Kepada Mantan Kekasih

Aku yang diam-diam mencintamu, bersemayam di pikiran kalutmu. Sungguh tak bisa lupakan segala yang pernah kita lalui. Meski kau nyatakan akulah sang penganggu.

Aku yang kau sebut si kecil menyebalkan dan selalu ingin kau sakiti. Bertahan semampu kekuatanku. Menetap di kepalamu memilih tak ingin pergi.

Tahukah kau, sayang?
Aku rindu membelai rambut hitammu yang legam, menyisiri setiap lembarnya. Membaui semerbak wanginya.

Lalu kau mengajakku bercanda, bermain kejar-kejaran hingga lelah.
Tentu akulah pemenangnya dan membuatmu semakin tak suka.

Dan akupun rindu berlarian di tepi bibir tipismu, menjelajahi setiap sela kumis dan janggutmu. Membuatmu kesal entah karena geli.

Tapi itu dulu, sebelum kau bunuh aku dengan jemarimu. Berteriak kegirangan bak kerasukan setan lantas mengutukku: “Mati kau kutu!”

~Dari kekasihmu yang tak pernah kau anggap: KUTU~

Advertisements

Kepada Mantan Kekasih

Aku yang diam-diam mencintamu, bersemayam di pikiran kalutmu. Sungguh tak bisa lupakan segala yang pernah kita lalui. Meski kau nyatakan akulah sang penganggu.

Aku yang kau sebut si kecil menyebalkan dan selalu ingin kau sakiti. Bertahan semampu kekuatanku. Menetap di kepalamu memilih tak ingin pergi.

Tahukah kau, sayang?
Aku rindu membelai rambut hitammu yang legam, menyisiri setiap lembarnya. Membaui semerbak wanginya.

Lalu kau mengajakku bercanda, bermain kejar-kejaran hingga lelah.
Tentu akulah pemenangnya dan membuatmu semakin tak suka.

Dan akupun rindu berlarian di tepi bibir tipismu, menjelajahi setiap sela kumis dan janggutmu. Membuatmu kesal entah karena geli.

Tapi itu dulu, sebelum kau bunuh aku dengan jemarimu. Berteriak kegirangan bak kerasukan setan lantas mengutukku: “Mati kau kutu!”

~Dari kekasihmu yang tak pernah kau anggap: KUTU~