LYRIC

REFLECTION

Look at me

You may think you see who I really am

But you’ll never know me

Ev’ry day

It’s as if I play a part

Now  I see

If I wear a mask

I can fool the world

But I cannot fool my heart

Who is that girl I see?

Staring straight back at me?

When will my reflection show

Who I am inside?

I am now

In a world where I have to hide my heart

And what I believe in

But somehow I will show the world

What’s inside my heart

And be loved for who I am

Who is that girl I see

Staring straight back at me?

Why is my reflection someone I don’t know?

Must I pretend that I’m

Someone else for all time?

When will my reflection show

Who I am inside?

 

There’s a heart that must be free to fly

That burns with a need to know the reason why

Why must we all conceal

What we think

How we feel

Must there be a secret me

I’m forced to hide?

I won’t pretend that i’m

Someone else

For all time

When will my reflection show

Who I am inside?

When will my reflection show

Who I am inside?

Advertisements

FLASH FICTION

Kata Orang-orang: Makan tu Cinta!

Menikah! Setiap kali mendengar kata itu, kepalaku yang sudah dua puluh delapan ini mau pecah. Selama empat tahun ku kenalkan teman priaku yang serius ingin menikahiku tapi tetap tidak disetujui karena alasan yang sama.

“Apa yang kau harapkan dari dia? Pengurus partai gurem??”

“Pilihlah saja pria yang berstatus pegawai negeri” itu kata-kata Papa yang tak pernah ku lupa.

Kota kecil ini memang begitu mengagungkan status PNS, yang berarti status sosial.

Rasanya semakin parah dunia ini, kalau rezeki hanya diukur dari jaminan pegawai negeri yang kerja ataupun tidur tetap digaji!

 “Bandrol CPNS 80-170 Juta”

Headline surat kabar di kotaku seperti mengejek.

Aku mengalihkan pandangan dari wajah itu…

“aku usahakan” katanya dengan perlahan.

“De… semua formasi untuk jurusanku di propinsi dan kabupaten sudah ‘terisi’. Gimana?”

Aku tahu, itu artinya meskipun nantinya tertulis jumlah CPNS yang dibutuhkan tapi semua ‘kursi’ itu sudah di-booking, dibayar lunas di muka bukan sistem kredit seperti beli mobil.

Aku menatap kosong layar hpku, lalu menulis: ikut aja dulu tesnya. Semoga ada jalan.

Pagi ini Papaku membangunkanku dengan semangat, menggedor pintu di pagi buta lalu menyodorkan koran pengumuman kelulusan tes CPNS.

 “…makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (Al Imran:37)

Aku memandang priaku yang secara agama telah sah menjadi suamiku itu sedang menanam sayuran. Jauh pikiranku melayang pada sosok Papa. Ah.. Papa, aku janji aku dan priaku pasti akan segera kembali menjumpaimu untuk bakti kami. Semoga Papa nanti sudah siap menerima kami sebagai anak-anak Papa (lagi)…

JUST SHARE

Just Share

Part 1

sederhana saja, ketika seseorang memutuskan untuk menulis apa yang ada di pikirannya tujuannya hanyalah untuk berbagi. Agar yang membaca bisa memperoleh pelajaran yang mungkin akan sangat berharga bagi kehidupannya kelak.

Tak perlu terlalu jauh dan detail diceritakan, tapi untuk sekedar memberi background knowledge saja, bahwa penulis hanya manusia biasa yang saat menulis ini sedang berumur 25 tahun sekian bulan dan sejumlah hari. (hahaha.. memangnya apa yang bisa didapatkan dari anak ingusan seperti saya? Xixixixi)

Baiklah, bila ingin tetap membaca, anggaplah diri anda bodoh sebab hanya orang-orang bodoh yang mau tahu diri orang lain. Buktinya berjam-jam manusia menghabiskan waktunya untuk menatap layar. Entah itu layar tv, komputer, hp ataupun layar tancap demi meng-update berita terbaru dari artis ataupun sinetron serta gosip-gosip. Termasuk penulis banyak menghabiskan waktu untuk Facebook-an demi membaca status-status.  😛

Masih ingin membaca? Yang saya tulis di sini mungkin hanya hal sepele yang tak anda butuhkan, tapi saya cukup berterimakasih karena anda telah bersedia membaca sampai sejauh ini.

