Joy and Sorrow

“Bisa lahir spontan, dok?”

“Bisa. Banyak-banyak jalan ya!”

Aku tersenyum senang

“Ayo, bangun! Temenin jalan pagi!”

Gempa lokal terjadi di ranjang kami.

“Aku tunggu di teras aja ya? Kamu jalan sendiri. Masih ngantuk.”

Kupasang muka merajuk.

Dia mengalah

*hore!

“Terus jalannya, jauhan dikit!”

“Sana, naik turun tangga menuju masjid”

Calon bapak dari bayiku itu terus memberi instruksi dan menyemangati.

“Capek…”

“Sudah lewat seminggu dari hari perkiraan lahir. Sebenarnya kalau semua baik, masih bisa kita tunggu satu minggu lagi tapi plasentanya sudah mulai pengapuran”
Dokter sibuk menggerakan alat itu di atas perut buncitku.

“Jadi, dok?”

“Ya, saran saya operasi”

“Ha? Tuh, Bang. Dioperasi”

Aku memandang ke arah suamiku yang pura-pura tenang dan tersenyum.

“Itu saran saya. Kalau mau, besok malam atau lusa pagi. Setelah itu saya ada seminar di luar kota.”
Ucap dokter itu lagi.

Mukaku pucat pasi. Besok? Rasanya belum siap.

Seharusnya jadwal masuk rumah sakit pagi ini, hatiku makin dag dig dug tak karuan. Suami hanya tersenyum seolah mengejek. Sampai siang hari aku tak juga beranjak dari kasur kecuali makan dan berurusan di kamar mandi.

“Takut? Aku pikir kamu siap. Mau lahiran spontan ataupun Cesar.”

Huh! Tentu saja aku cemas. Entah itu akan melahirkan spontan atau dioperasi ini pengalaman pertamaku.

Hari beranjak sore…

“Ayo, kita ke rumah sakit!” Ajakku.

“Yakin?”

“Iya. Ayo berangkat”

“Sebentar aku ke toilet dulu, sambil nunggu kamu pikir-pikir lagi ya?”

Aku mendengus kesal. Bisa-bisanya dia meragukan kesiapanku kali ini.

Kukeluarkan tas dan koper yang akan dibawa ke rumah sakit. Sudah kupersiapkan berminggu-minggu yang lalu.

“Beneran udah siap?”

Mobil terpakir di halaman rumah sakit. Kami mendaftar di loket, menyerahkan surat dari dokter yang menerangkan bahwa aku akan dioperasi cesar.

Aku sudah menempati kamar. Kukirim beberapa pesan singkat ke mama, papa, mertua, abang dan adik. Operasiku besok, pukul enam pagi.

Aku baru selesai mandi dan berpakaian ketika suster menjemputku untuk segera ke ruang operasi.

Tepat pukul enam, semua sudah bersiap. Aku berganti pakaian, mengenakan jubah khusus, berbaring, dipasangi kateter, lalu dibawa masuk ke kamar operasi. Seingatku setidaknya ada tiga suntikan bius di dekat panggul. Lengan kananku diinfus. Dokter memasang selang oksigen yang membuatku ingin muntah jadinya.

“Kita mulai ya?” Tanya sang dokter seraya tersenyum.
Aku mengangguk lemah, pasrah.

“Kres, kres, kres”
Kudengar suara seperti orang menggunting kertas tebal di sela-sela obrolan para tim dokter yang tak kutahu apa.

Selang beberapa menit, perutku didorong dari atas ke bawah.

“Kroak”
Bunyi seperti sesuatu yang lepas, ditarik dari tempat tumbuhnya.

“Wah, anaknya perempuan, Bu. Besar. Selamat ya!”

Dokter mengangkat tinggi bayi merah yang menangis sejadi-jadinya itu hingga aku bisa melihatnya. Tangisannya kencang sekali. Mataku berkaca-kaca menahan haru. Ia dibawa ke ruangan khusus bayi.

Rasanya ingin segera kupeluk, tapi apa daya, tim dokter masih harus menjahit luka bekas operasi.

Aku dibawa menggunakan tempat tidur rumah sakit menuju ruang inap. Rasanya lemas sekali. Mungkin karena aku kehabisan banyak darah dan efek obat bius yang membuatku mengantuk.

