JUST SHARE

Just Share

Part 1

sederhana saja, ketika seseorang memutuskan untuk menulis apa yang ada di pikirannya tujuannya hanyalah untuk berbagi. Agar yang membaca bisa memperoleh pelajaran yang mungkin akan sangat berharga bagi kehidupannya kelak.

Tak perlu terlalu jauh dan detail diceritakan, tapi untuk sekedar memberi background knowledge saja, bahwa penulis hanya manusia biasa yang saat menulis ini sedang berumur 25 tahun sekian bulan dan sejumlah hari. (hahaha.. memangnya apa yang bisa didapatkan dari anak ingusan seperti saya? Xixixixi)

Baiklah, bila ingin tetap membaca, anggaplah diri anda bodoh sebab hanya orang-orang bodoh yang mau tahu diri orang lain. Buktinya berjam-jam manusia menghabiskan waktunya untuk menatap layar. Entah itu layar tv, komputer, hp ataupun layar tancap demi meng-update berita terbaru dari artis ataupun sinetron serta gosip-gosip. Termasuk penulis banyak menghabiskan waktu untuk Facebook-an demi membaca status-status.  😛

Masih ingin membaca? Yang saya tulis di sini mungkin hanya hal sepele yang tak anda butuhkan, tapi saya cukup berterimakasih karena anda telah bersedia membaca sampai sejauh ini.

Saya dibesarkan di keluarga yang cukup. Alhamdulilah serba cukup. Ya.. meski saat kecil sempat juga berhemat tapi masih tetap bisa melanjutkan kehidupan.

Bukan saya mau menyalahkan didikan orang tua, tapi yang saya sadari sekarang adalah saya menjadi sosok manusia penakut, cengeng, plin-plan, tidak bisa mengambil keputusan, tidak tegas, dan tidak punya target dalam menjalani kehidupan. Nah?? Kalau untuk manusia-manusia yang optimis tentu segera berpikir: MATI SAJALAH KALAU BEGITU!!!

Hahahaha.. saya sempat berpikir juga seperti itu bahkan berusaha untuk mematikan diri. Tapi yang saya sadari adalah Tuhan saya, Allah itu Maha Penyayang. Jadi ia tetap memberikan saya kesadaran untuk menjalani kehidupan.

Toh disadari atau tidak, bila kita banyak-banyak memikirkan apa yang telah terjadi pada diri ini, itu semua semata-mata untuk menjadikan diri kita manusia seutuhnya. Loh, mengapa berkata begitu? Apakah selama ini kita setengah manusia? Bisa jadi ‘iya’ bisa juga ‘tidak’. Maksud saya untuk yang ‘tidak’ itu adalah bisa saja kita ini sebenarnya bukan manusia tapi setan ataupun hewan yang berwujud manusia. Mohon jangan tersinggung ya, saya tidak berniat untuk mengata-ngatai anda adalah hewan.

Kalaupun ada di antara anda yang berpikir, ah Tuhan tak sepenuhnya sayang pada diri anda. Wah, wah, wah.. saya sarankan anda segera merubah pemikiran anda tersebut sebab bagi saya, kalaulah pada saat saya ingin mematikan diri ini dulu dikabulkan oleh-Nya tentu saja saat ini anda tidak bisa membaca tulisan saya ini. Artinya mungkin anda akan melewatkan tulisan yang ‘ga jelas’ ini. Hehehe 😀

Uhmm.. bukan itu sih maksud sebenarnya. Yang saya maksudkan adalah kalau saya sudah tak berjasad tentu saya tak akan dipertemukan dengan orang-orang yang menyadarkan saya bahwasanya Allah itu benar-benar ADA dan tak akan meninggalkan makhluk-Nya, tak akan mengabaikan apalagi melupakan.

Wewww… orang-orang yang mana itu? Hebat sekali? Ckckckck… Ya tentu saja hebat, kalau anda masih penasaran siapa orang-orangnya ya tentu saja semua orang yang pernah dipertemukan dengan saya. Begitu juga bagi diri anda, semua orang yang telah dipertemukan dengan anda adalah orang-orang hebat yang telah dipilih Allah untuk menyadarkan anda. (ah, masa sih?)

Kalau anda tak percaya, saya beri saran lagi untuk kali ini anda percaya dulu, supaya anda tetap berninat untuk meneruskan membaca tulisan ini. >>> sedikit memaksa ^o^

Kalau kita runut dari awal kita dilahirkan, tentu kita akan memilih dilahirkan di keluarga yang ‘sempurna’ menurut pandangan mata anda, bukan? Bahkan mungkin juga anda mengharapkan terpandang di mata orang lain. Hayo ngaku?

Tapi kenyataanya yang sedang kita jalani sekarang ini adalah kita hanya dapat menjalankan takdir yang telah Allah beri kepada kita bahwa diri ini dilahirkan di tengah keluarga yang biasa-biasa saja. Bukan sebagai anak presiden (memangnya siapa yang tahu kalau nantinya ayah kita akan menjadi presiden?) atau anak konglomerat. Bisa jadi juga sebagai anak kolong melarat!