Saya dibesarkan di keluarga yang cukup. Alhamdulilah serba cukup. Ya.. meski saat kecil sempat juga berhemat tapi masih tetap bisa melanjutkan kehidupan.

Bukan saya mau menyalahkan didikan orang tua, tapi yang saya sadari sekarang adalah saya menjadi sosok manusia penakut, cengeng, plin-plan, tidak bisa mengambil keputusan, tidak tegas, dan tidak punya target dalam menjalani kehidupan. Nah?? Kalau untuk manusia-manusia yang optimis tentu segera berpikir: MATI SAJALAH KALAU BEGITU!!!

Hahahaha.. saya sempat berpikir juga seperti itu bahkan berusaha untuk mematikan diri. Tapi yang saya sadari adalah Tuhan saya, Allah itu Maha Penyayang. Jadi ia tetap memberikan saya kesadaran untuk menjalani kehidupan.

Toh disadari atau tidak, bila kita banyak-banyak memikirkan apa yang telah terjadi pada diri ini, itu semua semata-mata untuk menjadikan diri kita manusia seutuhnya. Loh, mengapa berkata begitu? Apakah selama ini kita setengah manusia? Bisa jadi ‘iya’ bisa juga ‘tidak’. Maksud saya untuk yang ‘tidak’ itu adalah bisa saja kita ini sebenarnya bukan manusia tapi setan ataupun hewan yang berwujud manusia. Mohon jangan tersinggung ya, saya tidak berniat untuk mengata-ngatai anda adalah hewan.

Kalaupun ada di antara anda yang berpikir, ah Tuhan tak sepenuhnya sayang pada diri anda. Wah, wah, wah.. saya sarankan anda segera merubah pemikiran anda tersebut sebab bagi saya, kalaulah pada saat saya ingin mematikan diri ini dulu dikabulkan oleh-Nya tentu saja saat ini anda tidak bisa membaca tulisan saya ini. Artinya mungkin anda akan melewatkan tulisan yang ‘ga jelas’ ini. Hehehe 😀

Uhmm.. bukan itu sih maksud sebenarnya. Yang saya maksudkan adalah kalau saya sudah tak berjasad tentu saya tak akan dipertemukan dengan orang-orang yang menyadarkan saya bahwasanya Allah itu benar-benar ADA dan tak akan meninggalkan makhluk-Nya, tak akan mengabaikan apalagi melupakan.

Wewww… orang-orang yang mana itu? Hebat sekali? Ckckckck… Ya tentu saja hebat, kalau anda masih penasaran siapa orang-orangnya ya tentu saja semua orang yang pernah dipertemukan dengan saya. Begitu juga bagi diri anda, semua orang yang telah dipertemukan dengan anda adalah orang-orang hebat yang telah dipilih Allah untuk menyadarkan anda. (ah, masa sih?)

Kalau anda tak percaya, saya beri saran lagi untuk kali ini anda percaya dulu, supaya anda tetap berninat untuk meneruskan membaca tulisan ini. >>> sedikit memaksa ^o^

Kalau kita runut dari awal kita dilahirkan, tentu kita akan memilih dilahirkan di keluarga yang ‘sempurna’ menurut pandangan mata anda, bukan? Bahkan mungkin juga anda mengharapkan terpandang di mata orang lain. Hayo ngaku?

Tapi kenyataanya yang sedang kita jalani sekarang ini adalah kita hanya dapat menjalankan takdir yang telah Allah beri kepada kita bahwa diri ini dilahirkan di tengah keluarga yang biasa-biasa saja. Bukan sebagai anak presiden (memangnya siapa yang tahu kalau nantinya ayah kita akan menjadi presiden?) atau anak konglomerat. Bisa jadi juga sebagai anak kolong melarat!

