#Day23: Pulang

Aku terseok-seok di antara rumpun liar yang bunganya menempel, menarik untuk tetap tinggal
Sedangkan mataku melekat pada keangkuhan bangunan tinggi yang menatap menyalang
Lengan lenganku terpasung sedemikian kuat pada dasi yang tak pernah ada, pada parfum yang tak wangi
Lidahku terjulur menetes tetes liur, membanjiri hingga semata kaki
Lambungku penuh dengan makanan lezat, ulat, belatung, tulang belulang, dan serangga kecil lainnya
Puluhan lalat, anjing, tikus pun enggan mendekat
Aku layaknya binatang yang lebih menjijikan dari lalat, yang lebih kotor dari anjing kurap, yang lebih rakus dari tikus kurus
Napasku tersengal-sengal mencoba lari dari dekapan sekapan
Hari pukul tiga pagi
Setapak itu kulihat benderang
Warnanya hijau kekuning-kuningan
Telapak itu surga yang telah lama aku tinggal
Kaki-kakinya adalah harapan
Aku lupa kapan terakhir kali berdoa dan menyebut surga
Suaranya adalah nyanyian bidadari yang menerbangkanku dari lubang tua berbau kecut
Aku hampir semaput ketika tangannya adalah sulur terpanjang yang pernah aku gapai
Matanya membimbing mataku melihat dunia selain bangunan sombong
Seolah lenganku dengan sukarela mengikuti tuntunan senyumnya
Sekali lagi kakiku terseok-seok melangkah
Kali ini melewati rimbun rumpun yang bunganya berganti embun
Pulang.

Day22: I’m (going to) mov(e)ing on

Beberapa hari eh hampir dua minggu ga nulis blog. Nge-draft dikit, stuck. Buka blog, nge-blank. Eaaa… ini efek galau ga ya? Galaunya bukan karena dia. Apalagi karena cinta. Tetapi gara-gara rumah baru. Mau pindahan kok ya tapi isinya ga keangkut semua? Bikin histeris sendiri. Pusing.

Sebentar, ini ngomongin pindah rumah yang mana? Ya, jadi ceritanya gini. Setelah bertahun-tahun nulis random di blog ini, saya mulai kepikiran punya domain sendiri. Apalagi setelah gabung di komunitas Blogger Bengkulu dan liat rata-rata temen udah punya domain pribadi, jadinya makin pengin deh… πŸ™‚
Akhirnya hari jumat kemarin beli tuh domain. Awalnya mau apura.com eh udah ada yang beli. Jadi, setelah dipikirin berbulan-bulan eh semingguan deh, terlintas nama domain lain, yaitu katapura.com/apura dan ngerasa langsung OKE NIH! Terus dibelilah domainnya. Katanya nih bisa langsung mindahin isi blog yang lama ke domain, nyatanya tak seindah yang dibayangin, bray! Banyak istilah-istilah yang saya tak mengerti. Buta sama sekali. Baca manual dan nanya-nanya ke online support juga bikin bingung. Alhasil selama dua hari belajar sana sini, saya tetap ga berhasil pindah rumah. Padahal rumah barunya udah ada… 😦

Besok mau nanya temen yang ahli aja ah… minta beliau beresin semuanya. Mentok deh ama yang ginian. Menguras tenaga dan pikiran. Ujung-ujungnya ga nulis-nulis. Semoga proses pindahannya segera selesai ya, biar saya ga galau lagi. Hihihihi

Semangat menulis!

#Day21: Notes Facebook

Hmm.. setelah bertahun-tahun akhirnya saya memutuskan memindahkan catatan galau saya di Facebok ke blog. nanti bakal di-posting beberapa kali ya. Terimakasih sudah membaca πŸ™‚

Love You (11 Februari 2009)

Ini untuk hatiku..
Ini juga untuk jiwaku..
Ini untuk semangat hidupku..
Untuk malam-malam yang terlewatkan.
Ini untuk rasaku, kata-kata yang tak mampu diucapkan.
Ini adalah aku saat rindu..
Dan aku saat jatuh hati.
Ini untuk mimpi-mimpi indah yang masih bermain bersama bintang, pun untuk harapan yang selalu melekat erat.
Ini untuk sesuatu yang tak pernah dibatasi ruang dan tak lekang oleh waktu.

tapi setelah dibaca-baca lagi, kok ya mendingan tulisan-tulisan itu tetap di sana. Ga jadi ah dipindahin semua di sini. Hahahahaha

#Day20: Lepuh Subuh

Tuhan itu egois
Dia memberi masalah agar kita mendekap pada-Nya
Agar kita tak melekat pada dunia
Manusia haruslah merdeka, tak terikat oleh perasaan dan pikiran
Hening, tenang dan mengenali diri-Nya

Pada lepuh subuh
Ada yang meneteskan airmatanya bermalam-malam pada jam yang sama, mengajukan permohonan yang juga sama

Pada lepuh subuh
Ada yang seolah lupa dengan dirinya
Dengan piring pecah yang berderai di rumah, dengan suara tangis yang belum juga reda

Dadaku bergetar dan terkoyak karena pikiran-pikiran buruk yang melintas, pada perasaan yang dirundung cemas

Aku harus tegas dan bergegas
Mengubur bekas bekas
Sebelum bayi merah itu bangun
Sebelum ia terkena racun