Satu yang disayangkan, aku tak bisa segera memberi ASI. Yang kudengar dari ibu mertuaku, kata bidan anakku harus menunggu dua jam sebelum diberi susu agar paru-parunya kuat. Lebih sedih lagi, mereka sudah lebih dulu memberi susu formula pada bayi perempuanku itu.

Perawat mulai menyarankan aku untuk belajar menggerakan badan ke kiri dan ke kanan. “Supaya jahitannya lentur.” katanya. Rasanya sakit sekali tetapi aku ingin segera menyusui dan menimang gadis cantikku.

Akupun semangat berlatih. Memutar badan, miring ke kiri lalu ke kanan setiap beberapa menit.

Ah, bahagianya, bayi mungil itu akhirnya diletakkan di sampingku. Katanya mungkin aku ingin menyusuinya. Akupun berlatih, sambil tiduran miring ke kiri atau ke kanan untuk menyusui. Tak sulit, bayiku dengan mudah latch on tapi apa yang terjadi? Selang beberapa menit, ia menangis meraung-raung. Iya, ASI-ku belum cukup baginya. Ia tak mau tidur karena kelaparan. Mungkin juga karena ia sudah terbiasa mendapatkan banyak susu formula.

Akhirnya, kamipun memberi susu formula yang sudah disediakan pihak rumah sakit. Duh, sedih rasanya! Padahal aku dan suami sepakat memberikan ASI eksklusif.

“Hari ini belajar duduk ya, lalu kalau sudah bisa sore nanti mulai belajar jalan.” Pesan dokter.

“Jangan malas belajar jalannya. Ga sakit, kok!” Lanjutnya lagi.

Aku mengangguk menyanggupi. Lagipula aku sudah bosan sepanjang hari tiduran di kasur.

Senang rasanya ketika sudah bisa duduk meski masih di atas tempat tidur dan disangga sandaran kasur. Aku bisa belajar menyusui lagi sambil duduk.

Sanak saudarapun mulai berdatangan, bahagia melihat cucu, keponakan mereka yang pertama sudah lahir.

“Siapa namanya?”

“Belum dikasih nama. Untuk sementara, panggil aja Upik.” Jawab suamiku.

Aku mau tertawa mendengarnya, tapi rasa sakit pasca operasi ini sungguh mengganggu. Terpaksa kutahan.

Iya, kami belum menyiapkan nama untuk putri kecil kami. Malahan kami punya nama anak lelaki. Itupun pemberian Nangcik (Datuk). Akhirnya malam itu kami lewatkan dengan menghimpun sumbangan nama bayi dari datuk dan neneknya.

Akhirnya diputuskanlah sesuai kata mufakat dari musyawarah keluarga dan tentu saja atas persetujuan bapak dan ibunya, gadis kecil kami itu diberi nama ANDARA FATIHYAS DAMIRIL.

Hore! Akhirnya anakku punya nama. Kami sepakat memanggilnya Dara.

Perjuangan di rumah sakit belumlah seberapa. Sakitnya pasca operasi, belajar duduk dan berjalanpun tak ada bandingnya. Hal yang paling sulit kulalui adalah, menyusui. Sudah hampir seminggu produksi ASI-ku tak kunjung banyak. Anakku jadi gampang marah dan mengamuk. Tertidur sebentar lalu kembali menangis. Tak mau tidur. Apalagi diletakkan di kasur. Rasanya stress berat, kurang tidur dan harus menimang si kecil dengan kondisi perut yang masih ada bekas luka membuatku tak bisa berbuat banyak. Susu formula diberikan lagi dan ia terlelap sampai popoknya kemudian basah dan kami harus mengganti, lalu menimangnya agar tidur kembali.

Beruntung aku punya ibu mertua yang sangat baik dan perhatian, setiap hari dimasaknya sayur-sayuran untuk memperlancar ASI. Mulai dari daun katuk, jantung pisang, daun pepaya, pepaya muda, dan lainnya.

Hasilnya? Tak begitu memuaskan. Bayiku tetap mengamuk, menangis sepanjang malam. Drama orang tua baru terjadi setiap hari. Aku benar-benar merasa depresi.

Akhirnya, jadilah bayi kami diberi makanan campur sari. ASI ditambah dengan susu formula. Sampai sekarang, produksi ASI-ku sangat terbatas. Apa boleh buat daripada bayi kami kelaparan, lebih baik begini.

