Karena Allah Mengizinkan

“Follow your passion and you will find your own happiness”.

Menurut kamus bahasa Indonesia, passion berarti: semangat, bergairah, kegemaran, dsb. Passion juga bisa diartikan sebagai minat, gairah hidup, sesuatu yang mendorong kita untuk terus maju, energi yang muncul dalam diri tersebab kita melakukan hal yang kita sukai.

— Moment to Remember 2013 Tema ke-lima —

Satu-satunya kata yang muncul di benak saya ketika membaca keterangan dari tema ‘Passion’ di atas adalah menulis!

Yup!
Saya selalu mulai menulis dengan semangat! Sebab dengan menulis saya seperti memiliki dunia sendiri. Mau jadi apa dan seperti apa?

Ada alasan tersendiri mengapa saya masih terus belajar menulis. Selain dulunya ketika masih sekolah rajin bikin cerpen yang ga pernah kelar atau kirim tulisan ke penerbit tapi berakhir di tong sampah mereka, setelah di bangku kuliah alasan tersendiri itu muncul.

Jadi, ceritanya dulu saya diam-diam ikut lomba cerpen di Fakultas. Minta anterin seorang sahabat, Mba Lis.

“Ga usah bilang-bilang yang lain ya. Ntar kalau kalah, MALU…” Bisik saya kala itu.

“Ngapain malu? Nyelesein satu cerpen aja udah hebat. Ayo, setor cerpennya ke panitia.” Jawabnya.

Akhirnya dengan bekal keberanian seadanya diserahkanlah naskah cerpen berjudul ‘Ayah’ itu. Saat menyerahkan naskah ke panitia, sembari berdoa

“Ya, Allah kalau tulisan ini menang jadi juara berapapun, artinya Engkau mengizinkan hamba untuk terus menulis.”

Jeng! Jeng!
Hari pengumuman tiba. Waktu itu malah ga tahu kalau nama pemenangnya sudah ada di papan info fakultas.
“Ra, kamu ikut lomba cerpen? Selamat cerpennya juara dua!”
Ucap salah satu teman.
Masih ga percaya, aku santai sesantai-santainya di ruang kelas sambil nunggu dosen mata kuliah berikutnya. Eh, setelahnya malah makin banyak yang ngucapin.
Akhirnya, bersama dua sahabat, Mba Lis dan Rika berangkatlah kami menuju gedung fakultas dan benar di papan pengumumannya tertera namaku di peringkat dua.
Hadiahnya lumayan, satu buku kumpulan cerpen. 😀

Setelah itu makin yakin kalau Allah ridho pastilah nanti bakal diizinkannya kembali menghasilkan satu tulisan yang bermanfaat. Tentu, tulisan yang kubuat selanjutnya bukan lagi fiksi tapi berupa mini skripsi, buku teks belajar, dan terakhir skripsi. Setelah itu saya vakum menulis karena mabuk skripsi. *nangis*

Lantas seiring majunya teknologi, mulailah bermunculan media sosial diawali dengan booming-nya facebook, saya mulai menulis banyak note curcol di sana. Diikuti dengan hijrahnya para pengguna media sosial secara beramai-ramai menuju twitter, saya ikut terseret, terdampar dan menetap di sana.

Yes! Awalnya bikin twitter cuma untuk ikut kuis. Hanya satu kali. Akhirnya saya anggurin akun @ara_damiril itu dan iseng bikin blog ini. Itu juga ga pernah di-update karena ga ngerti cara pakainya. 😛

Pesatnya teknologi lagi-lagi mendukung saya untuk terus menulis. Munculnya produk smartphone Blackberry bikin saya ngiler tapi ga ma(mp)u beli. Akhirnya dengan kebaikan dua saudara lelaki saya, mereka memberikannya sebagai hadiah ulang tahun.

Gila aja! Paketnya mahal!
Rugi banget kalau cuma dihabiskan buat chat ngalor-ngidul.
Lalu, saya aktifkan kembali akun twitter dan mulai follow beberapa akun artis, salah satunya @anjiii_ yang kala itu asyik ngetweet soal fiksimini (nulis fiksi dalam 140 kata). Stalking deh, jadi follower terus semangat buat dapat RT dari akun @fikisimini. Akhirnya, makin banyak akun fiksiminer yang saya follow, belajar nulis dari mereka. Follow juga akun yang ngadain kuis dan tantangan menulis. Mulai dari puisi sampai ke flash fiction dan cerita pendek. Bertemulah saya dengan akun @nulisbuku,@momo_DM, @acturindra, @aa_muizz, @wangiMS dan lain-lain.

Maka, mulai awal tahun 2013 yang penuh berkah karena saya positif hamil setelah hampir dua tahun menanti. Tak menyurutkan minat saya untuk ikut berbagai tantangan menulis, dimulai dari #13HariNgeblogFF dari Mazmo dan Mba Wangi, #puisihore dari Mas Catur dan Aam, #FF2in1-nya nulisbuku, ditambah juga proyek #kisah1001mantan yang lagi-lagi dari tantangannya Mazmo. Proyek ini yang paling menantang karena harus menghadap layar laptop. Sebagai bumil mata saya lebih cepat lelah serta pinggang dan punggung rasanya pegal-pegal. Bayangin aja, minimal sepuluh lembar naskah untuk satu judul cerpen dikirim tiap akhir minggu. Susah payah akhirnya kelar juga sepuluh cerpen. *Jitak Mazmo*

Selepas itu saya mulai mengurangi menulis dan lebih konsentrasi pada kehamilan yang terus membesar sampai lahiran. Sesekali saya masih menulis fiksimini
dan memperbanyak nge-tweet demi mendapat buku gratis. (Apa ini?)

Hampir semua tulisan di blog saya post via WordPress for Blackberry. Saat bertemu aplikasi ini tidak ada alasan bagi saya untuk berhenti menulis. Sangat bermanfaat. Selama hamil sampai lahiran dan sambil momong bayi kecil Andara-pun saya bisa menyelesaikan tulisan-tulisan di atas dan proyek ini yang terakhir “Moment to Remember 2013” semoga juga kelar saya ikuti.

Oya, ada lagi moment yang perlu saya ingat. Di tahun ini pula saya dan teman-teman dengan didukung dekan dari fakultas saya kuliah dulu berhasil menerbitkan satu buku antologi kisah mengajar yang merupakan buku pertama saya (semoga bukan sekaligus yang terakhir). Hore!

Demikian, karena Allah mengizinkan, jadilah saya Ibu yang semakin rajin menulis sejak bayi di kandungan hiingga ia dilahirkan. *peluk*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s