Aku membebaskanmu untuk menginjakkan kaki kemana kau mau,
Pulang jam berapapun kau suka,
Atau berteman dengan siapa saja…

Aku membebaskanmu untuk melakukan apa saja,
Ke tempat kerja jam berapapun kau ingin, dan tak bertanya
Untuk apa uang yang kau belanjakan?

Bukan, bukan aku tak peduli, tapi aku tak ingin menguasai kehidupanmu
Aku hanya ingin engkau menjadi dirimu sendiri, tanpa merasa terpenjara di duniamu
Galau katamu, cengeng ejekmu
Itulah aku yang mencoba mengerti egoismu
Maka mulailah kita beradu pendapat meributkan hal-hal kecil
Untuk pembenaran ego masing-masing

Sungguh, aku tak ingin jadi seperti yang kau ucapkan
Apalagi menyiakan waktu yang kita punya untuk saling berdiam kata
Yang perlu kita pahami adalah saat-saat untuk membahagiakan kita
Apakah sulit permintaanku? Hanya meminta sedikit masa dari waktu yang kau punya?
Namun, adakah engkau sedikit saja mengerti, sayang? Rumah bukan sekedar tempat singgah bermalam dan aku bukan hanya teman tidur!
Gunakan rasamu yang selalu kau agungkan! Di mana rasamu kini? Bahkan keberadaanmu pun aku tak tahu?

For My Big Brother

Terkadang kita terlalu sibuk mengurusi diri sendiri, hingga lupakan orang-orang terdekat

Apa kabarmu di sana, abang?
Hidup sendiri di tanah orang, bagaimana kau melewati hari-harimu?
Sedangkan adik-adikmu ini sudah punya teman hidupnya masing-masing

Maaf, ya.. Jarang menanyakan kabar.
Waktu kami banyak tersita dengan berbagai urusan. 🙂

Suka ingat dengan kondisiku dulu, selalu ditinggal sendiri di rumah.
Mengurus semuanya sendiri, mulai dari bisnis mama, rumah, kuliah…
Lalu terbiasa
Mencari bahagia dengan orang-orang dan benda-benda baru
Tak ada salahnya, sampai pada suatu titik nanti malah merasa kaku berada di tengah-tengah keluarga sendiri.

Sendiri itu terasa makin sepi, saat hanya ditanya kabar melalui sms, bbm, ataupun telepon..
Saat bertemu, rasanya jenuh.. Karena hanya ditanyakan hal yang itu-itu, selalu!

Kapan selesai kuliah?
Mana pacar?
Kapan nikah?

Hahahaha…
Kita itu mirip, bang!
Dulu aku juga melalui masa dan pertanyaan seperti itu.

Malas rasanya balas sms atau menjawab telepon yang ditanya itu lagi, itu lagi :’)
Sampai ditegur papa, “Kenapa ga pernah balas sms?”

Ah, mungkin terbiasa sendiri, terlalu sibuk dengan diri sendiri, merutuki diri yang selalu sendiri, bosan, jenuh…

Sesekali rindu bermain-main seperti masa kecil dulu. Tentu saja diselingi nasihat dan teguran-teguran dari papa.

Mungkin abang yang duluan lahir sudah hapal dan ‘bosan’?

Bukannya mau menilai, tapi… Aku yang lahir setelah abang saja rasanya muak.

Maka dari itu Abang, mulailah kehidupan dengan melakukan apa yang kita suka, tak perlu terlalu pusing dengan penilaian orang lain, nantinya takut mengambil langkah…

Carilah teman hidup yang kau suka, belajarlah kehidupan dari dia, belajar memimpin diri kita dan buat abang tentunya juga memimpin keluarga.

seru, lucu, haru…
Semoga cepat berjumpa, ya! 🙂
Oya, jaga kesehatan Abang..
Jangan lupa kasih kabar, kami di sini terutama Papa dan Mama merasa khawatir…

Mungkin liburan selanjutnya mengunjungi Abang, setelah kemarin baru pulang dari rumah adek.

Mudah-mudahan punya rejeki yang baik ya, jadi bisa saling mengunjungi.

Sayang, Abang :*

My Wishes

Some people say tonight is a holy night
A holy day to pray and enchant God’s name
I’m here, try to ask and listen the answer
How’s God make our day peaceful
Create a rainbow among the rain and snows
Or present a baby for those who luckily

And I still try to ask Him
Asking for my wishes come true
To be better day by day
Be a friendly partner,
a lovely wife,
a great best friend,
a good mother for our children (later),
And a lovable one for my husband…

آمينَ

Selamat Malam Mama

Selamat malam mama..
Mungkin mama telah pulas dibuai mimpi atau
Terjaga karena setumpuk pekerjaan yang mama sukai
Anak perempuanmu ini masih saja seperti ini, sibuk dengan dunia sendiri

Selamat malam mama..
Hanya ucapan selamat hari ibu yang sempat ku kirimkan
Lewat pesan singkat seharga seratus dua puluh lima rupiah
Serta sedikit doa besertanya
Taklah berarti dibandingkan kasih sayang mama

Selamat malam mama..
Diusiamu yang lebih setengah abad,
Belumlah bisa kami yang baru meniti keluarga terencana,
Memberi pakaian indah ataupun cucu pertama untuk mama

Selamat malam mama..
Adalah kami yang sebesar ini masih mau merepotkan mama
Mengeluh ini itu tak tahu malu,
Bahkan meminta darimu sesuatu yang kami mau