Kini ia sudah berusia tiga bulan empat hari. Tumbuh kembangnya normal dan sehat. Lucu dan sungguh menggemaskan.

“Merdekalah, nak. Tertawa dan menangislah sesukamu.”

Iman Itu Percaya

Iman itu percaya, yakin

Percaya kalau Ia bukan satu tetapi Esa,

Percaya kalau Ia bukan di atas tetapi lebih dekat dari urat leher,

Percaya kalau Dia yang menjadikan mengantuk,

Percaya kalau Dia yang menidurkan dan membangunkan kembali,

Percaya kalau Ia yang menyembuhkan ketika sakit,

Percaya kalau Ia yang membuat tertawa dan menangis,

Percaya kalau Ia yang melapangkan serta menyempitkan rezeki,

Percaya kalau Dia yang memberi makan dan minum,

Percaya kalau Dia pula yang mematikan dan menghidupkan mahluk-Nya

Percaya?

Aku percaya.

Lalu siapa Dia?

Dia-lah Allah, Tuhanku,

Tuhanmu juga?

Merahasiakan Rahasia

“Apa yang kau tunggu dari sebuah penantian?”

“Apa yang kau cari dalam suatu hubungan?”

“Apa tujuanmu mencintai seseorang?”

“Bertemu denganmu, berkasih sayang, dan melindungi yang dikasihi”

“Aku tak butuh jawaban! Aku butuh tindakan!” Makiku di telepon genggam yang sok pintar.

Tut.. Tut.. Tut..

Sambungan terputus. Di seberang sana seorang pria tampan tertegun dengan telepon yang masih menempel di kuping.

***

“Bengkulu – Jakarta itu bukan beda negara, apalagi beda benua. Hanya beda pulau. Sumatera dan Jawa! Cukup satu jam terbang dengan pesawat! Tahu kan pesawat? Bukan pesawat telepon seperti ini!”

“Aku tunggu akhir tahun. Itu juga kalau kata-katamu benar!”

***

Pesawat lepas landas. Perjalanan lancar. Di pelupuk mata terbayang wajah kekasih. Sesekali matanya berkaca-kaca.

Maafkan aku Karin, aku tak bisa kembali padamu. Kau tak tahu di pulau yang lain istri dan calon bayi kami menunggu.

***

Seorang wanita dengan anak berusia dua tahun berdiri di ruang tunggu bandara. Lelaki yang dikira akan kembali, ternyata tak kunjung tiba.

“Ayah mana? Kata Ibu aku punya ayah? Ibu bohong!”

Resensi: Everlasting Love

Judul buku: Everlasting Love
Penulis : Alit Trisna Palupi, dkk
Penerbit : GagasMedia
Jumlah Halaman : viii + 232 hlm
Tahun Terbit : 2013

Buku ini merupakan kumpulan cerita mengenai pengalaman dan rasa menjadi seorang ibu baru. Bahagianya ketika pertamakali bertemu sang bayi, cemasnya menghadapi persalinan atau operasi cesar, sulitnya saat pemberian ASI dan MPASI, pola pengasuhan anak, dilema ibu bekerja, dan lain-lain.

Bahasa yang digunakan pun ringan, khas seperti seorang ibu yang mendongeng kepada putra putrinya. Beberapa kalimat juga diselipi bahasa asing sehari-hari. Semuanya dikemas dalam penuturan yang menarik.

Pertamakali saya menerima buku ini dari penerbit, saya langsung jatuh cinta melihat cover bukunya. Beberapa halaman juga memuat ilustrasi cerita dan quotation yang di-layout sedemikian cantiknya. Di tiap akhir tulisan, ada biodata penulis dilengkapi dengan foto bersama buah hati mereka.

Membaca kalimat demi kalimat kisah yang disampaikan pun mampu membuat saya, sebagai ibu dengan bayi tiga bulan, tersenyum bahkan terbahak membacanya karena mengalami hal yang sama.

Buku ini banyak menginspirasi dan memotivasi pembaca untuk menikmati peran sebagai seorang ibu dan menghargai semua perjuangan seorang ibu.

Jika anda tertarik membacanya, bisa dibeli di toko buku terdekat atau hubungi @GagasMedia

Karena Allah Mengizinkan

“Follow your passion and you will find your own happiness”.

