Janji ya!

Malam minggu, saatnya kencan. Yippie! Ia berjanji mengajakku dinner untuk kesekian kalinya.
“Kali ini janji ya?” Ulangku. Ia mengangguk mengiyakan. Awas saja kalau dia lupa, biar kukirimkan ribuan lebah untuk menyengat otaknya yang tumpul itu.
Satu jam, dua jam… Aku mulai gelisah duduk di bangku sebuah restoran tempat yang ia janjikan tanpa memesan apa-apa. Belum lagi melihat para waiter yang bola matanya sudah sebesar mata Power Puff Girls itu. Kukirimkan satu lagi pesan singkat ke nomornya. ‘Aku sudah di sini selama dua jam. Kau tidak lupa kan?’ Terkirim dengan sukses. ‘Tunggu, sebentar lagi aku sampai, sayang.’ Balasnya.
Aku menghela napas, mencoba lebih bersabar. Beberapa menit kemudian ia tiba dengan keringat mengucur. Hidungku secara otomatis menutup dua lubangnya, alhasil aku megap-megap tanpa ampun. “Kau lama dan bau!” Ucapku ketus. “Sedangkan aku kelaparan!” Tambahku.
Ia mengatur napas, “Maaf, sayang. Macet. Ayo kita pesan makanan.” Ujarnya. Alasan klise pikirku. Tanganku melambai hendak memanggil waiter, tetapi ia malah menariknya turun.
“Jangan di sini, sayang. Aku sudah pesan makanan di sana.”
Ia menunjuk ke arah warung pinggiran di dekat selokan. Mukaku merah padam, entah malu atau marah.

Secret Admirer

Sudah satu minggu ini otakku sibuk berpikir bagaimana cara berkenalan dengannya. Tubuhnya tinggi semampai serasi dengan pakaian yang ia kenakan. Fashionable!
Belum lagi bibir merah jambu yang tak sungkan memberikan senyuman. Ah, sungguh menarik!
Hatiku rasanya tak karuan, setiap kali berpapasan dengannya.
Wangi parfumnya begitu lembut menandakan kalau ia memiliki selera yang tak asal-asalan. Tutur katapun halus, tak suka membentak atau marah. Anggun, sungguh anggun sekali… Persis seperti namanya.

Hari ini tanpa kuduga ia mendekatiku yang duduk menganggur tanpa mengerjakan apapun kecuali melamun. Langkahnya cepat dan tegap, kuduga ia setidaknya pernah ikut ekskul Paskibra atau Pramuka. Ia berhenti tepat di hadapanku, memberi senyum sebelum berkata
“Kamu kelas berapa?” Tanyanya.
“Kelas Delapan B, Bu…” Jawabku gelagapan.