Saya bisa jamin bahwa kebanyakan dari kita, meskipun berada di keluarga yang berkecukupan tetap akan protes dengan Tuhan. ‘Ya Allah, kok hidup kaya’ gini banget sih? Dicemooh, diabaikan?’, ‘Ya Allah, aku pengen punya orang tua yang biasa-biasa aja yang ga terlalu sibuk dengan pekerjaan ini itu’ atau pun berdoa berlebihan ‘Ya Allah, berikanlah saya rezeki yang berlimpah untuk anak dan cucu, kasihan mereka kalau nanti ga bisa makan enak, naik mobil, jalan-jalan keluar negeri’, ‘Ya Allah, kok bukan si A saja yang jadi orang tua saya? Kenapa harus si B sih?’

Nah!! Kalau anda pernah mengalami atau berpikir kurang lebih mengenai hal-hal tersebut di atas, artinya anda beruntung. Sebab anda telah dipertemukan dengan orang-orang hebat yang bisa mengingatkan anda kepada yang memiliki surga, Allah. Kalau semuanya sesuai keinginan anda, bisakah anda menjamin diri anda bahwa anda akan selalu bersyukur ataupun mengingat ataupun mengembalikan segala sesuatunya pada Allah??? Jangan-jangan anda malah jadi manusia sombong yang lupa diri dan lupa pada Tuhan!

Tapi saya yakin kok, para pembaca yang budiman dan pakdiman (hehe) adalah manusia-manusia pilihan yang diberi karunia untuk selalu beribadah pada Allah. Amin.

*bengong beberapa saat* Wah, kok saya jadi stuck gini? Jadi intinya begini aja deh, kita wajib bersyukur atas apa yang terjadi pada diri kita selagi roh dan jasad ini belum terpisah. Selagi belum terlambat memperbaiki. Selagi jasad kita belum menghuni rumah 2×1 meter. Cukup itu saja. 😉

Lalu bagaimana dengan kejadian-kejadian buruk yang menimpa diri kita? Misalnya anda kecelakaan lalu kehilangan salah satu anggota tubuh anda ataupun anda sebagai perempuan kehilangan kehormatan karena pernah diperkosa ataupun terjerumus dalam hal-hal yang dipandang melanggar norma? Ya, syukuri saja. Bukankah kita tidak bisa mengulang kembali waktu? Bukankah nasi tidak bisa lagi kembali menjadi padi? Yang harus anda perjuangkan adalah bagaimana agar anda bisa memperbaiki diri di masa depan.

“Gimana bisa bersyukur sih mbak, kalau kasusnya seperti itu? Siapa sih yang rela??? Masa saya harus bersyukur karena dipertemukan dengan orang yang memperkosa saya? MBAK GILa YA??”

Waduh, sabar saudara-saudara. Sebenarnya yang ingin saya katakan di tulisan ini adalah, anda, saya, dan semua manusia memang harus mengakui bahwa Allah-lah yang berhak atas segala sesuatu. Bukankah semuanya yang ada di langit dan bumi ini adalah milik-Nya? Jadi kalau sewaktu-waktu Ia mengambil kembali milik-Nya, haruskah kita terus bersedih??

Memang sedikit lebih rumit untuk dijabarkan. Kalau kita ambil contoh di atas, kalau kita mau berpikir positif, Allah ingin mengajarkan kita dan menyadarkan diri ini bahwasanya manusia itu tidak ada yang benar-benar bersih. Sehingga nantinya kita tidak akan mencemooh orang-orang yang menghidupi dirinya dari melacurkan diri, merampok dan lain-lain. Bahkan kita akan merasa kasihan dan berniat untuk membantu mereka agar keluar dari ‘dunia’ itu. Bukan malah menjauhi mereka.

Lebih jauh lagi, kalau kita kaitkan antara perbedaan umat beragama. Tidak akan lagi, misalnya umat islam merasa jijik ketika melihat manusia yang menganut agama lain. (ups.. SARA>> cuma contoh ya, sebenarnya ga ky gitu 🙂 Bukankah dengan begitu akan tercipta keharmonisan dalam kehidupan yang selama ini kita impikan? Apalagi dengan saling membantu, tentu bukan tidak mungkin apa yang bangsa kita cita-citakan dalam UUD1945 selama ini akan tercapai?

Tentu saja kita akan benar-benar memaknai arti kemerdekaan. Merdeka dari rasa memiliki, merasa suci, merasa benar, merasa paling beriman dan alim, dst. Juga merdeka dari berbagai macam prasangka (yang kebanyakan adalah dosa), seperti menuduh orang lain sesat, gila, tidak beriman, dll.

>>>> tolong pikirkan sendiri ya, hal-hal yang dari diri kita yang berupa merasa-rasa ataupun prasangka-prasangka<<<<

Pokoknya yang ingin saya tekankan di sini adalah Allah lah segala-galanya yang meliputi segala sesuatu. Segala kebaikan itu datangnya dari Allah dan keburukan itu dari diri kita. Jadi mohon, jangan merasa-rasa. Hehehe….

Nah, kalau semua manusia memiliki kesadaran, saya yakin infotainment nantinya tidak ada lagi, sinetron-sinetron perebutan harta dan cinta tak ada lagi. Lalu apa yang ada? HENING.

Mungkin terdengar aneh, ataupun terdengar ‘kayaknya kehidupan bakal FLAT banget ya? Ga ada tantangan dan hiburan?’ ya begitulah adanya… tapi apakah itu tidak cukup? Bukankah itu yang kita inginkan? Hidup damai, aman, nyaman, tentram…?

Jadi? Mohon komentarnya aja deh… moga anda bisa merasakan kedamaian itu. Cayoo.. J

Bengkulu, 19 Agustus 2010, selesai ditulis pukul 13:25

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s