Menurut kamus bahasa Indonesia, passion berarti: semangat, bergairah, kegemaran, dsb. Passion juga bisa diartikan sebagai minat, gairah hidup, sesuatu yang mendorong kita untuk terus maju, energi yang muncul dalam diri tersebab kita melakukan hal yang kita sukai.

— Moment to Remember 2013 Tema ke-lima —

Satu-satunya kata yang muncul di benak saya ketika membaca keterangan dari tema ‘Passion’ di atas adalah menulis!

Yup!
Saya selalu mulai menulis dengan semangat! Sebab dengan menulis saya seperti memiliki dunia sendiri. Mau jadi apa dan seperti apa?

Ada alasan tersendiri mengapa saya masih terus belajar menulis. Selain dulunya ketika masih sekolah rajin bikin cerpen yang ga pernah kelar atau kirim tulisan ke penerbit tapi berakhir di tong sampah mereka, setelah di bangku kuliah alasan tersendiri itu muncul.

Jadi, ceritanya dulu saya diam-diam ikut lomba cerpen di Fakultas. Minta anterin seorang sahabat, Mba Lis.

“Ga usah bilang-bilang yang lain ya. Ntar kalau kalah, MALU…” Bisik saya kala itu.

“Ngapain malu? Nyelesein satu cerpen aja udah hebat. Ayo, setor cerpennya ke panitia.” Jawabnya.

Akhirnya dengan bekal keberanian seadanya diserahkanlah naskah cerpen berjudul ‘Ayah’ itu. Saat menyerahkan naskah ke panitia, sembari berdoa

“Ya, Allah kalau tulisan ini menang jadi juara berapapun, artinya Engkau mengizinkan hamba untuk terus menulis.”

Jeng! Jeng!
Hari pengumuman tiba. Waktu itu malah ga tahu kalau nama pemenangnya sudah ada di papan info fakultas.
“Ra, kamu ikut lomba cerpen? Selamat cerpennya juara dua!”
Ucap salah satu teman.
Masih ga percaya, aku santai sesantai-santainya di ruang kelas sambil nunggu dosen mata kuliah berikutnya. Eh, setelahnya malah makin banyak yang ngucapin.
Akhirnya, bersama dua sahabat, Mba Lis dan Rika berangkatlah kami menuju gedung fakultas dan benar di papan pengumumannya tertera namaku di peringkat dua.
Hadiahnya lumayan, satu buku kumpulan cerpen. 😀

Setelah itu makin yakin kalau Allah ridho pastilah nanti bakal diizinkannya kembali menghasilkan satu tulisan yang bermanfaat. Tentu, tulisan yang kubuat selanjutnya bukan lagi fiksi tapi berupa mini skripsi, buku teks belajar, dan terakhir skripsi. Setelah itu saya vakum menulis karena mabuk skripsi. *nangis*

Lantas seiring majunya teknologi, mulailah bermunculan media sosial diawali dengan booming-nya facebook, saya mulai menulis banyak note curcol di sana. Diikuti dengan hijrahnya para pengguna media sosial secara beramai-ramai menuju twitter, saya ikut terseret, terdampar dan menetap di sana.

Yes! Awalnya bikin twitter cuma untuk ikut kuis. Hanya satu kali. Akhirnya saya anggurin akun @ara_damiril itu dan iseng bikin blog ini. Itu juga ga pernah di-update karena ga ngerti cara pakainya. 😛

Pesatnya teknologi lagi-lagi mendukung saya untuk terus menulis. Munculnya produk smartphone Blackberry bikin saya ngiler tapi ga ma(mp)u beli. Akhirnya dengan kebaikan dua saudara lelaki saya, mereka memberikannya sebagai hadiah ulang tahun.

Gila aja! Paketnya mahal!
Rugi banget kalau cuma dihabiskan buat chat ngalor-ngidul.
Lalu, saya aktifkan kembali akun twitter dan mulai follow beberapa akun artis, salah satunya @anjiii_ yang kala itu asyik ngetweet soal fiksimini (nulis fiksi dalam 140 kata). Stalking deh, jadi follower terus semangat buat dapat RT dari akun @fikisimini. Akhirnya, makin banyak akun fiksiminer yang saya follow, belajar nulis dari mereka. Follow juga akun yang ngadain kuis dan tantangan menulis. Mulai dari puisi sampai ke flash fiction dan cerita pendek. Bertemulah saya dengan akun @nulisbuku,@momo_DM, @acturindra, @aa_muizz, @wangiMS dan lain-lain.