Saya bisa jamin bahwa kebanyakan dari kita, meskipun berada di keluarga yang berkecukupan tetap akan protes dengan Tuhan. ‘Ya Allah, kok hidup kaya’ gini banget sih? Dicemooh, diabaikan?’, ‘Ya Allah, aku pengen punya orang tua yang biasa-biasa aja yang ga terlalu sibuk dengan pekerjaan ini itu’ atau pun berdoa berlebihan ‘Ya Allah, berikanlah saya rezeki yang berlimpah untuk anak dan cucu, kasihan mereka kalau nanti ga bisa makan enak, naik mobil, jalan-jalan keluar negeri’, ‘Ya Allah, kok bukan si A saja yang jadi orang tua saya? Kenapa harus si B sih?’

Nah!! Kalau anda pernah mengalami atau berpikir kurang lebih mengenai hal-hal tersebut di atas, artinya anda beruntung. Sebab anda telah dipertemukan dengan orang-orang hebat yang bisa mengingatkan anda kepada yang memiliki surga, Allah. Kalau semuanya sesuai keinginan anda, bisakah anda menjamin diri anda bahwa anda akan selalu bersyukur ataupun mengingat ataupun mengembalikan segala sesuatunya pada Allah??? Jangan-jangan anda malah jadi manusia sombong yang lupa diri dan lupa pada Tuhan!

Tapi saya yakin kok, para pembaca yang budiman dan pakdiman (hehe) adalah manusia-manusia pilihan yang diberi karunia untuk selalu beribadah pada Allah. Amin.

*bengong beberapa saat* Wah, kok saya jadi stuck gini? Jadi intinya begini aja deh, kita wajib bersyukur atas apa yang terjadi pada diri kita selagi roh dan jasad ini belum terpisah. Selagi belum terlambat memperbaiki. Selagi jasad kita belum menghuni rumah 2×1 meter. Cukup itu saja. 😉

Lalu bagaimana dengan kejadian-kejadian buruk yang menimpa diri kita? Misalnya anda kecelakaan lalu kehilangan salah satu anggota tubuh anda ataupun anda sebagai perempuan kehilangan kehormatan karena pernah diperkosa ataupun terjerumus dalam hal-hal yang dipandang melanggar norma? Ya, syukuri saja. Bukankah kita tidak bisa mengulang kembali waktu? Bukankah nasi tidak bisa lagi kembali menjadi padi? Yang harus anda perjuangkan adalah bagaimana agar anda bisa memperbaiki diri di masa depan.

“Gimana bisa bersyukur sih mbak, kalau kasusnya seperti itu? Siapa sih yang rela??? Masa saya harus bersyukur karena dipertemukan dengan orang yang memperkosa saya? MBAK GILa YA??”

Waduh, sabar saudara-saudara. Sebenarnya yang ingin saya katakan di tulisan ini adalah, anda, saya, dan semua manusia memang harus mengakui bahwa Allah-lah yang berhak atas segala sesuatu. Bukankah semuanya yang ada di langit dan bumi ini adalah milik-Nya? Jadi kalau sewaktu-waktu Ia mengambil kembali milik-Nya, haruskah kita terus bersedih??

Memang sedikit lebih rumit untuk dijabarkan. Kalau kita ambil contoh di atas, kalau kita mau berpikir positif, Allah ingin mengajarkan kita dan menyadarkan diri ini bahwasanya manusia itu tidak ada yang benar-benar bersih. Sehingga nantinya kita tidak akan mencemooh orang-orang yang menghidupi dirinya dari melacurkan diri, merampok dan lain-lain. Bahkan kita akan merasa kasihan dan berniat untuk membantu mereka agar keluar dari ‘dunia’ itu. Bukan malah menjauhi mereka.

Lebih jauh lagi, kalau kita kaitkan antara perbedaan umat beragama. Tidak akan lagi, misalnya umat islam merasa jijik ketika melihat manusia yang menganut agama lain. (ups.. SARA>> cuma contoh ya, sebenarnya ga ky gitu 🙂 Bukankah dengan begitu akan tercipta keharmonisan dalam kehidupan yang selama ini kita impikan? Apalagi dengan saling membantu, tentu bukan tidak mungkin apa yang bangsa kita cita-citakan dalam UUD1945 selama ini akan tercapai?

Tentu saja kita akan benar-benar memaknai arti kemerdekaan. Merdeka dari rasa memiliki, merasa suci, merasa benar, merasa paling beriman dan alim, dst. Juga merdeka dari berbagai macam prasangka (yang kebanyakan adalah dosa), seperti menuduh orang lain sesat, gila, tidak beriman, dll.

