.

“Jadi, Toto, sudah berapa jumlah daun yang jatuh?” Semut utusan itu mengeluarkan buku catatan berstempel kerajaan. Siap untuk menulis.

Toto merasakan tubuhnya berkeringat deras. “Se.. Sembilan ratus tiga puluh tiga..” Jawab Toto asal menebak.

“Jangan berbohong! Menurut catatan dari kerajaan jumlah daun di pohon inii seluruhnya hanya tujuh ratus delapan puluh sembilan lembar.”

“Tidak. Aku menghitungnya. Bukankah juga ada tunas yang terus tumbuh?” Kilah Toto.

“Ya, kau benar. Mungkin catatan ini yang salah. Baiklah, kalau begitu aku akan melaporkannya pada ratu.” Semut itu beranjak pergi menuju istana.

Toto tersenyum licik. Merasa menang.

***

Esoknya, semut utusan itu datang kembali dan ia masih mendapati Toto di bawah rindang dedaunan, sedang tertidur pulas.

“Ehm.. Ehm..” Semut utusan itu berdehem beberapa kali.

Toto memicingkan matanya, melompat kaget melihat semut utusan ratu sudah berada di hadapannya.

“Kau tertidur saat bertugas?” Semut itu mulai menginterogasi Toto.

“Tidak! Aku hanya sedang mengingat jumlah daun yang sudah kuhitung. Kau tahu kan, dengan memejamkan mata kita lebih cepat mengingat sesuatu?” Elak Toto, sigap.

“Oh, benarkah? Apakah itu menjamin kau akan benar-benar tak akan melewatkan selembar daunpun?”

“Tentu. Aku ini semut terlatih. Kau ataupun ratu tak perlu khawatir akan hal itu.”

“Baiklah. Kalau begitu sesuai perintah ratu, akupun akan duduk menemanimu mencatat daun yang jatuh! Oya, ratu juga berpesan agar tiap ada daun jatuh kau berteriak sekeras-kerasnya. Sebab, ratu ingin mendengar jumlahnya langsung darimu.” Ucap semut utusan itu panjang lebar sambil mengeluarkan buku catatannya.

Toto benar-benar terkejut mendengarnya. Keringatnya mengalir deras. Mau mengelak sudah tak mungkin.

“Hei! Kenapa diam? Itu ada daun yang jatuh!” Tegur semut utusan.

“Oh, baiklah. Seribu satu!” Teriak Toto sembarang dan lantang.

***

“Seribu seratus tiga belas!” Toto masih berusaha berteriak sekuat tenaga. Padahal tubuhnya sudah begitu lemah. Seharian tanpa istirahat dan harus terjaga.

“Se.. Se.. Semut utusan… Aku sudah letih. Bisakah kita berhenti sebentar?” Rengek Toto.

“Apa kau bilang? Aku tak mau ratu naik pitam gara-gara kau salah menghitungnya!” Tukas semut utusan itu marah.

Totopun terpaksa melanjutkan hitungannya hingga akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri karena kelelahan.

***

“Se.. Se.. Seribu tiga ratus…”
Toto mengigau. Lantas tersentak bangun.

Koloni semut serentak menertawakannya. “Hahahahahaha…”

Toto melihat sekelilingnya. Semua temannya ada di sana, Sisi, Lulu, Robo, Baba, semut utusan dan… Ratu!

Toto memberikan hormatnya pada ratu. Ia tak berani mengangkat kepalanya.

“Nah, Toto. Sekarang ceritakan padaku semuanya.” Ucap ratu.

“Maafkan saya, Ratu. Saya sudah berbohong kalau saya adalah semut bangsawan dan mendapat tugas khusus dari ratu, menghitung daun yang jatuh.”

Ratu semut mengangguk, seraya tersenyum ia berkata, “Aku senang kau mau mengakui kesalahanmu. Kau berjanji tak akan membual lagi?”

“Tentu, Ratu. Saya berjanji. Tolong ampuni saya.” Mohon Toto, memelas.