Maka, mulai awal tahun 2013 yang penuh berkah karena saya positif hamil setelah hampir dua tahun menanti. Tak menyurutkan minat saya untuk ikut berbagai tantangan menulis, dimulai dari #13HariNgeblogFF dari Mazmo dan Mba Wangi, #puisihore dari Mas Catur dan Aam, #FF2in1-nya nulisbuku, ditambah juga proyek #kisah1001mantan yang lagi-lagi dari tantangannya Mazmo. Proyek ini yang paling menantang karena harus menghadap layar laptop. Sebagai bumil mata saya lebih cepat lelah serta pinggang dan punggung rasanya pegal-pegal. Bayangin aja, minimal sepuluh lembar naskah untuk satu judul cerpen dikirim tiap akhir minggu. Susah payah akhirnya kelar juga sepuluh cerpen. *Jitak Mazmo*

Selepas itu saya mulai mengurangi menulis dan lebih konsentrasi pada kehamilan yang terus membesar sampai lahiran. Sesekali saya masih menulis fiksimini
dan memperbanyak nge-tweet demi mendapat buku gratis. (Apa ini?)

Hampir semua tulisan di blog saya post via WordPress for Blackberry. Saat bertemu aplikasi ini tidak ada alasan bagi saya untuk berhenti menulis. Sangat bermanfaat. Selama hamil sampai lahiran dan sambil momong bayi kecil Andara-pun saya bisa menyelesaikan tulisan-tulisan di atas dan proyek ini yang terakhir “Moment to Remember 2013” semoga juga kelar saya ikuti.

Oya, ada lagi moment yang perlu saya ingat. Di tahun ini pula saya dan teman-teman dengan didukung dekan dari fakultas saya kuliah dulu berhasil menerbitkan satu buku antologi kisah mengajar yang merupakan buku pertama saya (semoga bukan sekaligus yang terakhir). Hore!

Demikian, karena Allah mengizinkan, jadilah saya Ibu yang semakin rajin menulis sejak bayi di kandungan hiingga ia dilahirkan. *peluk*

Resensi: Buku yang Kau Benci

Buku yang diresensi kali ini adalah buku fiksi yang diterbitkan melalui Nulisbuku.com di tahun 2013 berjumlahkan 189 halaman hitam putih.

Judulnya
“Buku yang Kau Benci” #AntologiBenci.

Berupa kumpulan cerpen dan puisi yang bertemakan benci. Buku ini ditulis keroyokan oleh beberapa orang penulis, salah satunya Kak Nina @noichi seorang dokter umum yang baru saja move on. #Lah

Hal yang unik dari buku ini adalah pembaca tidak akan menemukan kata ‘benci’ dalam setiap baris cerita pendek ataupun puisinya namun kata-kata yang digunakan para penulis mampu membuat pembaca ikut larut dalam kebencian yang memuncak bahkan terkadang jijik!

Hal yang menarik lainnya di buku ini, pembaca yang menyukai puisi akan banyak dimanjakan oleh penulis. Di setiap jeda pergantian judul baru cerpen, pembaca akan menemukan puisi yang juga bertemakan benci dan tentunya tanpa kata benci.

Hampir seutuhnya saya menyukai isi dari buku ini. Meskipun ada sedikit puisi dan cerpen yang kubaca sekilas karena terasa menjemukan tapi tak mengurangi minat untuk terus membacanya sebab cerita dan puisi lainnya sangatlah penuh emosi kebencian yang mampu membuat saya berucap “Bangsat!”

Jadi, menurut saya buku ini pas untuk dibaca bagi mereka yang mungkin bosan dengan manisnya gulali cinta karena memberikan nuansa yang jauh berbeda dari bahasa yang menye-menye.

Akhir kata, Hai, Kak Nina @noichil ! Ini resensi buku yang dijanjikan kemarin sebagai kompensasi setelah menang kuis berhadiahkan buku. Terima kasih sudah dipilih sebagai pemenang. ((Yee.. ↖(^▽^)↗ ))

n.b. ini resensi buku pertama yang aku tulis.