>>>> tolong pikirkan sendiri ya, hal-hal yang dari diri kita yang berupa merasa-rasa ataupun prasangka-prasangka<<<<

Pokoknya yang ingin saya tekankan di sini adalah Allah lah segala-galanya yang meliputi segala sesuatu. Segala kebaikan itu datangnya dari Allah dan keburukan itu dari diri kita. Jadi mohon, jangan merasa-rasa. Hehehe….

Nah, kalau semua manusia memiliki kesadaran, saya yakin infotainment nantinya tidak ada lagi, sinetron-sinetron perebutan harta dan cinta tak ada lagi. Lalu apa yang ada? HENING.

Mungkin terdengar aneh, ataupun terdengar ‘kayaknya kehidupan bakal FLAT banget ya? Ga ada tantangan dan hiburan?’ ya begitulah adanya… tapi apakah itu tidak cukup? Bukankah itu yang kita inginkan? Hidup damai, aman, nyaman, tentram…?

Jadi? Mohon komentarnya aja deh… moga anda bisa merasakan kedamaian itu. Cayoo.. J

Bengkulu, 19 Agustus 2010, selesai ditulis pukul 13:25

MA’RIFAT

Iblis itu sebutan untuk hati yang tidak tunduk kepada kebenaran.

Setan itu sebutan untuk pikiran yang mengarah kepada perbuatan keji dan mungkar.

Jin itu sebutan untuk nyali yang ciut sehingga takut untuk beribadah kepada Tuhan.

Semuanya telah ada di dalam diri. Tinggal sekarang kita yang menguasai mereka atau kita yang dikuasai.

 

Kebenaran, kedamaian dan kebahagiaan tidak akan kita peroleh secara sempurna sebelum kita membersihkan diri dari tujuh kotoran jiwa:

  1. Keangkuhan,
  2. Ketamakan,
  3. Kedengkian,
  4. Kekikiran,                            Rumusan Setan ——–>  Rumusan Malaikat  (Kebalikan)
  5. Permusuhan,
  6. Kemalasan, dan
  7. Semua hasrat buruk.

 

RASA

Senin, 22 Maret 2010 (02.00 a.m.)

Segala yang telah terjadi membuatku selalu bertanya-tanya.

Makna apa yang ingin Engkau ajarkan padaku Ya Allah?

Semuanya mengenai hati…

Rasa..

Bahkan harapan.

Putus asa.

Bahagia

Maupun hinaan…

Terkadang perih dan menyakitkan.

Meskipun tak ku ingkari, Engkau berikan tawa di sela-sela air mata itu.

Ku mohon untuk selalu menuntunku.

Dekatkanlah aku pada mereka yang bisa membantuku selalu mengingatMu.

Jauhkanlah aku dari mereka yang akan menjadikanku lupa kepadaMu.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

 

Minggu, 28 Maret 2010 (22:30)

Bila engkau berada di posisiku. Apa yang akan engkau lakukan?

Sungguh dengan begini aku tak terlalu larut dalam air mata.

Meski ku tahu tlah ku ingkari rasa.

Maaf bila kau merasa tak dianggap.

Benar adanya bahwa aku telah letih mengikuti langkahmu.

Aku tak mengerti dengan semua pemikiranmu.

Selalu saja kau menangkan keinginanmu.

Aku mulai lelah…

Tak tahu apakah masih sanggup ku tuk melangkah bersamamu!!

“sebenarnya ku tak ingin berada di sini di tempat jauh dan sepi memisahkan kita.

Ku berharap semuanya pasti akan berbeda meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi…

Aku tak mengerti apa yang mungkin terjadi. Sepenuh hatiku, aku tak mengerti… (padi)”

Allah, buatlah aku memahami arti rasa ini.

Senin, 29 Maret 2010 (05:39)

Cukuplah Engkau saja Ya Allah…

Selama ini aku terlalu bodoh karena melupakanmu.

Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, PERIH…

Apa yang ku harapkan dari makhluk Mu?

 

Minggu, 18 April 2010

Bila telah ku sakiti rumah Mu yang lain, maka ku mohon sembuhkanlah ya Allah..