“Baiklah, karena kamu sudah mengakui kesalahan dan berjanji tak berbohong, aku maafkan kesalahanmu. Namun, kau tetap harus mendapatkan hukuman. Mulai besok kau harus membantu semut lainnya mencari makanan dan menghitung berapa banyak makanan yang terkumpul pada hari itu.” Titah Ratu.

“Baik, Ratu. Saya akan laksanakan.” Patuh Toto menyanggupi.

“Oya, putriku akan mengawasi pekerjaanmu.” Lanjut ratu seraya menunjuk sang semut utusan.

Toto terperanjat, jadi semut utusan itu adalah Putri Semut? Ia merasa malu sekali. Ternyata selama ini, kebohongannya sudah lama terbongkar.

“Kau siap bertugas besok, Toto?” Tanya Putri semut dengan wajah ramah.

“Siap, Putri!” Jawab Toto bersungguh-sungguh.

***

Sejak hari itu, Toto menjadi semut yang rajin. Berkat ketekunannya, ia juga dipercaya ratu menjadi kepala gudang makanan. Hingga musim penghujan tiba, tak satupun koloni semut yang kelaparan. Semua mendapatkan makanan. Koloni semut hidup makmur dan sejahtera.

Resep Sambal Terasi Rumahan

Resep sambal terasi rumahan. Bahan yang diperlukan adalah cabe merah secukupnya bukan cabe-cabean. Lalu, bawang merah, bawang putih biarin mereka berantem. Gula merah aren, tomat, garam serta tidak lupa terasi, minyak sayur, dan yang terakhir air buat mereka mandi biar ga bau terasi.

Nah, sekarang kita ke pengolahannya. Siapkan kuali yang tak terlalu besar apalagi terlalu kecil. Pokoknya yang sedang-sedang aja. Lalu mari kita komporin mereka supaya bertengkar.

Caranya mudah, panaskan minyak sayur, masukkan cabe, bawang merah, bawang putih, tomat, garam, gula aren, terasi dan air. Rebus semuanya hingga layu dan ga ribut-ribut lagi. Pastikan pertengkaran keluarga mereka tidak terdengar tetangga dengan cara menutup kuali. Biarkan hingga airnya tersisa sedikit.

Setelah itu jangan lupa matiin kompor. Cek, apakah mereka sudah tidak berantem lagi atau masih dengan egonya masing-masing? Biasanya sih, yang mengalah tomat, terasi, gula, dan garam. Mereka sudah lebur, lunak tiada dendam. Buat cabe-cabean dan bawang-bawangan perlu usaha lebih keras.

Jadi yang harus kamu lakuin, siapkan batu giling (ibu dan anaknya). Nah, terus halusin deh tuh semua bahan yang ada di kuali. Lindes pake batu giling. Inget ya, ga usah terlalu halus. Hati-hati juga tangan anda ikutan panas karena terlalu banyak mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Kalau sudah, masukin deh ke mangkuk sambal. Tinggal dihidangkan dengan pecel lele, lalapan dan nasi yang hot. Hmmm yummy…

Demikian resep sambal terasi rumahan ala kadarnya. Selamat mencoba!

Resep Sambal Terasi Rumahan

Resep sambal terasi rumahan. Bahan yang diperlukan adalah cabe merah secukupnya bukan cabe-cabean. Lalu, bawang merah, bawang putih biarin mereka berantem. Gula merah aren, tomat, garam serta tidak lupa terasi, minyak sayur, dan yang terakhir air buat mereka mandi biar ga bau terasi.

Nah, sekarang kita ke pengolahannya. Siapkan kuali yang tak terlalu besar apalagi terlalu kecil. Pokoknya yang sedang-sedang aja. Lalu mari kita komporin mereka supaya bertengkar.