Selamat malam mama..
Mama yang tak pernah sekalipun berkata kasar apalagi marah pada anak-anakmu
Mama yang selalu sabar melayani kami semua
Membuatkan kreasi makanan ketika kami mogok makan
Menghaluskan butiran obat yang diberi gula ketika kami demam
Ataupun menjahitkan baju dari perca agar kami juga punya pakaian baru

Selamat malam mama..
Seringkali aku yang telah tumbuh besar ini belum dewasa berkata-kata,
Bermanja-manja dalam bersikap,
Melakukan semuanya semauku

Selamat malam mama..
Seumur hidupku tak pernah ku dengar engkau berteriak marah
Malah aku yang terlalu banyak membuat kecewa
Hingga tanpa ku tahu, mungkin mama berurai air mata

Tidaklah lagi, ma..
Itu yang terakhir air mata kecewa mama karena kami.
Maafkanlah, maafkanlah kekanakan kami
Yang belum pernah merasa pahitnya menjadi orang tua ataupun
Luar biasa bahagia dipanggil ‘Mama’

Selamat malam mama..
Selamat hari ibu untuk mama
Setiap harinya..

08-Sekian-Sekian

BOOM!
Seperti ledakan kembang api yang meletup-letup, ketika mataku beradu pandang di raut wajahmu.
Kau, pramusaji di restauran Jepang bergaya bak geisha yang menghibur kaisar.
Aku, satu-satunya kaisar yang benar-benar jatuh hati pada budaknya.

Semalam, dua malam, … , tujuh malam berturut-turut dan ini malam terakhirku di kota ini. Kuberanikan mendekat, menyelipkan tips di sela-sela jemarinya. Dahinya sedikit berkerut, lembaran itu seharga makanan yang kupesan.

Semoga ia melihat angka-angka yang ku tulis di sana. Berharap ia akan menghubungi…

Senyumnya mengembang, dadaku berdesir, berlomba dengan derap jantung melihat bibir merah mungilnya terbuka, hendak mengucap kata…
“Mas… Ini nomor hpnya kosong delapan sekian sekian? Gitu aja?”
Aku melongo, memandang tulisanku: 08-Sekian-Sekian

Harus Terpisah?

“Kehilangan yang sesungguhnya adalah ketika kamu kehilangan hal yang kamu cintai melebihi dirimu sendiri.”

Percuma! Semua yang ku perjuangkan selama ini. Sedikit lagi ku raih cita demi cinta tapi semua pergi dalam sekejap mata…

“Aku dilamar, Ndra”
Ucapmu di senja itu
“I’ve waited too long” bisikmu.
“Aku tak mengerti, Ina” balasku
“Aku telah terlalu lama menunggu kepastian darimu, ujung dari perjalanan kita, Ndra”
Kami menghela, bergantian mencari udara segar.

“Bukankah sudah kukatakan, setelah usahaku maju kau ku lamar?”

“Kapan, Ndra? Usahamu saja baru kau rintis, aku benci janji-janjimu. Lima tahun, Ndra… Sudah lima tahun kita begini!”

“Cukup rasanya kesempatan yang ku beri. Maaf, aku pergi, Ndra. Aku tak bisa kembali…”

Dua bulan kemudian…

Ah, Andra… Bahkan kaupun tak mau mencegahku ketika ku beranjak pergi. Padahal jika saja saat itu kau ucap ‘Will you marry me?’ Tentu saja aku akan pergi. Pergi menyusuri hari-hari bersamamu, merintis usaha kita bersama-sama, membangun keluarga yang telah lama terencana. Ternyata kau mundur dengan mudahnya, malah memilih menikah dengan janda, kau tahu? Belumlah aku menikah… Hanya sekedar mengingatkan, aku butuh kau lamar bukan sekedar jadi pacar.

‘Kau tak mau percaya bahwa aku wanita hebat yang mampu berjuang dari kehidupan sesederhana apapun. Tak perlu selalu kau manjakan sebab aku mengenalmu lebih dari kau mengenal dirimu.’

Sonnet: The Humming Bird

Humming bird, humming bird
Flying drowning in a morning
Waving the wings and singing
Spread the seed and feel weird

Why are the flowers stop blooming?
And the river loves to sit down
Did the stone make them fall down?
The bird keep asking, when the storm is begining…

Rain and thunder are making love
Birth the lighting bolts as the children
The flood comes quickly with the garbage

Poor humming bird needs to drink
Some honey from the blue pink
But the flowers ready to sink

SONETA: RINDU TERKATUNG

Malamkah kini tuanku?
Aku meraba-raba dalam gelap
Menggapai-gapai dalam harap
Merindu-rindu memecah bisu

Malamku, malammu, malam-malam para perindu
Menampar-nampar dada yang berdegup-degup
Mengecup hirup meletup-letup
Pecah, ruah bak tertusuk sembilu

Air mata tumpah-ruah membelah
Haus akan rindu dari cawan-cawan suka
Ya, tuan pecahlah hati membuncah

Rindu tak kunjung berjumpa rampung
Meraung-raung perawan dirajam rasa
Malam ini tubuh molek ditemukan tergantung

Someone Like You

Some people say, you have to forget the past
Others ask to hold on
Me, myself stand between them, can’t forget or hold on
Especially when I am fall down
October, October is my ruin month
No body has the perfect reason
Even God doesn’t know

Leave me, leave me alone…
I don’t need anyone
Kiss me, kiss me for the last time to end
End this suffering moment

You. Yes, you!
Only you! You knew the reason
Understand my passion, there’s no one like you…