@ara_damiril

Karir Berdasarkan Zodiak

Berdasarkan ramalan zodiak, karir gue di tahun ini slow but sure.
((Cih! Ngomong pake gue))

Maksudnya berjalan lurus-lurus aja, sesuai simbol zodiak: Kerbau. Kerja keras kalau lagi bajak sawah, nyantai di kubangan kalau lagi nganggur kaya’ sekarang.
((Cuti tiga bulan emang sedaaap!))

Sebagai lulusan FKIP, karir gue ga banyak berubah dari mengajar ke menghajar ((eh)).

Dimulai dari saat lulus kuliah, jadi guru honor di SMP tempat gue sekolah dulu dengan gaji 400 ribu/bulan ((abis buat ongkos)) dibayarnya juga pertigabulan.

Sambil ngajar juga jadi asisten dosen di STAIN, namanya DLB (Dosen Luar Biasa) honornya dibayar persemester, jumlahnya lumayan… Ga cukup buat ongkos. XD

Lah, terus gimana? Ya dijalanin aja, seneng kok ‘bajak sawah’. Toh, makan dan tempat tinggal masih numpang sama orangtua.

Njabanin dua pekerjaan itu selama hampir dua tahun, sebelum diangkat jadi guru di sekolah yang sekarang.

Beuh…
Soal uang, dua pekerjaan tadi memang tak menjanjikan tapi ilmu yang diterapkan luar biasa. #Eaaa

Fresh graduate ngajar di SMP favorit di kota dengan anak-anak yang super jenius, bikin gue banyak belajar lagi.

Ditambah lagi ngajar mahasiswa/i yang umurnya malah ada yang hampir sama dengan gue karena beberapa dari mereka ada yang mengulang mata kuliah. Itu tantangan yang lebih berat sebab tatapan para mahasiswa lelaki itu…

— They didn’t pay attention to the lesson but me —

Mih! Untung gue dari dulu sudah ngilmu cuek bin kafilah berlalu anjing mengonggong #apeu
Hitung-hitung biar para mahasiswa itu rajin masuk dan betah di kelas karena dosennya cantik!
Hahahahahahahaa… ((Ke-PD-an))

Ini serius, kebanyakan dosen di sana Bapak-bapak yang rambutnya udah botak. Jadi, para DLB seperti kami adalah angin surga…
((Kibas-kibas jilbab))

— Ok. Di sini kalian boleh bilang gue guru narsis —

Nah, selepas diangkat jadi guru di SMP yang sekarang. Gue resign dari SMP elite itu tapi tetap ngajar para mahasiswa.

Selang beberapa waktu, akhirnya gue
juga resign ngajar para mahasiswa meskipun di awal semester baru masih sering diminta mengajar kelas sore.

Gue resign bukan karena uang tapi terbatasnya waktu dan tenaga. Mengatur ulang jadwal kuliah atau di sekolah yang sekarang terkadang bikin mumet orang lain.
((Padahal kan masih pengen ngajar dedek mahasiswa yang unyu-unyu))

Haahhh..
Setelahnya gue juga ditugaskan mengajar anak-anak di SMP Terbuka yang kebenaran SMP yang sekarang adalah sekolah induknya.

Ini juga tantangannya luar binasa. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari. Jadi, jangankan mengajarkan bahasa asing pada mereka. Bicara Bahasa Indonesia saja mereka tidak bisa.
((Untunglah gue ini juga ndeso, paham sedikit-sedikit omongan mereka))

Begitulah, gue juga harus ekstra keras ngajarin mereka. Usahanya lebih dari ngajarin anak-anak di sekolah elite ataupun para mahasiswa.

Anak-anak di sekolah ini rata-rata bekerja di pagi hari. Ada yang menjadi pengasuh, tukang koran, penyetak batu-bata, dll. Kemudian siang sampai sorenya belajar di sekolah. Melihat mereka duduk di dalam kelas saja sudah senang. Tak usah muluk-muluk mengharapkan mereka menyerap semua materi yang diajarkan. Satu atau dua kata saja yang mereka dapat itu sudah membanggakan. :))

Sayangnya, sekitar dua tahun yang lalu SMP gue bukan lagi menjadi SMP Induk untuk SMP Terbuka. Jadi, gue ga ngajar lagi anak-anak hebat itu…

Akhirnya sekarang hanya mengajar di satu sekolah. Tantangannya tak kalah besar, perlu membuat inovasi baru saat mengajar biar tak jenuh. Lagipula gue juga belum berniat ngajar di banyak sekolah lagi ataupun mengajar privat. BIG NO!