Caranya mudah, panaskan minyak sayur, masukkan cabe, bawang merah, bawang putih, tomat, garam, gula aren, terasi dan air. Rebus semuanya hingga layu dan ga ribut-ribut lagi. Pastikan pertengkaran keluarga mereka tidak terdengar tetangga dengan cara menutup kuali. Biarkan hingga airnya tersisa sedikit.

Setelah itu jangan lupa matiin kompor. Cek, apakah mereka sudah tidak berantem lagi atau masih dengan egonya masing-masing? Biasanya sih, yang mengalah tomat, terasi, gula, dan garam. Mereka sudah lebur, lunak tiada dendam. Buat cabe-cabean dan bawang-bawangan perlu usaha lebih keras.

Jadi yang harus kamu lakuin, siapkan batu giling (ibu dan anaknya). Nah, terus halusin deh tuh semua bahan yang ada dikuali. Lindes pake batu giling. Inget ya, ga usah terlalu halus. Hati-hati juga tangan anda ikutan panas karena terlalu banyak mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Kalau sudah, masukin deh ke mangkuk sambal. Tinggal dihidangkan dengan pecel lele, lalapan dan nasi yang hot. Hmmm yummy…

Demikian resep sambal terasi rumahan ala kadarnya. Selamat mencoba!

Our First Trip

Hari ini 17 Februari 2014.
Berdua dengan anak gadis yang berusia 4 bulan 23 hari, menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Berangkat dari rumah Neknang menuju rumah Datuk.

Setelah berbagai persiapan yang dimulai dari packing pakaian, peralatan mandi, susu, ayunan, bouncer, perlak, kelambu, baju kerja ibu, sepatu, dan lain-lain. Kami siap berangkat. Diiringi lambaian tangan Bapak yang sengaja izin pulang kantor selama 15 menit, kamipun berangkat.

Gadis kecil duduk di atas car seat-nya. Menatap senang pada mainan karet berwarna hijau berbentuk domba yang bila digoyang, bola di dalamnya akan menyala warna warni. Sambil sesekali melirik keluar jendela mobil. Sementara ibu bekerja ekstra, antara mengendarai mobil dan mengajak si kecil mengobrol.

Ini perjalanan kami yang pertama. Biasanya selalu pergi ke mana-mana bertiga dengan Bapak. Kami harus melewati DELAPAN lampu lalu lintas untuk sampai ke rumah datuk. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam lampu lalu lintas terlewati… Perjalanan masih terasa lancar.

Namun, tanda-tanda gadis mulai tak betah duduk di car seat sudah terlihat ketika melewati lampu yang ke-enam. Ia mulai merengek dan menangis! Jadilah ibu bingung dan panik. Perjalanan tak jauh lagi, tangis gadis makin pecah. Ibu memberikan susu botol, namun ia tetap menangis. Mungkin ia merasa panas, haus dan mengantuk. Maklum saat itu sudah pukul dua belas siang!

Hingga tibalah kami di rumah datuk. Mobil diparkirkan di tepi jalan. Ibu turun dari mobil dan segera menggendong sang gadis kecil yang masih terisak. Kasihan sekali :'((

Setelah ditenangkan gadis kecil mulai tersenyum. Benar adanya, ia mengantuk dan lapar. Setelah diberi ASI, iapun terlelap. Ibu meletakkan ia di ayunan, namun ia hanya tertidur sebentar. Matanya kembali terbuka dan mengajak orang-orang di sekitarnya bermain. Ayo kita main!

Sudah waktunya Ibu harus berangkat kerja, mengajar anak kelas sore di SMP. Akan tetapi si kecil belum mau ditinggal. Jadilah ibu memberi kabar ke sekolah, agar anak kelas 7. K diberi tugas dahulu karena ibu akan datang terlambat. Oke, satu urusan untuk sementara dianggap kelar. Si kecil akhirnya digendong nenek dengan kain panjang sambil diberi susu. Ia terlihat senang. Maka, ibupun segera bertukar pakaian dan berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, langsung masuk kelas dan mengajar. Meski pikiran masih tertinggal pada anak gadis di rumah datuk. Menangiskah ia? Rewel ga ya? Aduh…
Satu kelas selesai. Istirahat dulu. Masih ada sekelas lagi. Kebenaran ada mahasiswi praktik mengajar, jadi ibu tinggal mengawasi sebentar memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan baik. Lalu, berangkat pulang, menemui kembali si gadis kecil.