Hiburlah dengan semua yang terbaik untuknya.

Tak pernah ku inginkan hal ini.

Hanya Engkaulah yang mengetahui segala yang terbaik untuk umatMu.

 

Senin, 26 April 2010 (19:19)

Allah, sungguh aku hanyalah makhluk yang tak mengetahui apa-apa

Maka tunjukilah aku di jalan lurus Mu

Allah, sesungguhnya aku tak mengerti apa-apa akan kehendak Mu

Maka ajarilah aku agar selalu ikhlas menjalani segala ketetapan Mu

Allah, janganlah Engkau jadikan hati ini condong kepada dunia

Dunia yang akhirnya menjadikan aku lupa pada Mu

Dekatkanlah aku pada orang-orang dan lingkungan yang selalu bisa mengingatkanku

akan keber-ADA-an Mu

Allah, jadikanlah niat baik ini sebagai sarana untuk dekat pada Mu

Sesungguhnya aku malu meminta ini itu pada Mu

Maka tetapkanlah hati ini hanya pada Mu

Agar aku tak menduakan Mu

Agar aku tak menzalimi diriku sendiri

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Tak ada keraguan atas segala Rahmat Mu, segala Sifat Mu

Tak ada bantahan atas segala kalam Mu

Sesungguhnya ku yakini bahwa benar adanya Al Quran itu Engkau turunkan

Bukan untuk membuat kami susah, bahkan memudahkan segala urusan.

Allah, ampunilah jika aku melakukan hal-hal yang Engkau larang

Ingatkan aku bila aku mulai menjauh, tegurlah aku dengan cara Mu

Semoga Engkau mengabulkan segala pintaku yang mungkin sedikit serakah ini

Berilah jawaban atas segala tanya

Teguhkanlah hati pada satu ketetapan yang telah Engkau pastikan

Terbaik untukku.

Amin ya Rab…

 

Selasa, 06 Oktober 2010 (05:30)

Dosakah aku mencintaimu?

Mendampingimu?

Menginginkanmu?

Aku menjadi diri sendiri

Tak peduli apa kata dunia

Ku nanti hari ketika cinta datang

Cinta menang

Jadi sayangku bertahanlah

Bila terkadang mulutnya kejam

Peluklah aku jangan menyerah

Mereka bukan hakim kita

Bintang yang mempertemukan kita

Cinta yang mempertahankan kita

Oh Tuhan dengarkan doa dari cinta yang terlarang

Rasa yang mempersatukan kita

Cinta yang mempertahankan kita

Oh Tuhan dengarkan doa dari cinta yang terlarang

Cinta dan rasa bersatu di doa

Berharap cinta kita yang kan menang

Berharap cinta kita yang kan menang

 

Jumat, 06 Mei 2011 (22:54)

Taukah kau?

Mempertahankan itu jauh lebih sulit dari meraih…

Apa yang tak ku  beri untukmu?  Agar engkau  tetap  bersamaku?

Semua…  tak  ada lagi yang tersisa, bahkan untuk diriku sendiri…

Mungkin kita telah sama-sama letih menjalani ini,

Karena masing-masing dari kita merasa telah memberikan semua, yang terbaik.

Sungguh, rasa yang murni itu tak pernah membenci..

Tak pernah menghitung-hitung apa yang telah diberi.