Langkah kakinya berat, terseret seret
Memutar kunci dan terbelalak kaget
Sudah berapa malam kau di atas sajadah ini?
Ia mengguncang-guncang tubuh berbalut mukena putih
Menelusuri jejak basah pada setiap benang kainnya
Menemukan airmata itu telah mengering

Tuhan mengabulkan permohonan di lepuh subuh
Permohonan yang sama di setiap malamnya
Ia yang didoakan mengingat kembali tentang dirinya
Pada piring pecah yang tak lagi ada
Pada tangis yang kini tiada

Pada lepuh subuh
Hening Bergeming

#Day19: Bulan, Embun, dan Kamu

Lagi mabuk puisi ini. Aduh, aduh… bawaannya pengin mengheningkan jiwa aja tiap dengar musikalisasinya yang dinyanyikan sama Manji.
Maaf ya kalau yang follow saya di beberapa akun medsos isinya cuma tetang puisi yang ini lagi dan lagi. Semoga ga bosan. Hahahaha…
Check this out, babe!
*semoga ga ada salah penulisan*

Bulan sembunyi di matamu.
Tiap-tiap membuka, malam
begitu cemerlang di hatiku.
Embun rimbun di bibirmu.
Tiap-tiap menganga, hening
meletus di jantungku.

Aku ingin bersepi-sepi, karena pada
tiap-tiap sepi kutemukan dirimu
lebih lama dari biasanya,
lebih senyap dari lepuh subuh,
lebih hening dari bening embun.

Tuhan, yang kamu cintai,
adalah yang secara rahasia
mengajariku cara mencintaimu

(Bulan, Embun, dan Kamu)

Pohon Duka Tumbuh di Matamu: Sehimpun Sajak Rindu
by Khrisna Pabichara

#Day18: Tanpa Judul

Aku jatuh cinta pada puisi
Pada kata kata yang berirama sama
Pada airmata yang bercampur suka
Aku jatuh cinta pada denting piano
Pada not balok yang ber-fa-so-la-si-do
Pada suara hati yang kadang seperti suara radio
Mengulang-ulang kata tapi tak kunjung bosan
Memutar lagu-lagu meski tak ada yang mendengarkan

Aku jatuh cinta pada rinaian hujan
Tempat di mana aku menari dan melompat di bawahnya
Mencoba lupakan sesuatu yang kusebut kenangan
Meskipun sampai sekarang aku masih saja mengingatnya, memutar kembali rekaman-rekaman yang tersimpan

Kau tahu? Jatuh cinta terkadang sangat menyakitkan, menyedihkan
Bahkan seringkai kita hanya berpura-pura membalutnya dengan nama kebahagiaan
Tapi aku tak ingin berhenti jatuh cinta
Aku ingin mengenangnya sekali lagi merasakan perihnya berkali-kali
Lalu menyakitinya tanpa henti.
Mati.

#Day17: Kematian yang Kunanti

Hari ini aku mendekap malam
Mengaburkan ingatan-ingatan temtang kamu
Mengubur pahitnya rindu dalam diam

Mataku basah adalah hal biasa
Bahkan aku hidup bersamanya bertahun-tahun lamanya
Tanpa ada seorangpun yang bertanya, mengapa?

Senyumku adalah hal terakhir yang kutahu tak bisa berhasil tanpamu
Meski hujanpun sebenarnya adalah hal terakhir yang kulihat kala itu

Aku menantikan kematian
Teman yang selama ini kuabaikan
Simpan saja surga dan nerakamu Tuhan
Aku ingin kembali padaMu, keabadian.

#Day16: Bukan Puisi Angin

Ini bukan puisi
Ini hanyalah bisikan angin yang kudengar tadi sore
Tentang seorang sahabat yang berjuang di negeri seberang
Tentang seorang teman yang berjuang di ruang perawatan

Angin sempat menitikkan air mata ketika menceritakannya
Sementara aku terdiam dalam pedih yang memejam

Lalu angin kembali bercerita tentang seorang kawan yang berjalan di antara bebatuan gunung, menyebrangi sungai kecil yang bermuara di lautan lepas
Yang sibuk mengatur napas mengalahkan cemas

Sementara aku terkenang pada pendakian pertama ketika masih berseragam SMA

Angin menepuk pipiku perlahan, menyadarkan dari lamunan
“Kau tahu tidak? Barusan kudengar ada yang bernyanyi bahagia. Dia bahagia merayakan kebersamaannya”
Rasanya aku mau bilang ‘Bodo amat, Ngin!’ Tapi kutepis jauh-jauh. Melipat tanganku dan mendoakan kebahagiaan

Angin tertawa sebelum melanjutkan celotehnya, katanya ia baru saja melewati barisan gigi yang rumpang dan mengibaskan rambut yang panjang mayang
Aku terbahak membayangkannya, lalu tersedak karena kopi hitam, sial!

Lantas angin terdiam, katanya ia punya sebuah rahasia tentang seorang teman yang belum ia kenal
Yang dia sendiri tak mampu melewatinya, bergeming di antara rambut hitamnya yang gelombang
Aku tersenyum mendengarkan, lantas berbisik padanya “Namanya Arby!”

Angin tertawa riang
Keluar masuk dari ruang
Kadang bau, kadang meriang
Ternyata angin sedang kasmaran

The end

. This is for my friends in TemanAnji. Thankyou Mas Arby for the challenge. This is your windy day