Ah, leganya melihat ia tertidur lelap di ayunan. Kata nenek tadi dia menangis karena pup. Padahal sebelumnya ia tertawa senang saat duduk main di bouncer. Oke, hal yang wajar. 🙂
Sambil menunggu gadis kecil terjaga dari tidurnya, ibu berganti pakaian dan menyiapkan keperluan mandi si kecil. Tak lama semua beres dan si kecilpun bangun. Kami bermain sebentar, minum susu, kemudian bersiap untuk mandi.

Pakaian gadis kecil sudah dilepaskan, tinggal dimandikan. Perlahan namun pasti ibu meletakannya perlahan di dalam baskom mandi. Awalnya ia berkespresi biasa, baru saja disiram seluruh badannya ia mulai menangis lagi. Ibupun mengangkatnya keluar dari baskom dan memberinya susu. Setelah itu mencoba untuk yang kedua kalinya. Oke, gadis kecilpun mandi dengan riang.

Udara panas mungkin salah satu penyebab anak kecil menangis. Saat sesi memakai baju, iapun mulai merengek lagi. Ibupun kembali panik karena sang anak mulai menjerit.

“Aaaa… Huaaaa…”

Secepat kilat baju dipakaikan pada si kecil. Lalu digendong, disusuin dan tidur dengan sukses! *fiuh*

Hari sudah menjelang magrib. Gadis kecil masih dipeluk erat, tidur dengan nyenyaknya. Pastilah Bapaknya khwatir di rumah. Kabar buruknya, ponsel sudah mati kehabisan daya. Kabar baiknya, ibu hapal nomor ponsel bapak dan bisa pakai telepon rumah datuk.

“Iya. Ini pulangnya abis magrib aja ya, Pak. Gadis masih tidur!”

“Oke. Ditidurin aja di car seat, kalau mau pulang nanti” saran bapak.

Klik telepon ditutup dan mata si gadis kecil terbuka selebar-lebarnya.

Magrib berlalu, gadis kecil sudah duduk manis di carseatnya. Kamipun pamit pulang. Dua lampu merah sudah terlewati. Si kecil mulai gelisah dan kembali rewel. Untuk kesekian kalinya ibu panik. Akhirnya dengan keahlian yang luar biasa dikaruniakan oleh Tuhan, ibupun segera memberi susu botol untuk gadis kecil menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanan tetap memegang kemudi. Kaki kanan dan kiri bergantian menginjak gas, rem, dan kopling!

Duh! Gimana cara oper gigi? Sementara kalau botol susu dilepas, otomatis gadis kecil menangis. Satu-satunya cara, pakai tangan kanan. Berhasil! Satu masalah terpecahkan lagi. Masalah lainnya, si gadis kembali rewel dan… Ibu baru ingat, mungkin gadis kecil ingin dinyanyikan sebuah lagu yang diciptakan dan diaransemen sendiri oleh ibu.

“Aku gadis cantik tak suka nangis. Aku gadis pintar tak suka nakal…”
Berkumandanglah lagu itu sepanjang perjalanan pulang. Ajaib! Si gadis tampak tenang, ia menghisap kembali susu dari botolnya, sementara ibu bekerja keras agar selamat menyetir mobil sampai di rumah neknang.

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Ibu dan anak pulang tanpa kurang suatu apapun dan ibu menobatkan dirinya sendiri sebagai pengendara mobil profesional.

Demikian perjalanan pertama antara ibu dan anak. Sangat berkesan ya? 😀

I Love Ayah

Dara menarik napas panjang. Lagi-lagi hari ini ia menemukan cotton buds bekas pakai alias alat untuk membersihkan kuping berbentuk seperti korek api dengan gumpalan kapas di ujung-ujungnya.