#sebulan8tulisan

Namaku Muhammad Iqbal, siswa kelas 9 di sebuah sekolah menengah pertama di kota kecil, Bengkulu. Aku anak pertama, dua adik perempuanku berumur 6 tahun dan 6 bulan.
Ayah menghidupi kami dengan cara berjualan pempek setiap harinya. Aku dan ibu tentu saja selalu membantunya. Setiap pukul 4 pagi, aku harus bangun untuk membantu membuat pempek, ketika subuh tiba pempek-pempek itu sudah mulai digoreng.
Terkadang aku mengeluh, seharusnya seusiaku tak perlu bangun sepagi ini untuk bekerja. Akibatnya pagi-pagi ketika sekolah, aku sering mengantuk di kelas dan semua guru menegur karena aku dianggap tidak memperhatikan pelajaran. Kenakalanku seperti murid normal lainnya, tidak membuat tugas, pr, dan sekali-sekali menjahili teman. Dihukum itu biasa dan bukan hal yang baru. Tapi semenjak kelas 9 ini, orangtua dan guru-guru di sekolah mulai ketat peraturannya, aku mau tak mau harus ikut aturan dan memperbanyak belajar.
Bosan kerap melanda diriku, bangun pukul 4 pagi dan dari pukul 7 sampai pukul 5 sore sudah ada di sekolah itu sesuatu yang cukup membuat kepalaku mau meledak.
Alhasil sebagai hiburan, aku dan teman-teman seringkali menonton dan sesekali ikut balap sepeda motor di sirkuit non permanen.
Hingga beberapa hari menjelang ujian praktek sekolah, sesuatu yang benar-benar mengubah hidupku terjadi padaku…
Aku tak perlu lagi bangun di pagi buta dan membantu orangtuaku bekerja, pihak sekolahpun mengizinkan aku tidak belajar sementara waktu, dan… Aku tak akan bisa lagi bersenang-senang ikut balap sepeda motor.
***
Saat akan berangkat menuju kolam renang untuk mengambil nilai harian olahraga, motor yang kukendarai dengan temanku terpaksa memotong truk yang berhenti mendadak, sementara dari arah berlawanan mobil minibus melaju kencang. Bump!! Aku dan temanku terseret beberapa meter, temanku terhempas di sebatang pohon di pinggir jalan dan malang bagiku, tubuhku yang kecil masuk ke kolong mobil dan… Kaki kananku dua kali terlindas mobil, rasanya sakit sekali!
Satu yang pantas aku syukuri, Tuhan masih memberikanku kesempatan hidup. Kami segera dibawa ke rumah sakit terdekat oleh warga sekitar, supir minibus diamuk masa dan dibawa ke polsek, orangtuaku datang beberapa menit kemudian. Tanpa banyak kata, aku segera dibawa ke IGD, setelah diperiksa akhirnya diputuskan kaki kananku harus segera diamputasi. Tidak ada pilihan lain, kaki kananku remuk! Bila tidak dilakukan, akan membusuk dan menjalar semakin lebar.
Sakit, perih, bingung, sedih, marah! Semua rasa berkecamuk di diriku. Aku masih SMP, usiaku baru 15 tahun, setelah ini aku mau masuk SMA dan punya pacar, adik-adikku masih kecil dan aku anak lelaki satu-satunya di keluarga. Seharusnya masa depanku panjang, tapi.. hidup hanya dengan satu kaki? Aku tak bisa dan tak biasa!
Tiga hari setelah kejadian, aku masih tak percaya. Bagaimana aku sekolah? Bagaimana dengan calon pacarku? Lalu dengan semua kegiatan anak-anak normal lainnya? Aku takut tak bisa meraih semua keinginanku, aku benci melihat keadaanku.
“Iqbal” suara itu! Aku terhentak dari tidurku, satu persatu ku lihat wajah teman-teman satu kelasku, Fauzi, Guntur, Widia, Nur, Tyza, Bobby, Koko… dan di luar sana Ria, Dea, Feran, Andri, semua datang menjenguk. Juga wali kelas dan beberapa guru. Perasaanku makin tak karuan, nafasku sesak tersengal. Aku terpaksa pindah ruangan dan memakai selang oksigen. Semua gelap…
***
Hampir sebulan aku terbaring, menunggu luka bekas amputasiku kering. Sesekali aku membiasakan diri duduk di kursi roda. Dokter belum memperbolehkan aku memakai tongkat. Sekolahku terbengkalai, sementara ujian semakin dekat. Aku sudah tidak ikut ujian praktek, beberapa hari lagi akan ujian sekolah dan disusul ujian nasional. Terbayang olehku suasana kelas kami yang dicat bersama-sama warna pink kombinasi hitam, aku ikut mengecat bagian atas dan menempel hiasan di langit-langit. Lalu tanaman kangkung kami di depan kelas, juga tangga-tangga di samping keran air tempat kami sering bermain. Ah.. Aku rindu semuanya!
***
Di hadapanku sudah ada buku-buku dan alat tulis, perlahan ku selesaikan semua tugas dari guruku. Kemarin temanku datang, membawa sejumlah tugas yang harus ku selesaikan. Nanti sore ia datang lagi mengambil tugasku yang sudah harus selesai. Begitu setiap harinya. Jadi aku tak ketinggalan pelajaran dan mudah-mudahan aku bisa mengikuti ujian lalu lulus.
***
“Jangan putus asa. Kamu belajar di rumah ya, nanti datang ke sekolah saat ujian saja. Terus, tiap harinya nanti teman kamu datang ke rumah untuk belajar bersama dan membawa tugas-tugas dari sekolah. Kamu kerjakan saja semuanya…” Ucapan walikelas ku terngiang di telinga. Aku menatap bangga pada selembar kertas. Aku lulus dengan hasil yang lumayan. Setelah ini aku akan masuk SMA, meskipun dengan tongkat aku yakin teman-temanku sama bahkan lebih baiknya dari yang sekarang. Juga guru-guruku nantinya, pastilah lebih memperhatikan aku.
***
When You Believe

