Joy and Sorrow

“Bisa lahir spontan, dok?”

“Bisa. Banyak-banyak jalan ya!”

Aku tersenyum senang

“Ayo, bangun! Temenin jalan pagi!”

Gempa lokal terjadi di ranjang kami.

“Aku tunggu di teras aja ya? Kamu jalan sendiri. Masih ngantuk.”

Kupasang muka merajuk.

Dia mengalah

*hore!

“Terus jalannya, jauhan dikit!”

“Sana, naik turun tangga menuju masjid”

Calon bapak dari bayiku itu terus memberi instruksi dan menyemangati.

“Capek…”

“Sudah lewat seminggu dari hari perkiraan lahir. Sebenarnya kalau semua baik, masih bisa kita tunggu satu minggu lagi tapi plasentanya sudah mulai pengapuran”
Dokter sibuk menggerakan alat itu di atas perut buncitku.

“Jadi, dok?”

“Ya, saran saya operasi”

“Ha? Tuh, Bang. Dioperasi”

Aku memandang ke arah suamiku yang pura-pura tenang dan tersenyum.

“Itu saran saya. Kalau mau, besok malam atau lusa pagi. Setelah itu saya ada seminar di luar kota.”
Ucap dokter itu lagi.

Mukaku pucat pasi. Besok? Rasanya belum siap.

Seharusnya jadwal masuk rumah sakit pagi ini, hatiku makin dag dig dug tak karuan. Suami hanya tersenyum seolah mengejek. Sampai siang hari aku tak juga beranjak dari kasur kecuali makan dan berurusan di kamar mandi.

“Takut? Aku pikir kamu siap. Mau lahiran spontan ataupun Cesar.”

Huh! Tentu saja aku cemas. Entah itu akan melahirkan spontan atau dioperasi ini pengalaman pertamaku.

Hari beranjak sore…

“Ayo, kita ke rumah sakit!” Ajakku.

“Yakin?”

“Iya. Ayo berangkat”

“Sebentar aku ke toilet dulu, sambil nunggu kamu pikir-pikir lagi ya?”

Aku mendengus kesal. Bisa-bisanya dia meragukan kesiapanku kali ini.

Kukeluarkan tas dan koper yang akan dibawa ke rumah sakit. Sudah kupersiapkan berminggu-minggu yang lalu.

“Beneran udah siap?”

Mobil terpakir di halaman rumah sakit. Kami mendaftar di loket, menyerahkan surat dari dokter yang menerangkan bahwa aku akan dioperasi cesar.

Aku sudah menempati kamar. Kukirim beberapa pesan singkat ke mama, papa, mertua, abang dan adik. Operasiku besok, pukul enam pagi.

Aku baru selesai mandi dan berpakaian ketika suster menjemputku untuk segera ke ruang operasi.

Tepat pukul enam, semua sudah bersiap. Aku berganti pakaian, mengenakan jubah khusus, berbaring, dipasangi kateter, lalu dibawa masuk ke kamar operasi. Seingatku setidaknya ada tiga suntikan bius di dekat panggul. Lengan kananku diinfus. Dokter memasang selang oksigen yang membuatku ingin muntah jadinya.

“Kita mulai ya?” Tanya sang dokter seraya tersenyum.
Aku mengangguk lemah, pasrah.

“Kres, kres, kres”
Kudengar suara seperti orang menggunting kertas tebal di sela-sela obrolan para tim dokter yang tak kutahu apa.

Selang beberapa menit, perutku didorong dari atas ke bawah.

“Kroak”
Bunyi seperti sesuatu yang lepas, ditarik dari tempat tumbuhnya.

“Wah, anaknya perempuan, Bu. Besar. Selamat ya!”

Dokter mengangkat tinggi bayi merah yang menangis sejadi-jadinya itu hingga aku bisa melihatnya. Tangisannya kencang sekali. Mataku berkaca-kaca menahan haru. Ia dibawa ke ruangan khusus bayi.

Rasanya ingin segera kupeluk, tapi apa daya, tim dokter masih harus menjahit luka bekas operasi.

Aku dibawa menggunakan tempat tidur rumah sakit menuju ruang inap. Rasanya lemas sekali. Mungkin karena aku kehabisan banyak darah dan efek obat bius yang membuatku mengantuk.

Satu yang disayangkan, aku tak bisa segera memberi ASI. Yang kudengar dari ibu mertuaku, kata bidan anakku harus menunggu dua jam sebelum diberi susu agar paru-parunya kuat. Lebih sedih lagi, mereka sudah lebih dulu memberi susu formula pada bayi perempuanku itu.