Setiap hari Dara mengumpulkannya, lalu membuangnya ke keranjang sampah. Padahal apa susahnya setelah membersihkan telinga, cotton buds-nya langsung dibuang ke tempat sampah?

Nah, itu pelakunya! Tengah tidur-tiduran sambil mengorek kuping di sofa. Tak lama lengan itu melempar benda yang baru saja tadi Dara pungut.

Mau marah tapi takut. Dibiarkan saja ini sudah berlarut-larut setiap hari.

Dara perlahan mengayunkan sapunya, membersihkan butiran-butiran debu. Berhenti sebentar untuk memungut benda kecil menjijikan itu.

Dilihatnya sang pelaku kali ini memejamkan matanya dengan sebelah tangan di atas kepala.

***

“Dara…”

Teriakan ibu seperti biasa membangunkannya untuk mandi sore.

“Ya, Bu!”

“Ke sini!” Panggil ibu.

“Itu kamu yang bikin?” Tanya ibu segera setelah Dara datang menghampiri.

Dara mengangguk.

Ibu tersenyum geli.

“Sssttt… Nanti kalau ayah bangun biar dia lihat sendiri.” Ujar ibu.

Mereka berjingkat-jingkat menuju dapur. Meninggalkan tulisan: I LOVE AYAH dari cotton buds bekas pakai…

Perempuan dan Senja

Perempuan dan Senja

Ia duduk termenung menatap pekarangan rumah yang gersang nyaris tanpa tanaman. Hanya sebatang pohon jambu biji merah yang setia menanti. Persis seperti dirinya.

“Ya kalo kerjaanmu cuma duduk, bengong tiap hari gitu mana bakalan dapat rejeki, Sinta!” Suara ibu memecah lamunan.

Sosok yang dipanggil Sinta itu melirik ibunya sebentar lantas menjawab, “Hari ini kan minggu, Bu. Sinta libur kerja” balasnya pelan.

“Rejeki itu bukan cuma soal uang, tapi juga teman. Masa perawan kaya kamu ga ada yang belanjain?” Cerewet ibu.
Sinta sudah tahu arah pembicaraan ibu. Topik yang sama setiap minggunya, setiap harinya.

***

“Sin… Aku bakalan datang lagi ke rumahmu kalau aku sudah berhasil. Sudah jadi orang. Aku akan wujudkan keinginanmu, mimpi kita berdua. Duduk di pelaminan berhias mawar kuning dan merah..” Suara Biru masih terngiang jelas di telinga Sinta. Entah mengapa ia begitu terkesima, patuh, dan bersedia menanti hingga tiba waktunya.

***

“Kamu mau jadi perawan tua? Belum tentu di luar sana Biru itu setia. Mikir pakai otak, jangan pakai hati!” Nasihat ibu berulangkali setiap Sinta menyampaikan perkataan Biru padanya.

***

Senja semakin menggantung, berat oleh matahari yang ingin segera tidur. Sinta masih di beranda rumah, tercenung melihat bayang pohon jambu biji merah.
Seandainya dulu ia dengar kata-kata ibu, tentu sekarang sudah bahagia dengan Catur, pemuda pewaris kebun teh berhektar luasnya.
Matanya beralih ke sebuah undangan berwarna biru. Senja mengaburkan siluetnya, kelam.

***

“Aku terpaksa menikahi Dona, Sin! Ia hamil..” Suara Catur melemah. Meski tak selemah lutut Sinta yang bergetar hebat malam itu. Sia-sia penantiannya selama ini. Dikiranya Biru adalah cinta, ternyata…

***

Malam itu sepasang bibir beradu, menikmati manisnya bulan madu. Sang pemuda gagah menikmati perawannya sang putri yang malu-malu. Persis kejadian yang dilaluinya bersama seorang putri yang lain bertahun lalu.

***