Ditambah lagi sudah punya baby, maunya main aja ama Dara. 😀

Demikian perjalan karir gue sampai sekarang. Gue benar-benar menikmati semua perjalanan karir ini. Menjalani semua prosesnya. Menghadapi berbagai karakter anak didik yang berbeda. Juga menikmati jadi ‘korban kekreatifan’ mereka.
((Saking kreatifnya, pernah ban kendaraan gue ikut dikempesin!))

Meskipun dulu gue pernah bermimpi kuliah di IKJ dan berkarir menekuni hobi ‘menggambar guru di depan kelas.’ Tapi karir yang gue jalanin saat ini sungguh menyenangkan.

— Ciao! —

Friendship: Teman Satu Kapal

“Dek, di mana?”

“Di rumah mama, mbak.”

“Mba ke situ ya? Ada di rumahkan?”

“Ok, mba. Ada.”

***

“Twins, apa kabar? Udah lahiran?”

“Udah, ka.. Cewek”

“Alhamdulillah, Raka, Danish, ama Nayla dapet ade cewek..”

“Iya, ka..”

***

“La, aku kirim kado ke rumah mama ya? Dicek loh, udah sampai belum?”

“Ha? Repot amat? Iya ntar kutanya mama”

***

“Say.. Aku ke rumah ya ama Fira? Mau liat dedek bayi”

“Oke ditunggu kedatangannya Ayuk Fira”

***

Friendship; teman satu kapal? :p
Bisa jadi sebagai penumpangnya, kita memilih pelabuhan yang berbeda untuk sekedar singgah atau menetap. Tentu saja, kebanyakan dari kita begitu.

Berteman ketika satu sekolah, kuliah atau tempat kerja. Kemudian berpisah karena sudah menuntaskan pendidikan atau dimutasi ke daerah lain.

That’s life!
Bagaimanapun akrab dan intimnya sebuah hubungan, nantinya kita akan menempuh jalan sendiri-sendiri.

— batas nulis sok mikir —

Aku sih tak punya banyak teman akrab, hampir semua teman hanya sekedar teman karena berada di lokasi yang sama. Maklum, tipe orang yang tak banyak omong. Lebih suka mendengar dan senyum-senyum. (Itu dulu sih, sebelum makin parah sejak jadi emak-emak rempong! :D).

Selama sekolah atau kuliah, aku hanya punya dua atau tiga teman se-gang yang kalau lagi gila sama-sama, sedih sama-sama, jalan sama-sama, jatuh cinta sama-sama… Pokoknya samaan terus deh.

Nah, sejak pada selesai sekolah dan kuliah kemudian kerja masing-masing di pelabuhan yang berbeda, semua yang dulunya sama itu jadi tak sama. Iyalah, masa nikah tanggalnya samaan, bikin anak juga barengan (ditabok), ga mungkiiin!

Kita jadi jarang sama-sama lagi. Sibuk dengan pekerjaan dan keluarga masing-masing.

— tulisan ini ditunda dulu karena ada paket dari om Pos —

Terus, kabar kabarinya jadi via SMS, BBM atau telepon aja. Ga ketemu lagi. Kecuali ketika salah satu dari mereka pulang ke kota ini. Biasanya pulang karena ada kerjaan di sini atau mau melahirkan. Alhasil, kalaupun ketemu cuma sebentar.

Iya, saling mengunjungi ketika pada melahirkan si kecil, misalnya. Tukar-tukaran kado. Bahkan kalau tidak bisa datang, kadonya yang terbang.

Terkadang, kamipun masih saling mengirim ucapan selamat ulang tahun dan kaget karena masih ingat tanggalnya.

Huaahhh… What a wonderful friendship!

Meski raga tak lagi bersama tapi jiwa kita selalu saling terhubung.

special for my old sister Lis, My Twin Rika, Namboru Darmy and my sissy at SHS: Yathee and Petruck.