Perawat mulai menyarankan aku untuk belajar menggerakan badan ke kiri dan ke kanan. “Supaya jahitannya lentur.” katanya. Rasanya sakit sekali tetapi aku ingin segera menyusui dan menimang gadis cantikku.

Akupun semangat berlatih. Memutar badan, miring ke kiri lalu ke kanan setiap beberapa menit.

Ah, bahagianya, bayi mungil itu akhirnya diletakkan di sampingku. Katanya mungkin aku ingin menyusuinya. Akupun berlatih, sambil tiduran miring ke kiri atau ke kanan untuk menyusui. Tak sulit, bayiku dengan mudah latch on tapi apa yang terjadi? Selang beberapa menit, ia menangis meraung-raung. Iya, ASI-ku belum cukup baginya. Ia tak mau tidur karena kelaparan. Mungkin juga karena ia sudah terbiasa mendapatkan banyak susu formula.

Akhirnya, kamipun memberi susu formula yang sudah disediakan pihak rumah sakit. Duh, sedih rasanya! Padahal aku dan suami sepakat memberikan ASI eksklusif.

“Hari ini belajar duduk ya, lalu kalau sudah bisa sore nanti mulai belajar jalan.” Pesan dokter.

“Jangan malas belajar jalannya. Ga sakit, kok!” Lanjutnya lagi.

Aku mengangguk menyanggupi. Lagipula aku sudah bosan sepanjang hari tiduran di kasur.

Senang rasanya ketika sudah bisa duduk meski masih di atas tempat tidur dan disangga sandaran kasur. Aku bisa belajar menyusui lagi sambil duduk.

Sanak saudarapun mulai berdatangan, bahagia melihat cucu, keponakan mereka yang pertama sudah lahir.

“Siapa namanya?”

“Belum dikasih nama. Untuk sementara, panggil aja Upik.” Jawab suamiku.

Aku mau tertawa mendengarnya, tapi rasa sakit pasca operasi ini sungguh mengganggu. Terpaksa kutahan.

Iya, kami belum menyiapkan nama untuk putri kecil kami. Malahan kami punya nama anak lelaki. Itupun pemberian Nangcik (Datuk). Akhirnya malam itu kami lewatkan dengan menghimpun sumbangan nama bayi dari datuk dan neneknya.

Akhirnya diputuskanlah sesuai kata mufakat dari musyawarah keluarga dan tentu saja atas persetujuan bapak dan ibunya, gadis kecil kami itu diberi nama ANDARA FATIHYAS DAMIRIL.

Hore! Akhirnya anakku punya nama. Kami sepakat memanggilnya Dara.

Perjuangan di rumah sakit belumlah seberapa. Sakitnya pasca operasi, belajar duduk dan berjalanpun tak ada bandingnya. Hal yang paling sulit kulalui adalah, menyusui. Sudah hampir seminggu produksi ASI-ku tak kunjung banyak. Anakku jadi gampang marah dan mengamuk. Tertidur sebentar lalu kembali menangis. Tak mau tidur. Apalagi diletakkan di kasur. Rasanya stress berat, kurang tidur dan harus menimang si kecil dengan kondisi perut yang masih ada bekas luka membuatku tak bisa berbuat banyak. Susu formula diberikan lagi dan ia terlelap sampai popoknya kemudian basah dan kami harus mengganti, lalu menimangnya agar tidur kembali.

Beruntung aku punya ibu mertua yang sangat baik dan perhatian, setiap hari dimasaknya sayur-sayuran untuk memperlancar ASI. Mulai dari daun katuk, jantung pisang, daun pepaya, pepaya muda, dan lainnya.

Hasilnya? Tak begitu memuaskan. Bayiku tetap mengamuk, menangis sepanjang malam. Drama orang tua baru terjadi setiap hari. Aku benar-benar merasa depresi.

Akhirnya, jadilah bayi kami diberi makanan campur sari. ASI ditambah dengan susu formula. Sampai sekarang, produksi ASI-ku sangat terbatas. Apa boleh buat daripada bayi kami kelaparan, lebih baik begini.

Kini ia sudah berusia tiga bulan empat hari. Tumbuh kembangnya normal dan sehat. Lucu dan sungguh menggemaskan.

“Merdekalah, nak. Tertawa dan menangislah sesukamu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s