Many nights we’ve prayed
With no proof anyone could hear
In our hearts a hopeful song
We barely understood
Now we are not afraid
Although we know there’s much to fear
We were moving mountains long
Before we knew we could

( chorus )
There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
It’s hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you believe
Somehow you will
You will when you believe

In this time of fear
When prayer so often proves in vain
Hope seems like the summer birds
Too swiftly flown away
Yet now i’m standing here
My heart’s so full, i can’t explain
Seeking faith and speaking words
I never thought i’d say

( repeat chorus )

They don’t always happen when you ask
And it’s easy to give in to your fears
But when you’re blinded by your faith
Can’t see your way through the rain
Honesty will reveal all
When hope is very near
***
Based on True story
Inspired by “When You Believe” Whitney Houston and Mariah Carey
Author: @ara_damiril

Posted by Apura

fiksimini

20 July 2013
RT @ara_damiril: DI KEDAI LENTERA – Aku berjanji berjumpa dengan Jono, jodohku di halaman terakhir.

19 July 2013
RT @ara_damiril: Kusentuh wajahnya. Dingin. Pasti sistem pemanas tubuhnya masih rusak.

9 May 2013
RT @ara_damiril: PENJUAL ES DOGER KELILING – “Lama ga kelihatan, Bang?” – “Iya, kemarin habis jualan di bumi”

7 January 2013
RT @ara_damiril: SURGA ATAU NERAKA? | Ayah dan Ibu melambai dari tempat yang berbeda.

27 October 2012
RT @ara_damiril: PACAR BARU | Aku bingung untuk menciumnya. Keluaran tahun ini diciptakan tanpa bibir.

14 July 2012
RT @ara_damiril: BARTER | ‘Siapa bilang kuno? Buktinya Ibu ditukar dengan satu kursi jabatan.’

27 June 2012
RT @ara_damiril: PROMOSI • “Didesain bisa disimpan di dalam kantong lho, Pak.” Tanpa basa-basi ku kantongi SPG itu lalu ku bawa pulang.

27 February 2012
RT @ara_damiril: MENGINTIP DARI BILIK BEBAS ASAP ROKOK • Tiba-tiba alarm kebakaran berbunyi. Sial! Aku ketahuan cemburu.

13 January 2012
RT @ara_damiril: PERUTNYA SEMAKIN MEMBUNCIT “Aku khawatir anak gadis kita hamil, Pa.” “Tenang, Ma. Biar Papa yang bertanggung jawab.”

10 December 2011
RT @ara_damiril: Kami terlelap berpeluk. Aku memimpikan selingkuhanku, istriku mengigau memanggil nama pemuda tetangga di ujung jalan

17 November 2011
RT @ara_damiril: BULAN TAK KUNJUNG DATANG • Ia khawatir, kekasihnya tak
tahu jalan pulang. Perutnya semakin membesar.

7 September 2011
RT @ara_damiril: SULAP | Disayatnya perlahan pergelangan tangannya. Tiba-tiba seseorang menekan tombol FAST FORWARD.

8 July 2011
RT @ara_damiril: TOLONG TEPATI JANJI | ‘Seminggu lagi kita bertemu. Bila terlewat, empat tahun lagi, Sayang.’