Ketika Bayi Kecilku Bercerita

IBU

Ibu tergelak riang ketika angin ribut berebutan keluar dari bokongku
Seperti anak-anak sekolah yang bersukaria ketika bel pulang
Menyisakan derai tawa yang tak dibuat-buat
Lalu ia kembali girang saat angin yang bergumul di lambungku berkejar-kejaran menyusul kakak-kakaknya yang telah lahir
Tawanya berderai-derai, membuatku melakukannya berkali-kali sampai ia tak sanggup lagi berhenti
Aku senang dan menertawakannya dalam mimpi

Sesekali di sela-selanya, jemarinya meraba pantatku
Memastikan apakah angin-angin itu membawa serta sisa kesukaanku ikut bermain di luar
Kemudian ia akan tersenyum dan tertawa menjadi-jadi ketika kuhabiskan isi lambung dan ususku dalam sekejap, dalam tiga tahap jeda yang tak lama
Sebagian menempel di kulit tangannya, yang lain tersebar ke mana-mana
Dan ibu terus tertawa dan bernyanyi gembira.
Aku suka melihatnya begitu.

BAPAK

Lelaki pertama yang mencintaiku, bahkan sebelum aku dilahirkan. Menciumiku dengan beribu cumbu, kumis dan jenggot halusnya yang tak seberapa membuatku geli. Kalau aku sudah besar, akan kutarik rambut halus di dagunya itu biar ia pura-pura marah dan kami tertawa bersama-sama.

Aku senang berbincang dengan bapak, membicarakan ibu yang tertidur pulas kelelahan dan bercerita tentang hari ini. Lalu aku memilih menangis ketika ia mulai letih, meletakkanku di kasur dan mulai bermain dengan gadgetnya. Aku ingin lebih banyak digendong!

ANDARA

“Dedek cantik
Anak gadisnya Bapak
Si manja sayangnya Ibu
Cucu datuk dan nenek”

Itu aku! Iya, aku dengan segala panggilan sayang mereka. Dicintai oleh semua: bapak, ibu, datuk, nenek, aunty, Om, Wak…

Aku anggota baru di keluarga, yang diimpikan setahun lamanya.

Andara; di dua bulan sepuluh harinya

Berbagi Cinta

Teroris cinta

Waktu SMA aku punya tokoh karikatur yang kunamai Teroris Cinta. Teroris cinta? Iya, hati siapa yang tidak meledak-ledak kalau sudah jatuh cinta, patah hati dan cerita cinta lainnya bahkan yang masih jones (jomblo ngenes; kata anak abege) sekalipun merasakan ledakan-ledakan melihat yang ia cintai.

Cinta itu komitmen yang baik.

Ketetapan untuk berjuang mendapatkan dan bertahan. Selama kehidupan, tak ada hal yang mudah kudapatkan begitu saja, Tuhan selalu memberikan banyak pelajaran bahkan remedial sebelum menyatakakn lulus dan mendapat yang dituju. Setelah melewati berbagai ledakan dan yang terakhir ‘big bang’ dalam hal jatuh cinta. Saat ini buatku cinta itu ternyata sederhana: jangan menuntut atau mengharap balasan yang berlebihan atas apa yang kita berikan.

Maka, cinta itu memberi.
Banyak-banyaklah memberi dalam bentuk apapun. Tak hanya cincin berlian, atau uang receh satu lemari, tapi perhatian berupa pertolongan berserta senyuman itu juga bukti cinta yang tak bisa dijual.

Soal memberi harta, aku belajar banyak dari pasangan. Dia tak pernah pelit berbagi, selagi ada. Bahkan tak adapun diusahakan.

Bicara cinta yang berupa perhatian, tentu saja ibu adalah guru yang paling baik. Seletih apapun ketika anaknya meminta bahkan tanpa perlu diminta, beliau sudah terlebih dulu menyediakan yang diperlukan. Seorang pekerja keras yang tanpa lelah meski kadang kita upah dengan air mata.

Saat ini sejak mulai jadi ibu 25 September 2013 yang lalu, aku bahkan lebih merasakan lagi apa itu cinta. Ternyata cinta itu hangat dan indah, sehangat ompol putriku yang ada di pelukan.

Haruskah marah ketika ia ‘membagi cinta’nya pada kita? Tidak. Bahkan kita tertawa lantas membalas ‘cintanya’ dengan mengganti pakaiannya. Lalu ia akan membalasnya lagi dengan tawa dan senyuman. :))

Momen yang indah kan?

Hitung saja, berapa kali kita bahagia karena cinta. Jauh lebih banyak dibandingkan patah hati.

Ah, bersyukurlah jika bisa jatuh cinta berkali-kali dengan jalan memberi. Kita tak pernah tahu balasan apa yang Tuhan beri.